Mengatasi Stigma Penyakit Mental

Penyakit mental bukan lelucon atau candaan. Namun, sayang sekali sebagian masyarakat masih melabeli para penderita penyakit mental dengan stigma negatif. Padahal para penderita penyakit mental sudah cukup berat dalam menghadapi kondisinya, tetapi masih dihantui juga dengan ketakutan akan penolakan dan stigma dari masyarakat
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 29 September 2019  |  16:57 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Penyakit mental bukan lelucon atau candaan. Namun, sayang sekali sebagian masyarakat masih melabeli para penderita penyakit mental dengan stigma negatif. Padahal para penderita penyakit mental sudah cukup berat dalam menghadapi kondisinya, tetapi masih dihantui juga dengan ketakutan akan penolakan dan stigma dari masyarakat.

Masyarakat tampaknya masih berjuang untuk menerima penyakit mental. Penyakit mental tidak diterima sebagai kondisi medis, bahkan cenderung dianggap tidak setara dengan penyakit fisik. Orang-orang dengan penyakit mental sering merasa tidak diterima.

“Apakah keluarga saya akan tetap mencintai saya jika mereka tahu? Akankah teman-teman saya tetap mau berteman jika mengetahui tentang diagnosis saya? Apakah kinerja saya di tempat kerja akan dinilai dengan bias yang negatif karena penyakit saya,?”

Pertanyaan-pertanyaan ini membebani mereka sehingga sering kali memilih untuk merahasiakannya. Akhirnya, situasinya tidak pernah diketahui orang lain dan dia hidup dalam rasa malu, tertekan, dan takut.

Semua ini harusnya bisa dihentikan apabila pemahaman mengenai penyakit mental dipahami dengan benar oleh penderita maupun masyarakat. Stigma bahwa penyakit mental adalah sesuatu yang memalukan harus dihentikan. Penderita penyakit mental seharusnya diberikan pertolongan dan dukungan.

Bagaimana caranya menghapus stigma negatif mengenai penyakit mental? Berikut ini beberapa strategi yang bisa dilakukan:

1. Dapatkan informasi yang jelas dan faktual

Semua orang harus membekali diri dengan pengetahuan yang benar mengenai penyakit mental. Kesadaran ini yang akan memudahkan Anda untuk membantu orang yang dicintai atau anggota keluarga mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan demi pemulihan dan kesehatan emosional.

Pelajari tentang apa itu gangguan mental dan apa yang bukan. Ketahuilah bahwa penyakit mental bukanlah kegagalan moral, dosa, atau kelemahan. Kondisi itu adalah penyakit, sama halnya dengan penyakit jantung atau asma. Persoalannya, penyakit ini termanifestasi dengan gangguan pemikiran, respons emosional yang abnormal, dan penurunan fungsi.

Dengan mengedukasi diri sendiri tentang penyakit mental itu, Anda akan belajar menghapus stigma dengan sendirinya.

2. Sadar akan kata-kata Anda

“Pekerjaan ini bikin stres, saya depresi!","Aku ini OCD kalau soal bersih-bersih rumah”, “Saya bingung mengambil keputusan, kayaknya skizofrenia deh,”

Kita sering kali menggunakan nama-nama penyakit mental seolah-seolah itu adalah hal biasa. Lebih parah lagi, banyak orang yang menjadikannya lelucon. Anda mungkin tidak bermaksud mengatakannya dengan arti yang harafiah, tetapi bagi orang dengan penyakit mental sangatlah menyedihkan jika mendengar penyakitnya dijadikan lelucon.

Artinya, bersikap dan bertindaklah bijaksana saat kita berhubungan dengan mereka yang memiliki penyakit mental, termasuk kata-kata yang kita gunakan dalam bahasa sehari-hari. Pastikan bahwa Anda menghargai mereka.

3. Tunjukkan kasih sayang

Jangan jauhi teman, rekan kerja, keluarga yang memiiliki penyakit mental. Dengarkan mereka. Hormati apa yang mereka rasakan. Pahami bahwa penyakit mental mungkin tidak hilang begitu saja dengan sendirinya. Kondisi ini membutuhkan perawatan dan pengobatan.

Menghindari dan mengabaikan hanya akan melanggengkan stigma soal penyakit mental yang membuat mereka merasa lebih terisolasi. Tingkatkan empati Anda dan tunjukkan kasih sayang untuk mendukung mereka.      

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sakit jiwa

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top