Ini Gejala Penyakit Lupus, Tiap Orang Berbeda-beda

Tidak mudah mendiagnosis penyakit lupus bahkan sering kali terlambat karena gejala yang sering tidak khas di awal perjalanan penyakit. Gejala penyakit lupus pada setiap penderita berbeda-beda, tergantung dari organ apa yang terserang.
Reni Lestari | 13 Mei 2019 14:47 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Penyakit lupus rentan menyerang perempuan. Hormon seksual pada perempuan dapat memodulasi sistem imun yang berpotensi menyebabkan munculnya penyakit autoimun, terutama pada perempuan dengan kerentanan genetik.

Dokter spesialis penyakit dalam OMNI Hospitals Pulomas, Suzy Maria, mengatakan, tidak mudah mendiagnosis penyakit lupus bahkan sering kali terlambat karena gejala yang sering tidak khas di awal perjalanan penyakit. Suzy mengatakan, gejala penyakit lupus pada setiap penderita berbeda-beda, tergantung dari organ apa yang terserang.

Data yang dilansir oleh Kemenkes pada 2017 pun menyebutkan bahwa jumlah penderita penyakit lupus di Indonesia diperkirakan mencapai 1,5 juta orang. Dari 1,5 juta orang Indonesia yang terkena lupus, hanya sekitar 1% yang menyadari dirinya menderita penyakit tersebut.

"Interaksi yang kompleks antara genetik dengan lingkungan dapat menjadi pemicu terjadinya lupus. Faktor lingkungan seperti stres dan sinar matahari dapat menjadi pencetus munculnya penyakit lupus pada orang yang memiliki kerentanan genetik," ujar Suzy.

Dia melanjutkan, stres dapat menyebabkan perubahan pada sistem saraf dan hormonal yang memengaruhi sistem imun. Paparan sinar matahari yang berlebihan pada siang hari dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan yang dapat menimbulkan respon autoimunitas.

Suzy menjelaskan setelah gejala awal yang telah disebutkan di atas, ada beberapa tanda fisik yang khas, seperti rambut menipis hingga botak, bercak merah pada kulit wajah di daerah pipi (ruam menyerupai kupu-kupu), sariawan berulang.

Tanda lebih lanjut yang muncul bila sudah terjadi gangguan lanjutan, seperti bengkak pada seluruh tubuh akibat kadar albumin dalam darah di bawah normal (hipoalbuminemia) karena gangguan ginjal, lemah, dan pucat karena anemia, lebam kulit, mimisan, gusi berdarah akibat trombosit rendah bahkan penurunan kesadaran atau kejang karena ada keterlibatan sistem saraf.

Penyakit lupus ada yang ringan, sedang, dan berat. Suzy menyarankan agar pada tahap ringan pun, bila sudah terserang lupus harus mendapatkan perawatan medis untuk mengontrol respon autoimunitas dan mengurangi kerusakan organ lebih lanjut.

"Dokter akan memberikan obat anti radang dan obat lainnya untuk mengontrol respon autoimunitas. Jenis obat yang diberikan bergantung pada organ apa yang terlibat pada lupus dan seberapa berat gangguan yang ditimbulkannya," tambahnya.

Adapun lupus disebut ringan bila stabil secara klinis. Pada tahapan ini tidak mengancam nyawa dan tidak menyebabkan kerusakan bermakna. Pada lupus sedang, baru menimbulkan penyakit yang lebih serius dan cedera ringan.

Sementara, jika terkena lupus tahap berat bisa mengancam nyawa. Akan tetapi, lupus yang berat dapat saja mengalami remisi atau sebaliknya lupus yang awalnya ringan sempat mengalami remisi dapat mengalami flare (gejala yang secara tiba-tiba menjadi derajat berat) atau menjadi lupus berat.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lupus

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup