‘Pembunuh’ Ibu Hamil Nomor Dua

Data Kementerian Kesehatan RI 2016 menyatakan bahwa penyebab tertinggi kedua kematian ibu hamil adalah hipertensi saat kehamilan yakni 26 persen, berbeda tipis dengan penyebab kematian tertinggi yakni perdarahan sebesar 32 persen.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 08 Juli 2019  |  12:52 WIB
‘Pembunuh’ Ibu Hamil Nomor Dua
Ibu hamil. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Niken Novika (31), seorang karyawan swasta di Jakarta, awalnya tidak menyangka mengalami preeklamsia pada kehamilan pertamanya. Pada awal kehamilan kondisinya baik-baik saja, tidak ada permasalahan berarti yang mengkhawatirkan bagi kehamilan.

Namun, ketika memasuki trimester ke-3, Niken merasakan perubahan pada kehamilannya, kakinya membengkak. Karena fenomena tersebut umum dialami saat kehamilan, Niken tidak ambil pusing.

Pada usia kehamilan 35 minggu, dia memeriksakan kehamilannya rutin seperti biasa. Betapa kagetnya ketika mengetahui bahwa tekanan darahnya sangat tinggi sehingga harus beristirahat penuh di rumah sakit.

“Setelah 3 hari bedrest, kontrol lagi ke dokter ternyata tekanan darah 180/120 mmHg. Dokter bilang saya preeklamsia berat (PEB), singkat cerita saya harus persiapan lahiran secara caesar segera,” katanya.

Bayi perempuannya harus dilahirkan prematur karena tekanan darah tinggi pada kehamilan cukup berbahaya bagi ibu dan janin.

Apa yang dialami Niken hanyalah satu kisah dari ribuan kasus kejadian hipertensi pada kehamilan. Dia beruntung karena tekanan darah yang tinggi terdeteksi dan dapat diatasi.

Faktanya, banyak perempuan hamil yang justru terancam nyawanya karena hipertensi saat kehamilan atau preeklamsia tidak ditangani.

Data Kementerian Kesehatan RI 2016 menyatakan bahwa penyebab tertinggi kedua kematian ibu hamil adalah hipertensi saat kehamilan yakni 26 persen, berbeda tipis dengan penyebab kematian tertinggi yakni perdarahan sebesar 32 persen.

Hipertensi saat hamil dapat menyebabkan keracunan kehamilan dan kejang. Dokter spesialis kebidanan dan kandungan Andrijono dari RS Cipto Mangunkusumo Jakarta mengatakan bahwa kondisi ini belum diketahui penyebabnya secara jelas.

“Pada umumnya terjadi karena pembuluh darah menyempit ketika hamil sehingga tekanan darahnya naik,” ujarnya.

Dia menuturkan bahwa kondisi tekanan darah tinggi itu dapat memicu kejang pada ibu hamil, bahkan berakhir koma.

Tidak hanya itu, bayi juga berisiko mengalami kematian karena kekurangan oksigen. Intinya, ibu dan anak berisiko mengalami kematian jika hipertensi tidak terdeteksi dan tertangani dengan baik.

Andrijono mengungkapkan bahwa kondisi hipertensi pada kehamilan dapat terjadi pada usia kehamilan 5 bulan atau 20 minggu. Apabila sudah terdeteksi, terapi dengan obat penurun tekanan darah yang aman bagi ibu hamil harus dikonsumsi.

Ibu yang pada awalnya tidak mengalami tekanan darah tinggi sebelum kehamilan bisa mengalaminya pada masa kehamilan. Itulah sebabnya jenis hipertensi yang ini perlu diwaspadai selama kehamilan. Walau tidak ada teori yang secara jelas mendeskripsikan penyebab hipertensi saat hamil, para ahli kesehatan berkeyakinan bahwa kurang nutrisi juga berpengaruh.

Bagi ibu hamil yang status gizinya baik, biasanya risiko mengalami preeklamsia lebih rendah dibandingkan dengan ibu hamil yang status gizinya buruk.

Hal ini dapat terlihat dari angka kejadian preeklamsia yang rendah di negara maju yang status gizinya baik. Berbeda dengan di Indonesia dan negara berkembang lainnya, angka kejadian hipertensi pada kehamilan termasuk masih tinggi.

Risiko ‘penyakit dadakan’ lainnya yang mengancam ibu hamil adalah diabetes melitus.

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan Ardiansjah Dara dari RS Jakarta di Jakarta mengatakan bahwa kasus diabetes melitus perlu diperhatikan dan ditangani dengan serius.

“Ibu yang tadinya tidak punya riwayat diabetes, tiba-tiba setelah diperiksa ternyata mengalami diabetes,” ujarnya.

POLA MAKAN

Menurut dokter yang kerap disapa Dara ini, kejadian diabetes pada ibu hamil dapat terjadi karena pola makan yang salah seperti makanan berkalori tinggi.

Diabetes melitus yang tidak terkontrol pada ibu hamil pada umumnya sangat berbahaya. Paling fatal adalah bayi meninggal dunia di dalam rahim. Sering kali kejadian diabetes pada kehamilan terdeteksi melalui USG yakni janin yang berukuran sangat besar. “Selain tumbuh sangat besar di kandungan, bayi juga dapat mengalami gangguan insulin,” katanya.

Kaitan antara kadar gula darah yang tinggi dan perkembangan janin adalah terjadinya perubahan kondisi metabolik. Apabila si ibu tidak terkontrol kadar gula darahnya, maka janin juga turut terpengaruh kondisi kesehatannya. Untuk kasus seperti ini, penanganan harus segera dilakukan. Ibu hamil penderita diabetes harus diterapi obat dan diatur pola makannya dengan tepat.

Risiko kehamilan seperti hipertensi dan diabetes sebetulnya dapat dihindari jika deteksi dini dilakukan. Pemeriksaan kehamilan secara rutin dan teratur akan membantu mencegah dan mendeteksi kondisi-kondisi yang tidak diinginkan.

Semua ibu hamil sebaiknya sadar untuk menjaga kehamilan melalui pemeriksaan kehamilan atau antenatal care.

Selama pemeriksaan kehamilan, mereka akan diperiksa melalui indikator timbang berat badan, tinggi badan, tekanan darah, nilai status gizi, tinggi fundus uteri, periksa presentasi dan denyut jantung janin, screening status imunisasi tetanus, pemberian tablet tambah darah, pemeriksaan laboratorium dan kelainan, serta konseling.

Artinya, jika ibu hamil mengikuti seluruh proses pemeriksaan kehamilan ini secara berkala, hal-hal yang tidak diinginkan dapat diatasi segera.

Dara mengatakan bahwa pemeriksaan kehamilan setidaknya harus dilakukan minimal empat kali sepanjang kehamilan. Sementara itu, anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pemeriksaan kehamilan sebaiknya dilakukan sebanyak delapan kali sepanjang kehamilan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hipertensi

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top