Ini yang Harus Dilakukan Agar Bayi Prematur Tumbuh Normal & Cerdas

Bayi prematur harus terus dipantau karena ada masanya dia harus mengejar sehingga dapat tumbuh menjadi generasi berkualitas yang sama dengan anak normal pada umumnya.
Dewi Andriani | 25 Desember 2018 13:11 WIB
Seorang ibu menggendong bayinya. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Jumlah kelahiran bayi prematur dan bayi berat lahir rendah (BBLR) di Indonesia terbilang cukup tinggi. Indonesia bahkan menempati posisi kesembilan sebagai negara dengan kelahiran bayi prematur terbanyak di dunia.

Berdasarkan data dari World Health Organization pada 2013, setidaknya 15,5 per 100 kelahiran hidup di Indonesia terlahir sebagai bayi prematur. Artinya, dari 4,37 juta jiwa angka kelahiran, 675.700 jiwa di antaranya terlahir prematur.

Dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, Akira Prayudijanto mengatakan bayi prematur adalah bayi yang terlahir sebelum usia kehamilan ibu mencapai 37 minggu sehingga pembentukan organ-organ tubuhnya belum sempurna.

Biasanya, para bayi ini memiliki berat badan lahir rendah yakni di bawah 2.500 gram. Bayi-bayi tersebut membutuhkan perhatian ekstra karena kemampuan tubuh mereka saat dilahirkan tidak sekuat bayi normal pada umumnya.

Sejumlah gangguan yang kerap dialami bayi prematur antara lain pernafasan yang belum normal karena pembentukan paru-paru yang belum matang. Selain itu, mereka juga rentan menderita retinopathy of prematurity (ROP) karena retina yang belum sempurna.

Risiko lain yang dialami bayi prematur adalah kuning akibat kadar bilirubin yang tinggi dalam darah, serta rentan mengalami gangguan metabolisme dan pencernaan yang bisa menyebabkan berat badannya sulit naik.

“Semakin muda usia kehamilan, risikonya akan semakin besar sehingga mereka membutuhkan penanganan khusus dan harus ditempatkan di ruangan NICU [neonatal intensive care unit] atau di inkubator,” ujarnya.

Pada saat sudah di rumah, orang tua harus memberikan perawatan terbaik bagi si buah hati. Dapat dilakukan dengan perawatan metode kanguru atau kangaroo mother care (KMC) sehingga terjadi kontak kulit langsung dengan bayi.

Metode ini bisa membuat suhu badan menjadi lebih hangat dengan sentuhan kulit dari ibu maupun ayah. Selain itu, dapat membantu mempercepat kenaikan berat badan bayi, meningkatkan daya tahan tubuh bayi, serta membuat sistem pernapasan dan jantungnya menjadi lebih sehat.  

Di samping itu, orang tua juga wajib mengontrol tumbuh kembang bayi setiap bulan termasuk memberikan imunisasi lengkap karena sistem imun bayi yang belum sempurna sehingga mudah terinfeksi. Pemantauan tumbuh kembang juga bukan hanya berat badan dan tinggi badan saja tetapi juga lingkar kepada.

Berat badan menggambarkan kondisi gizi sedangkan tinggi badan perlu diukur untuk mencegah stunting. Bayi prematur memiliki risiko stunting sehingga jika salah dalam pengolahan dan pengembangannya, maka pertumbuhannya tidak akan secepat anak normal. Adapun lingkar kepala perlu diukur untuk melihat perkembangan volume otak anak.

“Bayi prematur ini harus terus dipantau karena ada masanya dia harus mengejar sehingga dapat tumbuh menjadi generasi berkualitas yang sama dengan anak normal pada umumnya. Tidak hanya sehat tetapi juga pintar dan cerdas,” tuturnya.

Menurut dokter sub spesialis perinatologi ini, pemantauan harus dilakukan secara berkala hingga anak berusia 18 tahun. Terutama pada saat usia 9, 18, 24 atau 30 bulan untuk uji tapis perkembangan, dan usia 3-4 tahun serta usia 6 dan 8 tahun untuk evaluasi perkembangan.

“Sebab, bisa saja di awal tidak ada masalah yang dihadapi tetapi ketika mulai sekolah dan menerima pelajaran yang kompleks, anak akan mengalami kesulitan dalam sisi kognitifnya,” tuturnya.

Asah, Asih, Asuh

Engkie Achmad Djauharie, dokter spesialis anak dari RSAB Harapan Kita mengatakan untuk mewujudkan generasi prematur yang berkualitas, orang tua juga harus dapat memenuhi kebutuhan dasar yang tepat bagi anak baik dari segi asah, asih, dan asuh.

Asuh didapatkan dari pemberian air susu ibu (ASI), nutrisi seimbang, imunisasi lengkap, serta pemenuhan kebutuhan sandang dan papan. Adapun asih diberikan orang tua melalui kasih sayang, dan asah berupa stimulasi anak sesuai usianya untuk mengasah kemampuan motorik, sensorik, kognitif, sosial, dan bahasanya.

Bayi prematur memang akan mengalami sedikit keterlambatan tetapi mereka akan mengejar ketertinggalan tersebut di saat usia 2 tahun. Namun, jika keterlambatan terus berlanjut, orang tua perlu melakukan intervensi dan lakukan pemantauan di klinik tumbuh kembang anak.

“Bagian otak pada anak masih akan terus berkembang sehingga perlu untuk terus dioptimalkan dan distimulasi,” ujarnya.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah bayi prematur perlu mendapatkan tambahan suplemen zat besi karena mereka memiliki kadar Hb yang rendah akibat pembentukan zat besi yang belum sempurna.

Sel darah merah yang dibentuk terlalu lama dan dipecah terlalu cepat sebelum supply-nya ada sehingga Hb semakin turun dan berisiko menimbulkan anemia pada anak.

Ketika terjadi defisiensi zat besi dan Hb turun maka oksigen di dalam darah pun akan berkurang. Hal ini berdampak pada tumbuh kembang anak sehingga berat badannya akan sulit naik, begitu pula dengan perkembangan kecerdasannya akan terhambat, termasuk dapat mengalami gangguan kekebalan dan mudah terinfeksi.

“Pemberian zat besi itu paling penting bagi bayi yang diberi ASI eksklusif dan sudah disarankan oleh IDAI [Ikatan Dokter Anak Indonesia]. Apalagi bayi prematur karena pembentukan organnya yang belum sempurna,” tuturnya.

Ketika bayi sudah di atas 1 tahun, kadar zat besi di dalam ASI menurun sehingga kekurangannya dikompensasi dari MPASI yang banyak mengandung zat besi seperti daging sapi, hati sapi, telur, kacang, bayam, dan sayur berdaun hijau lainnya.

Namun, bagi bayi prematur kebutuhan zat besinya lebih banyak sehingga suplemen zat besi menjadi penting untuk mendorong tumbuh kembangnya menjadi sempurna. Lakukan pengecekan haemoglobin pada anak apalagi jika terdapat permasalah dalam tumbuh kembangnya.

Selain itu, orang tua juga dapat memberikan suplemen penambah kalsium ketika anak sudah mulai banyak minum. Sebab, hampir sebagian bayi prematur pembentukan tulangnya belum matang sehingga pertumbuhannya tulangnya lebih rapi dari anak yang cukup bulan.

Tag : pengasuhan anak, bayi prematur
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top