Sneakers lokal, dari Saint Barkley, Pijak Bumi, dan Nah Projects/Bisnis-repro
Fashion

Geliat Sneakers Lokal Tembus Pasar Global

Dewi Andriani & Syaiful Millah
Minggu, 14 April 2019 - 11:55
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Sneakers terbukti menjadi jenis sepatu yang cukup digemari dan menjadi gaya hidup, khususnya di kalangan milenial. Selama ini, sebagian besar masyarakat lebih mengenal sneakers dari brand luar negeri seperti Nike, Adidas, Puma, Vans, Asics dan lainnya.

Padahal, tidak sedikit sneakers lokal yang kualitas tak kalah dibandingkan dengan brand asing. Beberapa merek telah berhasil menerobos celah pasar di antara dominasi merek global saat ini. Sebut saja Nah Project, Saint Barkley, Men’s Republic, Pijakbumi, Word Division, Brodo, Forever Young Crew, dan Geoff Max.

Ada pula merek-merek yang sudah banyak tersebar di sejumlah pusat perbelanjaan seperti Piero, League dan Wakai.

Tengok saja Men’s Republic, merek milik Yasa Paramitha Singgih ini dikembangkan sekitar tahun 2014. Pria kelahiran 1995 ini memulai bisnis sepatu, saat sang ayah yang berpengalaman lebih dari 30 tahun di industri persepatuan, baru saja pensiun.

Berbekal pengalaman dan jaringan yang dimiliki ayahnya, Yasa mantap memasuki produksi sepatu kasual dan sneakers dengan brand Men’s Republic. Merek ini digunakan untuk mewakili dunia pria.

Yasa menilai maraknya tren sneakers yang dibawa oleh brand global telah ikut memengaruhi pelaku usaha lokal. Menurutnya, brand yang dikembangkan pelaku usaha dalam negeri tak kalah jauh dibandingkan dengan merek global.Bahkan, produk lokal mampu menawarkan harga yang lebih terjangkau.

“Kami melihat brand global bukan sebagai kompetitor, tetapi berkat mereka itulah industri sneakers lokal bisa hidup. Sebagai pemain lokal, kita juga harus membuktikan bahwa kita mampu menghasilkan sepatu dengan kualitas yang enggak kalah keren,” tuturnya saat ditemui Bisnis.

WAKAI

Merek lokal lain yang banyak digandrungi milenial adalah Wakai. Nuansa Jepang yang dihadirkan sering kali membuat masyarakat menganggapnya sebagai merek luar negeri. Padahal, Wakai merupakan salah satu brand asli Indonesia.

Strategi bisnis dengan mengangkat spirit of Japan pada brand sepatu ini, ternyata berhasil menjadikan Wakai sebagai tren dan langsung diterima masyarakat, sejak kali pertama hadir pada 2012.

Permata Yudha, Senior Product Design Manager Wakai mengatakan konsep awal yang dibawa memang bukan hanya produk fesyen, tetapi menciptakan brand dan sebuah pengalaman yang unik.

“Autentisitas dan kreativitas yang tertuang pada setiap produk Wakai, serta kenyamanan yang dihadirkan menjadi keunggulan kami, tentu dengan harga yang terjangkau,” ujarnya.

Adapun dari sisi pemasaran, Wakai memiliki channel distribusi offline lebih dari 50 gerai yang tersebar di 16 kota di Indonesia. Selain itu, Wakai memaksimalkan penjualan online melalui sejumlah e-commerce.

Tidak hanya di dalam negeri, rupanya produk Wakai sudah ekspansi hingga ke berbagai Negara di Asia. “Saat ini kami sudah ekspor ke Malaysia dan Singapura. Terakhir kami mendapatkan tawaran ekspor ke Vietnam dan Hong Kong, tapi masih dalam proses. Slip on merupakan jenis sepatu yang paling banyak dipesan,” jelasnya.

PIERO DAN LEAGUE

Merek lain yang sudah lama banyak dijumpai di pusat-pusat perbelanjaan adalah Piero dan League. Dari namanya, mungkin banyak yang menyangka bahwa keduanya termasuk deretan brand global. Padahal keduanya merupakan merek lokal yang berhasil memanfaatkan peluang pasar di tengah meningkatnya pasar sneakers di Indonesia.

Albertus Agastya, Brand Executive Piero mengatakan pihaknya tidak khawatir dengan ketatnya persaingan dengan para kompetitor. Menurutnya dengan serbuan berbagai jenis dan model sneakers, masyarakat menjadi semakin mengerti kualitas sekaligus menambah wawasan produk fesyen mereka.“Dari situ persaingan bukan lagi soal kuantitasnya, tetapi mengacu pada kualitas dan teknologi. Tren ini tentu saja menjadi momentum yang tepat untuk sneakers lokal,” ujarnya.

