Kaum Wanita, Kanker Serviks Bukan Vonis Mati

Konsultan senior onkologi medis di Park Cancer Centre (PCC), Singapura, Dr Ang Peng Tiam mengatakan perempuan yang terkena kanker serviks tak berarti mendapat vonis mati.
Newswire | 30 Maret 2019 16:44 WIB
Konsultan senior onkologi medis di Park Cancer Centre (PCC), Singapura, Konsultan senior onkologi medis di Park Cancer Centre (PCC), Singapura, Dr Ang Peng Tiam mengatakan perempuan yang terkena kanker serviks tak berarti mendapat vonis mati. mengatakan perempuan yang terkena kanker serviks tak berarti mendapat vonis mati. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Konsultan senior onkologi medis di Park Cancer Centre (PCC), Singapura, Dr Ang Peng Tiam mengatakan perempuan yang terkena kanker serviks tak berarti mendapat vonis mati.

Perempuan yang terkena kanker serviks masih bisa menjalani berbagai pengobatan tergantung stadium kankernya.

Dalam sebuah wawancara di Jakarta, Jumat (29/3/2019), Ang menuturkan peluang pulih semakin tinggi jika kanker terdeteksi dini. Saat stadium awal, pasien kanker berpeluang pulih hingga 80 persen.Namun, jika sudah memasuki tahap lanjut, angka kepulihan turun menjadi 25 persen.

Sebenarnya, jauh sebelum kanker terjadi, perempuan sebenarnya sudah bisa melakukan tindakan pencegahan, yakni vaksinasi HPV. Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan perempuan berusia 9-13 tahun dan belum aktif melakukan hubungan seksual menjalani vaksinasi ini.

Ang tidak menyarankan bayi baru lahir menjalani vaksinasi HPV, karena belum ada studi yang membuktikan tindakan ini berdampak positif sama seperti pada perempuan berusia 11-12 tahun.

Vaksin HPV memang bisa menurunkan risiko seseorang terkena kanker serviks, tetapi bukan jaminan dia lolos 100 persen dari infeksi.

Di sinilah pentingnya deteksi dini sebagai pilar kedua setelah pencegahan. Perempuan yang sudah aktif melakukan hubungan seksual bisa menjalani pap smear sekali hingga dua kali dalam setahun.

"Prosedurnya sangat aman, tetapi kurang dari 10 persen orang perempuan melakukan pap smear rutin. Sisanya tidak pernah melakukannya. Untuk mereka yang sudah aktif berhubungan seksual, sudah menjadi ibu, manfaat vaksin tidak lagi besar. Mereka masih bisa berpeluang tidak meninggal dan mengembangkan kanker serviks dengan melakukan pap smear," papar Ang.

Menurut dia, prosedur pap smear bisa dilakukan sebelum atau sesudah siklus menstruasi. Prosedur ini sangat sederhana, hanya menggunakan spatula kecil dan tidak menyakitkan.

"Untuk mendeteksi dini dan jika ada (kanker) bisa langsung diobati. Jika bisa diobati dalam tahap itu, pasien masih bisa punya anak. Berbeda jika perempuan sudah terkena kanker serviks. Dia juga harus menjalani berbagai macam pengobatan," kata dia.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kanker, kanker serviks

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top