Jadi Eksportir Besar, Tapi Brand Lokal Gagal Bersaing di Pasar Sneakers Global

“Memang tidak gampang, karena merek seperti Nike dan Adidas yang bekerja sama dengan atlet yang bayarannya berapa juta dolar, secara bujet juga tidak kecil,” kata Ketua Pengembangan Sport Shoes dan Hubungan Luar Negeri Aprisindo Budiarto Tjandra.
Tika Anggreni Purba | 15 April 2019 12:55 WIB
Sneakers lokal, dari Saint Barkley, Pijak Bumi, dan Nah Projects - Bisnis/repro

Bisnis.com, JAKARTA – Secara global perkembangan sepatu olahraga terbilang sangat moncer. Sepatu olahraga yang dikenal dengan sebutan sneakers ini tidak hanya menjadi ikon fesyen, tetapi juga membudaya sebagai buruan para pencinta sepatu.

Popularitas sneakers di Indonesia dipengaruhi juga oleh popularitas skateboard pada era 90-an. Produsen sneaker yang memegang pasar kala itu adalah Nike dan Adidas. Seiring waktu berjalan, sneaker makin berjaya di Indonesia. Kepemilikan sneaker tidak sekadar untuk alas kaki, juga sebagai identitas diri. Tren sneaker pun menjalar ke segala kalangan usia dan gender.

Cemerlangnya tren sneakers dari waktu ke waktu juga membuka peluang besar bagi industri alas kaki di Indonesia. Sejauh ini, industri alas kaki cenderung berorientasi ekspor. Dalam catatan Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), pada 2019 untuk pertama kalinya dalam sejarah ekspor industri alas kaki Indonesia tembus US$5 miliar atau sekitar Rp70,5 triliun.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hingga dua kali lipat dalam ekspor alas kaki Indonesia dalam 8 tahun terakhir. Aprisindo menilai bahwa pertumbuhan industri alas kaki akan makin pesat, diprediksi dapat memperoleh pertumbuhan ekspor mencapai US$10 miliar.

Tujuan ekspor alas kaki Indonesia a.l. Amerika Serikat, China, Belgia, Jerman, Jepang, Korea Selatan, Italia, Meksiko, Australia, Perancis, Kanada, Brasil, Singapura, dan Rusia. Di pasar global, pesaing Indonesia adalah China dan Vietnam.

“Vietnam menjadi pesaing utama Indonesia saat ini karena sejak 2001 ekspor Indonesia disalip Vietnam,” ujar Ketua Pengembangan Sport Shoes dan Hubungan Luar Negeri Aprisindo Budiarto Tjandra.

MEREK LOKAL

Menyoal merek lokal untuk sepatu olahraga alias sneakers, menurut Budiarto, belum ada merek lokal yang mampu menembus dunia sneakers internasional. “Memang tidak gampang, karena merek seperti Nike dan Adidas yang bekerja sama dengan atlet yang bayarannya berapa juta dolar, secara bujet juga tidak kecil,” ujarnya.

Akan tetapi menurut Budiarto persoalan kompetisi melawan merek sneakers terkenal bukan saja dialami oleh  Indonesia, tetapi juga negara lainnya seperti China juga mengalami kesulitan. Walau memang beberapa merek sepatu olahraga Indonesia sudah diekspor seperti merek Specs, tetapi tidak banyak.

“Perkembangan merek lokal cukup bagus juga, segmen pasar dan segmen harga juga luas,” katanya. Sayangnya, belum terlalu banyak merek lokal yang cukup kuat untuk bersaing di pasar global.

Untuk bersaing dengan sneakers impor, produk lokal harus mampu memenuhi kriteria model yang bagus, harga yang tepat, dan juga kualitas yang baik. Merek lokal dinilai perlu berjuang untuk melahirkan desain yang baru.

“Kalau merek internasional sudah menjadi market leaderdalam hal tren, ini menjadi tantangan juga bagi desainer sneaker lokal,” katanya lagi.

Bagi Budiarto, untuk benar-benar bisa diterima dan bersaing dengan merek luar, Indonesia harus benar-benar memikirkan dan merencanakan industri sneaker dengan serius dan matang. “Sejauh ini usaha kita ke arah sana belum terlalu kuat, terhalang modal, investor, dan dukungan pemerintah,” katanya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
alas kaki, sepatu kets, Sneakers

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top