Membacakan Buku Cetak Pada Balita Lebih Baik Dibandingkan Dengan Buku Digital

Balita tampaknya jauh lebih merasakan ikatan batin dengan orang tua saat mendengarkan cerita yang dibacakan melalui buku. Hal ini dinilai lebih baik dibandingkan saat orang tua membacakan cerita dari gawai seperti tablet digital. Fakta ini berdasarkan penelitian yang diterbikan dalam jurnal JAMA Pediatrics 2019.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  12:16 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Balita tampaknya jauh lebih merasakan ikatan batin dengan orang tua saat mendengarkan cerita yang dibacakan melalui buku. Hal ini dinilai lebih baik dibandingkan saat orang tua membacakan cerita dari gawai seperti tablet digital. Fakta ini berdasarkan penelitian yang diterbikan dalam jurnal JAMA Pediatrics 2019.  

Para peneliti menemukan bahwa anak-anak lebih mendapatkan kesenangan ketika cerita dibaca dari sebuah buku. Hal ini mungkin terjadi karena balita dan orang tua cenderung sulit mengendalikan momen membacakan cerita jika menggunakan tablet.

 "Ketika orang tua dan balita menggunakan tablet untuk bercerita, sulit bagi mereka untuk memiliki saat-saat untuk terhubung satu dengan lainnya," kata Tiffany Munzer, peneliti dan dokter anak di CS Mott Children's Hospital dan University of Michigan di Ann Arbor, Amerika Serikat. Dia mengatakan bahwa desain tablet merupakan perangkat pribadi, sehingga orang tua dan anak-anak tidak terbiasa menggunakannya bersama-sama.

Untuk melihat apakah perbedaan ketika orang tua membaca untuk balita mereka dengan buku atau tablet, Munzer dan rekan-rekannya mengumpulkan 37 pasangan orangtua-anak dan menjalankan percobaan tiga bagian.

Orang tua membaca untuk anak-anak mereka dari buku berbasis tablet, sebuah buku dasar berbasis tablet, dan buku cetak. Anak-anak yang menjadi peserta penelitian semuanya berusia 24—36 bulan dan tidak memiliki keterlambatan perkembangan atau kondisi medis yang serius.

Sesi membaca dilakukan di ruang laboratorium yang telah diatur agar terlihat seperti ruang tamu dengan sofa dan sebuah kotak dengan tiga buku (satu teks dan dua digital) ditempatkan di luar jangkauan anak-anak. Ruangan tersebut juga dilengkapi dengan cermin satu arah dan kamera.

Selama sesi pembacaan, para peneliti melacak posisi tubuh dan mengawasi perilaku orang tua dan anak-anak. Peneliti mencatat perilaku anak misalnya ketika seorang anak menguasi buku (cetak/digital) sehingga orang tua akan memiliki lebih sedikit akses ke buku itu, atau jika anak itu menarik buku itu atau menutupnya.

Ketika para peneliti menganalisis rekaman video, mereka menemukan bahwa ketika orang tua membaca dari tablet, anak-anak 3,3 kali lebih mungkin memposisikan diri seolah-olah mereka membaca sendiri dibandingkan dengan ketika orang tua membaca dari buku cetak. Anak-anak juga lebih mungkin untuk mencoba mengendalikan tablet dan menjauhkan tangan orang tua dari tablet dibandingkan dengan buku cetak. Ketika orang tua membaca dari tablet penggunaan bahasa juga tidak begitu kuat.

“Dengan buku cetak, orang tua merasa lebih nyaman dengan anak-anak mereka dan membuat cerita menjadi hidup,” ujar Munzer.  Dia mengatakan desain tablet bisa jadi mengganggu kemampuan orang tua dan anak-anak untuk terlibat bersama. Padahal untuk merangsang fungsi kognitif anak, kegiatan membacakan buku harus menjadi pengalaman bersama orang tua dan anak.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
buku

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top