Mahasiswa UMM Gagas Terapi Gen Atasi Kanker

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang menggagas terapi untuk mengatasi penyakit kanker sebagai alternatif kemoterapi.
Choirul Anam | 07 November 2018 08:42 WIB
Suasana praktikum di laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang. - Istimewa

Bisnis.com, MALANG — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang menggagas terapi untuk mengatasi penyakit kanker sebagai alternatif kemoterapi.

Radya Kusuma Ardianto dan Muhammad Mufti Al Anshori, masing-masing mahasiswa semester 3 dan 7 Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berhasil memenangkan kompetisi penulisan artikel ilmiah tingkat nasional pada ajang Biology Open House For Environmental Recognition (BIOSFER) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya, beberapa waktu lalu.

Radya dan Mufti merasa prihatin dengan mahalnya biaya kemoterapi bagi penderita kanker. Di sisi lain, saat ini, di Indonesia hanya ada kemoterapi  sebagai penanganan bagi pasien kanker.

“Sementara itu, metode ini memakan biaya yang teramat mahal karena tidak bisa sekali pengobatan,” ujar keduanya di Malang, Selasa (6/11/2018).

Dalam artikel tersebut, keduanya memperkenalkan pengobatan dengan Terapi Gen.

Terapi ini dilakukan lewat menyuntikkan gen P53 yang merupakan "malaikat penjaga" gen kepada pasien untuk menggantikan gen P53 yang tidak berfungisi secara normal sehingga tidak bisa memperbaiki sel-sel yang rusak. Dengan demikian, gen P53 pengganti tersebut bisa bekerja untuk memperbaiki sel-sel yang rusak. 

“Nah, untuk mengganti gen P53 ini perlu ‘kendaraan’. Kendaraan yang saya kemukakan di artikel saya itu menggunakan virus, namanya Adenovierus. Virus itu tepat sasaran karena langsung menginfeksi sel. Namun, yang kami pakai hanya bungkusnya saja, penyakit berbahayanya sudah dihilangkan terlebih dahulu,” terang Radya.

Dia menilai dunia medis di Indonesia cukup tertinggal. Pengobatan dengan metode seperti ini masih belum diterapkan atau masih dalam tahap penelitian.

 Ketika di Indonesia masih bergantung kepada obat, di luar negeri penelitian dan pengobatan yang dilakukan sudah mendalam hingga tahap molekuler atau langsung menyasar kepada akar permasalahannya.

“Ada atau tidaknya pengobatan seperti ini berawal dari kita siap atau tidak. Awalnya, kita mengajukan ide-ide seperti ini untuk menyiapkan. Ketika Indonesia sudah siap secara mental, mungkin bisa diimplementasikan meskipun ini harus menempuh waktu yang lama dan biaya yang mahal,” ucap Radya.

Dia menambahkan ketika seseorang terkena kanker, maka daya produktivitasnya menurun sehingga tidak bisa bekerja sebagaimana manusia normal lainnya.

Ketika tidak bisa mencari nafkah untuk menghidupi keluarga, maka keluarganyalah yang akan menanggung pengobatannya. Hal ini membuat pasien ketergantungan kepada keluarga dan obat dengan waktu yang cukup lama.

“Kita harus mulai mengobati pasien dengan sistem holistik komprehensif, yaitu pengobatan secara menyeluruh hingga sampai kepada kondisi ekonomi, produktivitas, dan kesehatan pasien. Bukan begitu sembuh langsung beres. Tapi aspek-aspek lain juga harus dipikirkan,” jelas Radya.
 

Tag : kanker
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top