Salah Kaprah Obat di Tengah Masyarakat

Edukasi atas pengobatan yang baik dan benar tampaknya belum terjadi menyeluruh dalam masyarakat.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 25 September 2019  |  14:46 WIB
Salah Kaprah Obat di Tengah Masyarakat
Ilustrasi - nhschallengeprizes

Bisnis.com, JAKARTA - Edukasi atas pengobatan yang baik dan benar tampaknya belum terjadi menyeluruh dalam masyarakat.

Masih banyak salah kaprah yang terjadi terkait kualitas obat, cara penggunaan obat, dan penyimpanan obat. Hal ini dinilai terjadi karena masyarakat maupun tenaga kesehatan belum memanfaatkan peran apoteker sebaik mungkin.

Dalam peringatan hari Hari Apoteker Sedunia (World Pharmacist Day) 25 September 2019, Ikatan Apoteker Indonesia menyampaikan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan terkait medikasi.

Tema Hari Apoteker Sedunia tahun ini adalah Safe and Effective Medicine for All, sehingga mendorong masyarakat untuk menerima edukasi dan memahami tentang pengobatan yang aman dan efektif.

Wakil Sekretaris Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) R. Dettie Yuliati mengatakan bahwa pihaknya kini tengah gencar dalam melakukan sosialisasi DaGaSiBu.

Sosialisasi ini bertujuan mengedukasi masyarakat agar dapat mengetahui pengetahuan penting tentang obat.

DaGaSiBu berarti: Dapat: mendapatkan obat di tempat yang resmi, (2)  Guna: gunakan obat dengan benar sesuai jenisnya, (3) Simpan: bagaimana menyimpan obat di rumah, dan (4) Buang: membuang sisa obat dan kemasannya dengan aman.

Untuk mengetahui informasi tersebut, masyarakat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan apoteker ketika membeli obat.

“Saat di apotek, pasien bisa meminta kepada pihak apotek untuk bertemu langsung dengan apotekernya untuk mendapat penjelasan mengenai obat yang akan dikonsumsi,” ujar Dettie dalam acara Optimalisasi Peran Apoteker untuk Menjamin Pengobatan Rasional dan Cost-Effective yang diselenggarakan oleh PT Hexpharm Jaya di Jakarta, Kamis (24/9/2019).  

Dia juga menyoroti salah kaprah penggunaan antibiotik pada masyarakat.

“Ada obat yang harus dikonsumsi sampai habis yakni antibiotik, karena itu perlu ditanyakan kepada dokter apakah dalam resep ada antibiotik yang harus dihabiskan,” ujar Dettie.

Menurutnya obat antibiotik harus dihabiskan dalam proses pengobatan agar tidak memicu resistensi. Antibiotik juga tak bisa dibeli sembarangan di apotek tanpa resep dokter.

Masyarakat juga sering salah paham soal merek obat sehingga cenderung gonta-ganti jenis obat.

 "Sering beli obat A, dianggap tidak ampuh lalu diganti ke merek B, lalu diganti lagi ke merek C, tetapi tidak memperhatikan zat aktif dan dosis yang sebetulnya diperlukan," ujarnya. 

Padahal, untuk menentukan khasiat obat bukan saja soal merek, tetapi zat aktif dalam obat dan dosis yang pas.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
obat, antibiotik, apoteker

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top