Albertus bahkan mengklaim bahwa Piero telah menjadi produk sneakers lokal yang diproduksi dengan teknologi paling maju dibandingkan dengan kompetitor lokal lainnya. Hal ini menjadikan kualitas produk yang dihasilkan setara dengan brand global, namun dengan harga yang lebih terjangkau.

Untuk dapat menghasilkan sepatu berkualitas, Piero selalu menekankan originalitas dalam setiap desain maupun material produk yang dimiliki. Selain itu, selalu mencoba menciptakan teknologi dan cerita yang berbeda di setiap desain sepatunya.

Demikian juga dengan PT BercaSportindo, perusahaan dengan merek sepatu League, awalnya merupakan produsen sepatu merek global untuk Nike dan Puma, sekaligus menjadi yang pertama memasarkan kedua merek tersebut di Indonesia. Akan tetapi mulai 2004, League menjadi merek sendiri sebagai produsen sepatu kategori gaya hidup dan olahraga.

Product Manager League, Ginanjar Perdana Putra berpendapat saat ini pasar sepatu sneakers di dalam negeri tengah berkembang pesat. Maraknya pemain dari lokal hingga global yang bersaing, dinilainya tidak akan membuat pasar jenuh, justru akan terus mengembangkan ekosistem yang ada.

Para pemain lokal juga kini telah mendapat tempat tersendiri, sehingga pasar sneakers sudah bukan lagi milik brand global, seiring perubahan paradigma pasar lokal mulai mengarah ke tren “bangga pakai produk-produk lokal.”

Kendati begitu, Ginanjar menilai Indonesia sendiri belum memiliki kultur yang bisa menjadi katalis untuk mendukung identitas kuat merek lokal. “Mereka [merek global] punya kultur yang mendukung perkembangan desain, produk, dan industrinya misal musik atau influencer ternama. Kita belum punya. Jadi umumnya brand lokal memang masih mengikuti tren yang dibuat oleh brand luar,” jelasnya.

POROS BANDUNG

Sejumlah merek sneakers hadir cukup fenomenal dari Kota Bandung, diantaranya NAH Project, Seba Shoes, Portee Goods, Saint Barkley, Word Division dan Brodo. Produk sneakers mereka memiliki model dan pasar tersendiri sehingga bisa mendapatkan tempat di industri alas kaki ini.

Vice President Saint Barkley, Khrisna Bharata Yudomartono mengaku Saint Barkley sudah bersaing di pasar sneakers sejak 6 tahun lalu. “Dari pertama didirikan, kami melihat sneakers sebagai peluang yang sangat bagus. Karena itu, kami tetap bertahan hingga saat ini,” ujar Khrisna saat ditemui Bisnis.

Pria yang kerap disapa Ozom ini memaparkan strategi bertahannya adalah konsistensi melakukan pengembangan. Menurutnya, sepatu bukan hanya tentang model, tetapi juga kenyamanan dan teknologi dan Saint Barkley terus mempertahankan sepatu yang ‘apa adanya’.

Saint Barkley berproduksi dengan mengandalkan 12 pekerja dan belum memiliki pabrik sendiri. Seluruh bahan baku utama, yakni kulit hewan dan imitasi, disuplai langsung dari pemasok lokal dan impor.

NAH PROJECTS

Beda cerita dengan NAH Project yang dirintis sejak Oktober 2017. Managing Director NAH Project, Ifa Hanifah melihat bisnis sneakers sangat berpeluang karena segmen milenial bisa menggunakan sneakers untuk ke kampus, hang out bahkan ke kantor. “Nama NAH Project sendiri digunakan agar mudah diingat orang. Ketika membeli sepatu orang-orang akan langsung ingat Nah ini dia sepatunya,” ujar Ifa kepada Bisnis.

Ifa meyakini sneakers merupakan tren yang akan bertahan lama, meskipun banyak merek sneakers global yang beredar. Menurutnya, persaingan merupakan motivasi dan inspirasi agar bisa berada di posisi yang sama dengan produk sneakers internasional.

Nah, mengandalkan bahan baku beragam seperti rajutan, kulit, kulit imitasi dan kanvas. Produksinya merupakan hasil kerja sama dengan satu pabrik di Surabaya dan UKM di Bandung

“Kami juga dekat dengan komunitas dan brand lainnya. Dengan membuka jalinan ini memperluas pasar kami. Produk kami bahkan sampai di tangan Presiden Joko Widodo,” kata Ifa. (k10)

 

Sumber : Bisnis Indonesia Weekend
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro