Berolahraga Malam Hari Membuat Kualitas Tidur Lebih Baik

Masyarakat selama ramadan secara sengaja maupun tidak sengaja telah mengurangi atau memberi batasn terhadap aktivitas fisik mereka.
Berolahraga Malam Hari Membuat Kualitas Tidur Lebih Baik Akbar Evandio | 28 Mei 2019 01:11 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Masyarakat selama ramadan secara sengaja maupun tidak sengaja telah mengurangi atau memberi batasn terhadap aktivitas fisik mereka.

Alasannya adalah karena ingin menjaga stamina biat tetap kuat selama menjalankan ibadah sehingga aktivitas yang dilakukan saat pagi akan digantikan pada waktu malam hari seperti berolahraga.

Mengutip melalui laman web Psychology Today tentang puasa dan tidur, orang-orang cenderung makan terlalu banyak dan tidak cukup berolahraga ketika bulan ramadan. Padahal, sebuah studi menunjukkan bahwa bahkan satu malam kurang tidur dapat meningkatkan keinginan akan junk food.

Dokter tidur Amerika, Michael Breus menyatakan bahwa berlatih konsistensi sebelum tidur akan menjadi kunci dalam menghindari sisi buruk dari kurang tidur.

“Dalam penelitian lain yang saya baca minggu ini ada kabar baik bagi kita yang suka berolahraga. Berlawanan dengan kepercayaan umum, tidak ada bukti bahwa berolahraga di malam hari menyebabkan masalah tidur , menurut para peneliti di Institut Ilmu Gerakan Manusia dan Olahraga di Zurich” jelasnya.

Dia menjelaskan bawa para ilmuwan yang melakukan penelitian meninjau dan menganalisis 23 studi dan menemukan subyek yang telah melakukan olahraga sebelumnya pada malam hari menghabiskan 21,2% dari tidur mereka dalam tidur nyenyak malam itu.

“Ingat bahwa tidur yang paling menyegarkan secara fisik, tetapi pada malam hari tanpa olahraga , mereka hanya menghabiskan 19,9% untuk tidur nyenyak. Walaupun angka-angka ini bukan perbedaan besar, apa yang dilakukan penelitian menunjukkan bahwa olahraga itu sendiri, menjelang waktu tidur, tidak membuat tidur menjadi lebih buruk dan mungkin bahkan sedikit lebih baik” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
olahraga

Sumber : Psychology Today

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top