Jam Tidur Berantakan Picu Diabetes

Orang yang memiliki jadwal tidur yang tidak teratur disertai dengan jumlah jam tidur yang tidak sama setiap harinya lebih berisiko mengalami masalah kesehatan seperti obesitas, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 08 Juli 2019  |  13:29 WIB
Jam Tidur Berantakan Picu Diabetes
Ilustrasi Diabetes Melitus - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Orang yang memiliki jadwal tidur yang tidak teratur disertai dengan jumlah jam tidur yang tidak sama setiap harinya lebih berisiko mengalami masalah kesehatan seperti obesitas, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes.

Selama ini kita mengetahui bahwa kurang tidur adalah salah satu faktor risiko dari berbagai masalah gangguan metabolik tersebut. Peneliti Tianyi Huang dari Harvard Medical School di Boston mengatakan bahwa selama ini fokus penelitian hanya berfokus pada efek jumlah jam tidur, tetapi bukan pada jadwal tidur setiap harinya.

“Dari penelitian ini kami menunjukkan bahwa perbedaan jadwal tidur dan durasi tidur ternyata terkait dengan risiko lebih tinggi mengalami masalah metabolisme,” ujar Huang. Hasil penelitian Huang dan kawan-kawan menunjukkan bahwa jadwal tidur yang tidak teratur memberikan dampak negatif pada kesehatan. Dia menekankan bahwa durasi tidur pendek pada malam sebelumnya tidak bisa digantikan dengan memperpanjang durasi tidur pada hari berikutnya.

Peneliti melakukan studi terhadap 2.003 peserta selama satu minggu dengan menggunakan perangkat bernama agtigraphs, yang dapat menilai tidur di malam hari, termasuk sikluk bangun tidur.

Dari seluruh peserta penelitian ditemukan bahwa mereka tidur sekitar 7,15 jam setiap malam dan tidur pada pukul 23.40. Sekitar 2/3 dari mereka memiliki lebih dari satu jam variasi tidur, dan 45% lagi memiliki variasi satu jam dalam jadwal tidur mereka.

Sebanyak 707 peserta (35%) ternyata mengalami sindrom metabolik atau beberapa jenis kelainan metabolisme lainnya yang meningkatkan risiko penyakit jantung seperti peningkatan tekanan darah, gula darah, lemak, serta kolesterol.

Orang yang memiliki jadwal tidur bervariasi dengan perbedaan 60-90 menit setiap hari lebih mungkin mengalami sindrom metabolik, yakni 27% dari peserta. Sementara itu, risiko menjadi lebih meningkat pada orang yang memiliki perbedaan 90-120 menit variasi dalam durasi tidur, dan melonjak 57% pada orang yang tidak teratur jadwal tidur dan durasi tidurnya yakni perbedaannya lebih dari 2 jam sehari.

Studi ini bukan eksperimen terkontrol yang dirancang untuk membuktikan bagaimana perubahan dalam durasi tidur atau waktu tidur dapat secara langsung menyebabkan sindrom metabolik. Akan tetapi, penelitian ini membuktikan bahwa kesehatan metabolisme berkaitan dengan jam biologis seseorang. Jika kita tidur pada waktu dan jumlah berbeda, jam internal kita mungkin mengalami kesulitan untuk tetap sinkron.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
diabetes, pola tidur

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top