Wawancara dengan Najwa Shihab: Perempuan dan Media

"Saya percaya kekuatan media untuk memengaruhi orang untuk bisa menentukan sikap dan keberpihakan dan memberi konteks kepada peristiwa agar orang bisa bergerak atau justru tidak bergerak. Saya percaya the power of media untuk membentuk generasi, bukan hanya sekarang."
Eva Rianti | 21 April 2019 08:09 WIB
Jurnalis senior Najwa Shihab. - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Najwa Shihab, nama jurnalis perempuan ini begitu santer di jagad media Tanah Air. Kariernya di industri media yang dimulai sejak 2000 mengantarkannya dikenal sebagai sosok jurnalis yang andal, kritis, dan cerdas.

Pendiri Narasi TV, yang kerap disapa Nana ini akhirnya pada awal 2018 terjun untuk mendirikan media sendiri, Narasi TV, sebuah platform televisi digital. Media ini didirikannya dengan penuh perjuangan. Bisnis Indonesia Weekend berkesempatan mewawancarai Najwa seputar kisah perjalanannya dalam membangun perusahaan startup.

Apa yang ingin disampaikan kepada masyarakat lewat Narasi?

Kami selalu berpegang pada tiga hal. Kami percaya bahwa Indonesia itu harus menjadi Indonesia yang antikorupsi, penuh dengan toleransi, serta partisipasi. Ketiga hal itu, kami tuangkan ke dalam berbagai hal. Kalau dari segi konten, kami sekarang memiliki 14 konten yang kami produksi.

Ada yang bentuknya talk show, seperti Mata Najwa, Catatan Najwa, dan ada juga Shihab & Shihab. Kami juga ada konten investigasi berjudul Buka Mata, ada juga program dokumenter, Narasi People.

Kami peduli dengan anak muda yang suka baca, makanya kami punya kanal Buka Buku. Kami juga senang kalau ada film-film berkualitas, makanya kami punya Teppy O Meter yang membahas film. Kami juga melihat olahraga menjadi sangat penting, makanya kami punya Kamar Ganti.

Lalu, kami mengelola komunitas yang kami namakan Mata Kita. Itu sudah ada di 24 provinsi dan anggotanya mencapai 150.000 orang. Kami percaya tidak cukup hanya sekadar memproduksi konten, tetapi itu dimultiplikasi dan diturunkan dalam bentuk berbagai aksi nyata.

Selain komunitas, kami juga bikin banyak kegiatan offline dengan roadshow dan workshop di berbagai kota di Indonesia.

Bagaimana concern Anda pada pekerja perempuan? Berapa jumlah karyawan perempuan di Narasi TV?

Yang jelas board of directors (BOD)-nya semua perempuan. Di awal-awal sempat didominasi perempuan. Kalau sekarang saya rasa 50:50. Jadi kurang lebih seimbang. Terkait mempekerjakan perempuan, itu bukan affirmative action. Saya merasa jurnalis perempuan itu memiliki keunggulan-keunggulan tertentu, yang kemudian bisa menjadi added value buat perusahaan. Jadi kalau, misalnya sama bagusnya, saya akan lebih memilih perempuan tanpa mengorbankan kualitas.

Apa tantangan perempuan yang bekerja di industri media?

Sama dengan tantangan perempuan di industri kerja secara umum. Kerap kali kesempatan yang diberikan tidak sebesar itu, walaupun tidak pernah saya alami. Dulu di Metro TV tidak pernah ada halangan mengirim perempuan ke medan perang. Itu enggak berpengaruh, baik laki-laki ataupun perempuan juga dikirim untuk meliput konflik dan bencana. Jadi saya membayangkan mungkin di beberapa industri ini masih menjadi masalah, barrier yang dianggap tidak cukup kuat, tahan banting dan kemudian dengan sendirinya akan ada pembatasan atau limitasi-limitasi tertentu yang diberikan oleh perusahaan. Itu bahkan ada keunggulannya. Dan itu saya bawa ketika saya bikin perusahaan sendiri.

Bagaimana gaya kepemimpinan Anda di Narasi?

Pertama, membuat semua orang merasa nyaman untuk mengungkapkan ide. Karena kuncinya sekarang di industi ini siapa yang bisa mengemas informasi semenarik mungkin, di tengah dunia yang ada begitu banyak konten dan semua berebut mencari perhatian, penting bisa menampilkan satu konten yang orisinal dan punya ciri khas. Dan itu hanya bisa didapatkan kalau kita mendorong orang-orang yang berada di perusahaan media. Berani bicara, berani melakukan hal-hal baru, dan berani trial and error. Itu jadi kunci, dan suasana itu yang kita bangun di Narasi.

Kedua, penting bagi leader untuk walk the talk. Memberikan contoh. Pemimpin harus mau menjadi yang paling di depan untuk tidak ragu mencoba hal baru. Industri cepat berubah, harus banyak belajar, baca, dan berdiskusi. Itu juga yang dilakukan oleh Narasi. Setiap dua minggu kami bikin kelas sharing session untuk belajar. Bahkan, kami dorong untuk ikut seminar ke luar negeri, lalu berbagi ilmu. Jadi ketika di perusahaan, mereka muncul dengan ide dan inovasi yang baru karena kalau tidak, akan tertinggal.

Apa yang membuat Anda konsisten untuk tidak berpaling dari dunia media?

Pertama, karena industri media dinamis. Dunianya tetap media, tetapi apa yang saya lalui selama 19 tahun selalu berubah. Peran dan tantangannya berubah. Sejak punya perusahaan sendiri, tantangannya luar biasa besar. Jadi mungkin industri sama, tetapi suasananya selalu berubah. Dan itu menarik sih.

Kedua, saya percaya kekuatan media untuk memengaruhi orang untuk bisa menentukan sikap dan keberpihakan dan memberi konteks kepada peristiwa agar orang bisa bergerak atau justru tidak bergerak. Saya percaya the power of media untuk membentuk generasi, bukan hanya sekarang.

Catatan: Wawancara dengan Najwa Shihab ini merupakan rangkaian tulisan edisi khusus menyambut Hari Kartini, 21 April yang tampil di Bisnis Indonesia Weekend edisi 21 April 2019. Laporan lengkapnya bisa disimak melalui produk epaper kami

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
media massa

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup