Kemal Ezedine dan Lukisan Figuratif dalam Kesenian Islam

Manifestasi karya dalam kesenian Islam tidak selalu soal kaligrafi, arabesque, dan geometri.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 03 Juni 2019  |  15:01 WIB
Kemal Ezedine dan Lukisan Figuratif dalam Kesenian Islam
Karya lukisan figuratif Kemal Ezedine. JIBI/Bisnis - Tika Anggreni

Bisnis.com, JAKARTA - Manifestasi karya dalam kesenian Islam tidak selalu soal kaligrafi, arabesque, dan geometri.

Beberapa seniman Islam bereksplorasi dan berekspresi melalui karya-karya abstrak maupun figuratif.

Pada sebagian pihak karya lukis figuratif masing menimbulkan kontra. Hal ini mungkin terkait dengan pengaruh budaya Persia, Turki, dan negara non-Arab. Asumsi lain, terkait dengan larangan melukis makhluk hidup berdasarkan penafsiran tertentu.

Sebagai seniman yang tidak berhenti dalam satu gaya, Kemal Ezedine berupaya membuka wacana mengenai kehadiran lukisan figuratif dalam kesenian Islam.

“Alat saya untuk berekspresi adalah lukisan yang berkutat pada sosial identitas manusia yang terkait dengan budaya, religiusitas, dan politik,” ujarnya.

Kemal mengatakan ekspresi seni itu bisa dibicarakan melalui lukisan abstrak, lukisan figuratif, dan lain-lain. Baginya gaya berkesenian bukanlah yang terpenting, tetapi konsep yang bakal diwujudkan dalam kesenian itu.

Seniman asal Bali ini terkenal dengan karya-karya abstraknya. Dalam catatan Bisnis, pernah dia menghadirkan lukisan figur wajah manusia dalam lukisan, tetapi dibuatnya abstrak. Karya itu ditampilkan pada acara Art Stage Jakarta 2017.

Karya tersebut dibuat untuk merespons pendapat yang melarang untuk melukis figur karena bertentangan dengan agama.

“Sejak ratusan tahun lalu beberapa pihak memang sudah ada yang antifigur, bukan saja di era kekhafilahan atau wahabi dalam sejarah Islam, tetapi juga pada pandangan agama lain di luar Islam,” ujar Kemal.

Padahal, menurutnya seni lukis merupakan karya visual atau material yang tidak termasuk dalam kategori benda hidup.

Bagi Kemal lukisan murni sebagai suatu karya yang di dalamnya terdapat bentuk, dimensi, dan kemampuan manusia. Dari perjalanan abstrak hingga figuratif yang dijalaninya, Kemal ingin hadir sebagai seniman yang membandingkan karya figuratif dengan karya seni yang antifigur.

 “Saya ingin membandingkan karya-karya itu dari perspektif seni, bukan agama,” ujarnya.

Dia membentuk diskursus melalui karya figuratif yang baru-baru ini ditampilkannya juga dalam Art Moments Jakarta 2019.

Kemal menyampaikan opsi baru untuk memikirkan ulang mengenai kesenian. Hal ini dinilainya penting karena kesenian adalah sebuah bidang yang sangat luas yang perlu dipikirkan dengan perspektif yang luas juga.

“Bagi yang tidak setuju dengan lukisan figuratif memiliki alasan dan konteksnya sendiri, tetapi saya lebih banyak mengambil konteks universal dalam situasi peradaban Islam,” katanya.

Kemal merujuk pada kalimat tokoh Maulana Rumi dengan analoginya mengenai sifat kontekstual dari segala sesuatu. Menurutnya, lukisan tidak sama dengan ciptaan Tuhan.

Dalam pemikiran Kemal ciptaan Tuhan lebih kompleks dari sekadar lukisan di atas kanvas. Lukisan bukanlah media untuk memalsukan atau mengimitasikan manusia maupun membuat tiruan alam.

Kemal mengatakan bahwa lukisan adalah imajinasi yang diekspresikan.

Kemal menuturkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki akal untuk berpikir. Dia juga banyak membaca referensi dari ulama-ulama yang membolehkan lukisan figur. Berdasarkan pemikiran dan referensi itu, Kemal kini berpesta dalam karya-karya figuratif.

Dalam 12 karya figuratif yang ditampilkannya dalam Art Moments Jakarta 2019, Kemal berusaha menyampaikan pemaknaan baru terhadap karya figuratif dalam peradaban Islam. Kemal menyebut karya-karyanya sebagai pesta lukisan figur.

“Dulu lukisan dan patung mungkin dibuat untuk disembah, tetapi sekarang manusia modern tidak melakukan hal yang sama, kita melukis sebagai ekspresi seni,” tukas Kemal.

Baginya konteksnya zaman dulu dan zaman modern adalah dua hal yang berbeda yang tidak bisa disamakan penafsirannya. Satu perspektif seni, dan satunya lagi persfektif agama.

“Konteks dan konten harus disesuaikan dengan ekosistemnya.”

Namun, Kemal menghadirkan karya figuratif bukan dalam rangka perlawanan.

Dia menambahkan pertukaran ide dan gagasan melalui karya seni akan menghasilkan keputusan-keputusan logis dalam berpandangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lukisan, islam, kaligrafi

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top