Lady Gaga, A Star Is Born, dan Jenius Marketing

Tak semua orang tahu kalau Lady Gaga juga adalah pebisnis wanita sangat cerdas yang telah menginspirasi banyak pebisnis pemula dengan strategi promosi dan marketingnya yang persuasif.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 25 Februari 2019  |  11:37 WIB
Lady Gaga, A Star Is Born, dan Jenius Marketing
Lady Gaga di acara Grammy Awards, 10 Februari 2019 - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Lady Gaga benar-benar wanita serba bisa. Sudah dikenal sebagai penyanyi dan pianis kelas wahid, Gaga terjun ke dunia film dan menyuguhkan permainan yang membuahinya nominasi kategori bergengsi Aktris Terbaik Oscar 2019.

Melalui debutnya dalam film “A Star Is Born” ia dihujani dengan banyak apresiasi dan penghargaan. Dalam film itu, Gaga, yang berpasangan dengan Bradley Cooper, dikisahkan harus mengalami pasang surut hubungan pribadi saat kehidupan profesionalnya lepas landas.

Berbanding terbalik dengan cerita dalam film itu, berkarier menyanyi selama lebih dari satu dekade, Lady Gaga telah menjadi panutan bagi ribuan penggemar, membawa pulang banyak penghargaan, dan memengaruhi industri entertainment pada khususnya.

Sudah pasti dia adalah bintang internasional. Tapi tak semua orang tahu kalau Gaga juga adalah pebisnis wanita sangat cerdas yang telah menginspirasi banyak pebisnis pemula dengan strategi promosi dan marketingnya yang persuasif.

Namanya telah tersebar dalam segala hal mulai dari parfum, merek headphone sendiri, restoran, perjanjian eksklusif dengan kosmetik, hingga seri buku komik. Tak perlu susah payah menciptakan brand, Lady Gaga sendiri adalah brand.

Gaga tahu bagaimana menciptakan buzz entah itu melalui busana yang dikenakan maupun tingkah polah yang kontroversial, sehingga tidak ada keraguan jika ia memiliki kecakapan berbisnis dalam dirinya.

Pengalaman Dibully

Kehidupan Lady Gaga banyak menarik minat mereka yang kurang lebih pernah dibully. Berulang kali Gaga menceritakan tentang bagaimana ia kerap diintimidasi di masa sekolahnya dan merasa tak memiliki teman.

Dalam premiere film barunya di Los Angeles tahun lalu, Gaga kembali mengisahkan masa kecilnya ketika dibully. Kisah itu ternyata menginspirasi permainannya sebagai seorang penyanyi bernama Ally di “A Star Is Born”.

“Apa yang aku lakukan [mendalami peran itu] adalah kembali ke masa kecil, ke tahun-tahun sekolah menengah, ketika aku diintimidasi dan diolok-olok karena memiliki mimpi besar. Di situlah titiknya,” ujar wanita kelahiran 28 Maret 1986 ini.

Pengalaman ini pula yang menjadi motivasinya untuk membangun sebuah komunitas online berwujud startup Backplane yang bertujuan membantu siapa saja dengan pengalaman serupa, seperti dilansir dari Entrepreneur.

Dalam membangun komunitasnya, Gaga tidak mencari orang-orang biasa. Ia mendekati mereka yang pernah dibully, merasa sebagai orang asing atau buangan, dan menjadikan mereka keluarganya. Ia menyebut anggota komunitasnya ini “Little Monsters”.

Lady Gaga dan “Little Monsters” nya memiliki bahasa-bahasa khusus, seperti 'monsterhugs', dengan tujuan untuk semakin merekatkan satu sama lain. Mereka memiliki platform media sosial sendiri untuk dapat berinteraksi sepanjang tahun, dan Facebook page yang berfondasi kuat.

Dengan interaksi seperti itu, ia telah mendapat basis pendukung yang cukup. Cara Gaga menunjukkan pentingnya menjalin hubungan untuk dengan klien dan orang-orang di sekitar kita terutama.

Meski sejak meluncurkan produk LittleMonsters.com keberadaan Backplane kemudian dilaporkan tenggelam karena sulitnya kondisi modal ventura pada saat itu, kiprah Lady Gaga di Silicon Valley ternyata belum berakhir.

Peraih beberapa Grammy Awards ini dikabarkan bermitra dengan Intel dan Vox Media melalui Yayasan Born This Way untuk proyek "Hack Harassment" yang bertujuan untuk mengatasi aksi bully dan pelecehan seksual di dunia maya.

Black Perfume

Seraya melancarkan upaya filontropinya, Gaga terus mengembangkan ide dan membuktikan naluri kerja sebagai pebisnis. Salah satu yang paling dikenal adalah dengan terjun ke industri wangi-wangian.

Seleranya yang unik, eksentrik, sekaligus bercita rasa dituangkannya melalui parfum yang mengkombinasikan aroma madu, atropa belladonna, dan anggrek.

Bukan Lady Gaga namanya kalau cuma menghasilkan parfum seperti halnya banyak pesohor lain, Gaga menunjukkan bahwa ia bukan sekadar wanita biasa. Idenya menciptakan parfum ini berkonsep cukup ekstrem tetapi juga brilian.

Ia menginginkan parfum berwarna hitam jika disemprotkan yang kemudian warna hitam itu akan menghilang ketika mengering.

Ide inovatifnya ini sudah jelas membuat tim riset dan pengembangan jadi pusing tujuh keliling. Saking pusingnya, mereka bahkan sampai menolak mewujudkan keinginan Gaga.

Namun pelantun “Bad Romance” tersebut membalasnya dengan bersikeras tak akan membuat parfum selain yang ia inginkan. Wanita yang satu ini memang tak takut mengambil risiko.

Alhasil, timnya mau tak mau menurutkan keinginan Gaga dan mencoba mewujudkan konsep itu. Didukung oleh promosi dan marketing ala Gaga yang cukup provokatif, lahirlah “Lady Gaga Fame” black fluid perfume.

“Yang berbeda antara Ally dan diriku adalah ketika aku memutuskan akan menjadi penyanyi dan penulis lagu. Aku benar-benar percaya pada diri sendiri,” ujar Gaga, dikutip People, menceritakan perbedaan pribadi antara peran dan dirinya.

Sebaliknya, perannya dalam film itu menurut Gaga tidak memiliki kepercayaan pada diri sendiri, kurang kuat menghadapi industri musik, dan kemudian menyerah. Sikap ini jauh sekali dengan apa yang dimiliki Gaga.

Sebelum menjadi Lady Gaga, dia adalah perempuan biasa bernama Stefani Germanotta. Meski mengawali dengan manggung di bar-bar lokal, ia memiliki keyakinan teguh dan bakat luar biasa.

Kewirausahaan sendiri bisa menjadi proses yang panjang, melelahkan, dan kalau boleh sedikit lebay dibanjiri darah juga air mata. Tapi kita tidak bisa dikalahkan olehnya dong.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lady gaga

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top