Prambanan Jazz Festival, "Si Anak Muda" dengan Cita-cita Besar

Prambanan Jazz Festival 2018 masih tertatih-tatih untuk menjadi gelaran yang serius menyajikan musik jazz.
Gloria N. Dolorosa
Gloria N. Dolorosa - Bisnis.com 21 Agustus 2018  |  09:29 WIB
Prambanan Jazz Festival,
Penampilan Boyzone di Prambanan Jazz 2018. - Bisnis/ Aprianus Doni Tolok

Bisnis.com, YOGYAKARTA - Prambanan Jazz Festival 2018 masih tertatih-tatih untuk menjadi gelaran yang serius menyajikan musik jazz.

Pada hari terakhir, Minggu (19/9/2018), Prambanan Jazz Festival (PJF) 2018 panggung special show menyajikan Dewa 19 yang berduet dengan Ari Lasso serta boyband asal Irlandia Boyzone. Dua kelompok musik itu sama sekali bukan masuk genre jazz. Boyzone kental dengan musik pop, sedangkan lagu-lagu Dewa 19 berbalut gaya pop rock. Maka, mencuat pertanyaan keseriusan pelaksana PJF 2018 menyajikan festival musik jazz.

Pada konferensi awal hari perdana gelaran, CEO Rajawali Indonesia Communication Anas Syahrul Alimi mengaku sulit membuat masyarakat mencintai musik jazz. Pada gelaran keempat PJF ini saja, porsi musik jazz, termasuk lagu asli yang diselingi sedikit banyak lantunan jazz, sebanyak 65%. Menurut Anas, ini sebuah kemajuan dibandingkan dengan PJF tahun lalu yang hanya 40%. 

"Strategi kita adalah mem-branding Prambanan Jazz. Tidak mudah grab masyarakat untuk mencintai jazz," kata Anas.

Menurutnya, porsi musik jazz bakal terus ditingkatkan pada tahun-tahun berikutnya. Strategi ini penting untuk membentuk branding PJF sebagai gelaran musik jazz. Anas mengatakan mimpi besar dia adalah membantu pemerintah membentuk branding budaya musik Indonesia.

Dia meyakini Indonesia butuh Indonesia wave yang memopulerkan budaya Indonesia, sama seperti yang dilakukan Korea Selatan lewat Korean Wave. Dengan branding tersebut, Indonesia bisa saja menghelat festival jazz yang mendatangkan artis besar dunia, layaknya Montreal International Jazz Festival di Kanada.

"Gelaran seperti ini bisa jadi diplomasi budaya negara kita di tingkat internasional," ucap Anas.

Salah satu tugas besar yakni menciptakan pasar penyuka jazz. Ketika pasar jazz sudah siap, Anas percaya perhelatan jazz macam PJF pasti didatangi pemusik jazz internasional serta masyarakat lokal dan luar negeri. Maka, yang dilakukan Rajawali Indonesia saat ini ialah bernegosiasi antara kondisi pasar jazz yang masih minim dengan cita-cita besar menggelar event musik jazz.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Prambanan Jazz

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top