Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Singgung Seksisme, Film Ini Jadi Box Office dan Perbincangan di Korsel

Film adaptasi novel kontroversial dan terlaris di Korea Selatan tentang seksisme sehari-hari yang dialami wanita, menduduki box office Negeri Ginseng minggu ini. Kemunculannya menyalakan kembali debat nasional mengenai peran wanita dalam masyarakat yang didominasi oleh pria.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 31 Oktober 2019  |  14:31 WIB
Seorang penonton berjalan di dekat layar yang memainkan trailer "Kim Ji/young, Born 1982" di sebuah bioskop di Seoul, Korea Selatan 30 Oktober 2019.
Seorang penonton berjalan di dekat layar yang memainkan trailer "Kim Ji/young, Born 1982" di sebuah bioskop di Seoul, Korea Selatan 30 Oktober 2019.

Bisnis.com, JAKARTA - Film adaptasi novel kontroversial dan terlaris di Korea Selatan tentang seksisme sehari-hari yang dialami wanita, menduduki box office Negeri Ginseng pekan ini. Kemunculannya menyalakan kembali debat nasional mengenai peran wanita dalam masyarakat yang didominasi oleh pria.

"Kim Ji-young, Born 1982" berdasarkan buku yang terbit 2016 dengan judul yang sama. Film dirilis di Korea Selatan minggu lalu dan langsung menyoroti praktik di dalam negeri mengenai seksisme, gerakan #MeToo anti-pelecehan, dan feminisme.

Kisah ini mengikuti seorang wanita yang sudah menikah berusia 30-an yang merasa dipaksa oleh keadaan sosial untuk melepaskan pekerjaan dan impiannya untuk membesarkan anaknya.

Film ini menjadi No. 1 di box office Korea Selatan sejak dibuka seminggu lalu dan berhasil menjual 9,7 miliar won (US $8,3 juta) tiket, menurut data terbaru dari Dewan Film Korea.

Sejumlah wanita di antara hadirin menangis saat pemutaran film di sebuah bioskop kecil di Seoul.

Seo Mi-jeong, seorang wanita berusia 23 tahun yang berada di antara mereka yang menangis selama pemutaran film, mengatakan film itu tampak kurang bersemangat “feminis” daripada sekadar gambaran realistis tentang tantangan yang dihadapi perempuan.

"Meskipun ada beberapa bagian yang tampaknya dibesar-besarkan karena cerita, tetapi itu menyentuh kenyataan di masyarakat Korea Selatan yang menjauhkan wanita dari generasi yang berbeda dari kehidupan yang ingin mereka pimpin," katanya, dilansir Reuters, Kamis (31/10/2019).

Film ini menyoroti perbedaan gender yang mencolok, termasuk meningkatnya jumlah pria muda Korea Selatan yang berpikir feminisme dan gerakan #MeToo telah melampaui kegunaannya.

"Saya tidak bisa berempati dengan premis bahwa seorang wanita yang lahir pada 1982 didiskriminasi ketika dia tumbuh dewasa," kata Kim Won-koo, seorang pria berusia 29 tahun yang melihatnya pada hari pembukaan. "Banyak situasi yang tampaknya tidak realistis atau sangat, sangat langka."

Wanita memberi nilai film rata-rata 9,5 dari 10 bintang di Naver, portal pencarian web teratas Korea Selatan, sementara pria memberi rata-rata 2,5 bintang.

Bagian dari keberhasilan box office tampaknya datang dari wanita Korea Selatan yang membeli tiket untuk mendukung tujuan tanpa benar-benar pergi ke bioskop.

Dalam sebuah survei terhadap 1.000 orang Korea Selatan berusia antara 19 dan 44 tahun oleh jajak pendapat Realmeter pada bulan September, 81,2% responden mengatakan konflik gender adalah masalah serius di Korea Selatan.

Korea Selatan telah menyaksikan perdebatan antara feminis dan tokoh publik pria dalam beberapa tahun terakhir ketika gerakan #MeToo menjerat sejumlah politisi, pekerja hiburan, agamawan dan atlet terkemuka yang dituduh melakukan pelecehan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Film
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top