Studi: Keyakinan Politik Memang Kadang Tak Ada Logika

Walaupun seseorang telah dihadapkan pada fakta dan kenyataan buruk tentang partai politik atau calon pemimpin yang diyakininya, orang bisa saja gagal mengidentifikasi logikanya yang cacat.
Tika Anggreni Purba | 23 April 2019 14:23 WIB
DEBAT KEEMPAT CALON PRESIDEN 2019 Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) disaksikan Ketua KPU Arief Budiman (tengah) bersiap mengikuti debat capres 2019 putaran keempat d Jakarta, Sabtu (30/3). /JIBI - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Walau pemilihan umum telah berlalu, perbincangan akan dunia politik masih belum usai. Masih banyak orang yang saban hari berdiskusi, membandingkan, membanggakan, dan meninggikan keyakinan politiknya masing-masing.

Dalam laporan Psych Central merujuk pada jurnal Social Psychological and Personality Science 2019 di Amerika Serikat, ditemukan bahwa terlepas dari afiliasi politik seseorang, keyakinan politik memang dapat melampaui kemampuan seseorang untuk berpikir secara logis. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang yang bersedia adu argumen atau menyebarkan ujaran kebencian terkait dengan sistem kepercayaan politiknya.

Walaupun seseorang telah dihadapkan pada fakta dan kenyataan buruk tentang partai politik atau calon pemimpin yang diyakininya, orang bisa saja gagal mengidentifikasi logikanya yang cacat. Peneliti dalam jurnal tersebut melakukan dua kali studi untuk menemukan fakta ini.

Dalam studi pertama, para peneliti mempelajari bias kepercayaan politik pada responden penelitian. Hal ini untuk menilai kecenderungan argumen logis dari 926 pendukung politik di YourMorals.org. Peneliti menyusun berbagai argumen logis itu dalam dua kategori yakni argumen yang sehat dan argumen yang tidak sehat dalam 16 silogisme (pernyataan dan kesimpulan).

Rata-rata peserta yang mengerjakan silogisme itu menjawab 73% jawaban yang benar. Akan tetapi, kemampuan mereka untuk menilai tergantung pada pandangan politik mereka. 

“Kelompok pendukung liberal lebih baik dalam mengidentifikasi argumen yang cacat yang mendukung kepercayaan konservatif dan konservatif lebih baik dalam mengidentifikasi argumen yang cacat yang mendukung kepercayaan liberal,” kata Anup Gampa dari University of Virginia, peneliti dalam penelitian ini. 

Dalam studi kedua, peneliti mengamati efek bias keyakinan ideologis di antara 1.489 peserta dari ProjectImplicit.org. Para peserta dalam penelitian ini dilatih dalam penalaran logis sebelum mengevaluasi silogisme politik menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.

Ternyata dalam pelatihan, kemampuan mereka untuk menganalisis argumen juga memiliki pola yang sama. Peneliti menemukan pola bias yang serupa dalam sampel yang lebih besar tersebut.

“Sayangnya, di era perkembangan berita palsu, kekeliruan logis ini bisa menjadi lebih kuat,” kata peneliti. Bias karena keyakinan politik membuat perbedaan yang sangat besar. Bukan saja soal pandangan dunia politik, tetapi juga menghancurkan atau melukai pemikiran logis.

Para peneliti mengingatkan bahwa dalam perpolitikan, masyarakat sebaiknya lebih terbuka dalam berbagai argumentasi dari pihak yang berbeda keyakinan politik. Hal ini akan menolong Anda untuk berpikir dengan landasan logis dan pikiran yang terbuka.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
politik, psikologi

Sumber : Psychcentral.com

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup