Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Eksim pada Kulit Bayi dan Cara Mengatasinya

Bayi memiliki kulit yang lebih sensitif dibandingkan orang dewasa sehingga diperlukan perawatan khusus agar terhindar dari berbagai permasalahan pada kulit mereka. Setidaknya ada dua jenis persoalan kulit yang kerap dihadapi bayi dan anak-anak yaitu dermatitis atopik dan dermatitis popok.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 17 September 2018  |  00:00 WIB
Eksim pada Kulit Bayi dan Cara Mengatasinya
bayi tertidur - dailymail.co.uk
Bagikan

Bayi memiliki kulit yang lebih sensitif dibandingkan orang dewasa sehingga diperlukan perawatan khusus agar terhindar dari berbagai permasalahan pada kulit mereka. Setidaknya ada dua jenis persoalan kulit yang kerap dihadapi bayi dan anak-anak yaitu dermatitis atopik dan dermatitis popok.

Kedua permasalahan kulit ini dapat dialami karena berbagai hal. Pertama, bayi belum memiliki pelembab alami sebanyak orang dewasa. Hal ini menyebabkan ketika anak berada di ruangan ber AC atau pun terkena panas, maka kelembabannya akan lebih cepat terangkat.

Kedua, bayi belum memiliki melanosit sebanyak orang dewasa. Melanosit merupakan sel yang mengeluarkan melanin fungsinya untuk melindungi dari sinar ultraviolet.

Ketiga, kolagen dan serat pada bayi masih sedikit meskipun akan bertambah seiring dengan waktu. Sejalan dengan masih sedikitnya kolagen maka bayi akan lebih sensitif ketika terkena gesekan, bisa menimbulkan cidera, luka maupun lecet.

Keempat, kulit pada bayi masih tipis sehingga kelembabannya gampang menguap.

Adibusana Karya Monica Ivena, Feminin Sekaligus Kuat

Kelima, pH kulit pada bayi dan anak masih tinggi. “pH yang tinggi ini akan mengurangi proteksi kulit terhadap bakteri dari luar. Semakin banyak bakteri atas kulit, maka akan semakin mudah infeksi ke dalam kulit bayi,” ujar Matahari Arsy, dokter spesialis kulit dan kelamin pada bayi dan anak.

Matahari mengatakan bahwa kulit bayi dan anak tidak mendapatkan perhatian khusus, akan menimbulkan berbagai persoalan kulit. Dermatitis atopik dan dermatitis popok merupakan dua permasalahan yang paling banyak dialami bayi dan anak.

Menurutnya dermatitis atopic atau ruam (eksim) merupakan jenis penyakit kulit kronik karena sifatnya yang berulang dan dialami lebih dari empat minggu. Terdapat berbagai faktor yang menyebabkan dermatitis atopik ini yaitu lingkungan, imunologi, dan genetik atau keturunan sehingga jika orang tua mengalami eksim atopik, anak berisiko terkena penyakit kulit tersebut.

“Anak atau bayi yang terkena dermatitis atopik ini sistem imunnya kurang dan berbeda dari anak normal sehingga lebih sensitif jadi kalau ada sesuatu yang terkena kulit respon imunnya agak beda. Kalau keringat bisa gatal karena nggak ada perlindungan di kulit mereka,” ujarnya.

Ciri-ciri bayi dan anak yang terkena dermatitis atopik ialah kulit yang kering, merah, dan kadang membasah. Untuk anak usia 2 bulan hingga 2 tahun ruamnya akan berada di kedua pipi, leher, dada, siku, dan lutut. Anak usia 2 tahun hingga 10 tahun memiliki ciri kulit yang sama di area lipatan siku, lipatan lutut, dan pergelangan tangan.

Cek Fakta Mitos Kanker Darah yang Mematikan

“Biasanya memang di area yang suka bergesekan dengan lingkungan. Gesekan bisa membuat munculnya kemerahan.”

Untuk terapi yang harus dilakukan orang tua untuk merata kulit anak yang terkena dermatitis atopik ialah mandikan dengan air suhu biasa maksimal 10 menit sebab semakin lama bayi mandi maka kelembaban kulitnya akan semakin banyak yang terangkat, kemudian langsung pakaikan pelembab setelah mandi.

Hindari pewangi atau pemutih yang dapat mengiritasi anak atopik. Lalu gunakan pakaian yang lembut dan halus jangan gunakan pakaian berbahan wol karena ketika terjadi gesekan akan menyebabkan gatal.

“Jika sudah melakukan berbagai terapi tetapi ruam masih tetap muncul, orang tua harus konsultasi ke dokter kulit dan kelamin sehingga akan diberikan obat oles atau obat minum sesuai dengan kondisi anak saat itu,” ujarnya.

Penyakit kulit lainnya yang paling sering dialami bayi ialah dermatitis popok atau ruam popok. Ditandai dengan adanya ruam di area popok yang dipengaruhi berbagai faktor seperti iritasi dari urin dan feses, infeksi jamur, dan oklusi kulit yang menyebabkan maserasi.

“Jika popok terkena urin dan feses maka akan lembab ini menyebabkan kulit melunak sehingga tidak bisa melindunginya dari jamur dan infeksi. Apalagi ditambah adanya gesekan pada kulit semakin menimbulkan kemerahan,” ujarnya.

Oleh karena itulah orang tua harus mengganti popok bayi setiap 4 jam sekali atau sesudah bayi buang air besar. Lalu, cuci dengan air mengalir dan sabun bayi. Setelah itu, keringkan dengan menepuk halus menggunakan handuk lembut atau bola-bola kapas.

Joko Anwar: Film Horor Adalah Film Paling Jujur

POPOK SEKALI PAKAI

Matahari juga lebih menyarankan para orang tua untuk menggunakan popok sekali pakai dibandingkan popok kain. Sebab, sambungnya, popok sekali pakai memiliki daya serap yang lebih tinggi sehingga area selangkangan bayi akan tetap kering.

Berbeda dengan popok kain atau clodi yang tidak memiliki daya serap sehingga ketika bayi selesai buang air kecil apalagi buang air besar, area sekitar popok akan lembab. Jika tidak segera diganti, semakin rentan terkena ruam popok.

Sementara itu, Irma Dwi Oktaviani, Senior Brand Manager PT Unicharm Indonesia mengatakan saat ini pertimbangan para ibu dalam memilih popok sekali pakai mulai bergeser. Beberapa waktu lalu, popok dikatakan bagus jika tidak bocor dan memiliki daya serap yang tinggi karena bersentuhan sepanjang hari dengan bayi.

Putus Nyambung Saat Pacaran, Perlukah Konseling Pranikah?

Namun kini, para ibu kian menyadari pentingnya memilih popok yang lembut dan halus bagi buah hatinya. Apalagi bayi memiliki kulit yang sangat sensitif, setengah kali lebih tipis dibandingkan kulit orang dewasa.

Salah satu penyebab ruam popok ialah karena bahan yang tidak lembut untuk kulit bayi. Bahan yang lembut biasanya menggunakan bahan non woven, semacam kapas yang biasa digunakan untuk alat medis.

Kain non woven tersebut ternyata tidak hanya lembut tetapi juga memiliki daya serap air yang cukup tinggi, elastis, dan memiliki daya saring terhadap bakteri. “Meski sudah menggunakan bahan yang lembut dan berdaya serap tinggi, ibu harus memastikan popok bayi digunakan selama 4 hingga 5 jam sehingga bayi akan tetap nyaman,” ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kesehatan bayi
Editor : M. Taufikul Basari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top