Dunia yang Berbeda dari Enam Perupa

Lukisan ibarat bahasa isyarat. Cara untuk berkomunikasi dan menampilkan jati diri. Di saat bersamaan, lukisan juga mewujud sebagai komitmen diri dalam melihat dunia tanpa kata-kata.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 13 September 2019  |  09:22 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Lukisan ibarat bahasa isyarat. Cara untuk berkomunikasi dan menampilkan jati diri. Di saat bersamaan, lukisan juga mewujud sebagai komitmen diri dalam melihat dunia tanpa kata-kata.

Kata-kata itu terlontar dari Stephane Dovert, Direktur Institut Francais Indonesia (IFI) saat membuka pameran bertajuk Six Signs pada Selasa (10/9/2019) malam. Pameran yang menampilkan beragam karya seni murni dari enam perupa berbakat. 

Keenam orang itu adalah Jay Briones De Gala, Dara Sinta, Novandi, Alief, Ireng Halimun, dan Wahyu Oesman. Mereka menyalurkan kegelisahan lewat goresan kuas di atas kanvas. Goresan itu membentuk tanda yang diterjemahkan seperti bahasa isyarat. 

"Mereka menceritakan enam kisah tentang perempuan dan laki-laki yang akan menghadirkan pada kita sebuah dunia, dunia yang mereka resapi, yang ingin mereka bagikan ke masyarakat umum," ujar Dovert. 

Begitu pula dunia milik Jay Briones. Dengan gaya pointilisme yang kental, Jay menjadikan titik sebagai kekuatan. Titik-titik itu bermesraan dalam mewujudkan komposisi  dari objek lukisan. Sementara materi subjeknya adalah kemanusiaan dan perdamaian dengan judul lukisan United for Peace. 

"Saya begitu bersemangat berkarya karena ibadah kepada Yang Mahakuasa dengan menjembatani kemanusiaan dan perdamaian," kata pria kelahiran Filipina tersebut. 

Sementara dunia Ireng Halimun adalah dunia yang gelisah. Kegelisahan tersebut dia tuangkan lewat cat akrilik di atas kanvas berukuran 99x146x3,5 cm. Lukisan yang memperlihatkan ketajaman garis dan gradasi warna itu berjudul Masih ada Asa. 

Menurut Ireng, dirinya menikmati kegelisahan saat mengeksplorasi sensasi dari cipratan dan lelehan cat hingga menemukan sinyal berupa objek lukisan. Hasilnya, Ireng seringkali mengabaikan kaidah perspektif anatomi, proporsi, dan komposisi dalam melukis. 

"Berkesenian bukanlah sekadar suatu pilihan, tetapi suatu kebutuhan. Karena ia sebagai kebutuhan, maka di dalam berkesenian saya mengedepankan afeksi [kecintaan] terhadap apa yang saya lakukan," ujarnya. 

Dunia melukis bagi Alief berbeda lagi. Menurutnya, melukis adalah menyampaikan bagian dari olah jiwa dan olah rasa. Hasil dari perjalanan, pemikiran, dan perenungan, sekaligus ungkapan syukur kepada Sang Pencipta. 

Dengan menguasai teknik menggambar bentuk dan model, Alief menuangkan gagasannya ke atas kanvas dengan kecenderungan surealistik. Dia tidak sekadar melakukan peniruan [mimesis] terhadap objek, tetapi memperkayanya dengan gagasan spiritual yang keluar dari kelaziman. 

Lukisan berjudul Tassawuf miliknya memperlihatkan perpaduan pengalaman dan perjalanan Alief dalam melihat dunia. Seekor kupu-kupu disertai kelopak bunga merah tergambar jelas dalam guratan cat akrilik di atas kanvas berukuran 95x95 cm. 

Karya dari tiga perupa lainnya juga menampilkan dunia berbeda. Namun, tiap lukisannya memperlihatkan benang merah, yaitu kesatuan perspektif atas dunia yang tertuang lewat karya dan tanpa kata-kata. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
seni rupa

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top