Anna: Model, Pistol dan Kebebasan

Satu lagi film yang akan meramaikan bioskop Indonesia pada pekan ini adalah Anna, sebuah film bergenre action dan thriller yang berdurasi 119 menit.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 24 Juni 2019  |  08:12 WIB
Anna: Model, Pistol dan Kebebasan
Satu lagi film yang akan meramaikan bioskop tanah air pada pekan ini adalah Anna, sebuah film bergenre action dan thriller yang berdurasi 119 menit. - www.screenrant.com

Bisnis.com, JAKARTA - Satu lagi film yang akan meramaikan bioskop Indonesia pada pekan ini adalah Anna, sebuah film bergenre action dan thriller yang berdurasi 119 menit.

Diarahkan oleh sutradara asal Prancis, Luc Besson, film Anna sudah mulai tayang secara reguler pada Selasa (25/6/2019) mendatang di bioskop Indonesia.

Anna merupakan debut pertama model asal Rusia, Sasha Luss sebagai pemeran utama dalam film ini, setelah membintangi Valerian and the City of a Thousand Planets pada tahun 2017.

Berperan sebagai Anna Poliatova, seorang model asal Rusia yang ternyata adalah anggota KGB, salah satu badan intelijen di Uni Soviet yang mendambakan kebebasan diri sendiri, Sasha Luss dapat dikatakan berperan sangat apik dalam film ini.

Kehadiran karakter pendukung yang dimainkan aktor Cillian Murphy, Luke Evans dan aktris Helen Mirren juga membuat film ini semakin menegangkan.

Tidak ada yang menarik dari pengambilan gambar, efek atau backsound dari film ini selain dari ceritanya yang memang terlihat matang ditulis. Tantangannya adalah bagaimana cara menikmati film ini dengan tiga hal yang mungkin akan membuat orang tidak nyaman saat menonton film ini.

Tiga hal yang disebutkan diantaranya adalah banyak sekali adegan seks, darah dan alur maju mundur yang mungkin akan membuat penontonnya gelisah saat menyaksikan.

Sebagai supermodel yang juga agen sebuah badan intelijen, rasanya memang tidak mungkin Anna tidak bersinggungan dengan seks dan darah, ditambah alur maju mundur yang sekilas terkesan sangat menggangu, tapi memang begitulah cerita ini harusnya dikemas.

Saat menonton trailernya, banyak sekali orang yang tertipu dengan latar belakang Anna sebenarnya. Padahal jawabannya hanya bisa didapatkan setelah menonton habis film tersebut.

Kritikus Bllge Eblrl dari New York Times juga menyebutkan kalau Luc sangat pintar menempatkan adegan minor menjadi twist yang sangat krusial di alur berikutnya.

Namun, beberapa kritikus juga meninggalkan komentar yang kurang menyenangkan, mendapati sutradara film ini seakan tidak berinovasi dengan karakternya sejak beberapa film-filmnya terdahulu.

"Permainan pistol di Anna bersifat repetitif dan sangat panjang, dan pemeran utama yang tidak pernah kalah seperti karakter kuno yang bisa ditawarkan Luc," ujar David Ehrllch dari IndieWire.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film, film indonesia, sutradara

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top