Pengadaan Vaksin PCV Lewat Unicef Bisa Hemat Anggaran Hingga Rp3,58 Triliun

Pemerintah diminta memanfaatkan skema pembelian vaksin pneumonia (PCV) melalui United Nations Children's Fund (Unicef) guna menghemat anggaran.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 12 November 2019  |  21:34 WIB
Pengadaan Vaksin PCV Lewat Unicef Bisa Hemat Anggaran Hingga Rp3,58 Triliun
Pekerja melakukan pengemasan saat memproduksi vaksin di laboratorium milik PT Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Selasa (28/8/2018). - ANTARA/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah diminta memanfaatkan skema pembelian vaksin pneumonia (PCV) melalui United Nations Children's Fund (Unicef) guna menghemat anggaran.

Ahli sistem kesehatan dari Indonesia Technical Advisory Group on Immunization Soewarta Kosen mengatakan harga pasar vaksin PCV mencapai US$20 per dosis. Adapun, tiap bayi wajib diberikan 3 dosis vaksin PCV tiap tahunnya.

Di Indonesia sendiri, jumlah bayi yang membutuhkan vaksin PCV mencapai 5 juta orang per tahunnya. Hal itu membuat anggaran yang dibutuhkan pemerintah untuk melakukan pengadaan vaksin tersebut secara normal mencapai US$300 juta/tahun atau sekitar Rp4,2 triliun/tahun.

“Sementara itu, jika kita membeli vaksin PCV melalui skema global lewat Unicef yang didukung oleh Gates Foundation, kita bisa mendapatkan harga vaksin senilai US$2,93 per dosis,” katanya dalam Forum Group Discussion (FGD) Urgensi Optimalisasi Pengadaan Vaksin Baru Terkait Efisiensi Anggaran, Selasa (12/11/2019).

Dengan demikian, lanjutnya, apabila pemerintah mengambil skema pengadaan melaui Unicef maka anggaran yang dibutuhkan pemerintah untuk pengadaan vaksin PCV menjadi sekitar US$43,95 juta/tahunnya atau sekitar Rp615,3 miliar/tahun.

Alhasil, pemerintah bisa menghemat anggaran pengadaan vaksin tersebut hingga Rp3,58 triliun/tahun.

Sementara itu, Direktur Anggaran Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Purwanto mengatakan apabila skema pembelian vaksin PCV melalui Unicef diadopsi, maka upaya penghematan anggaran dapat dilakukan oleh pemerintah.  Di sisi lain, upaya pemerintah memperluas jangkauan layanan  kesehatan dasar pun dapat terlaksana.

“Sekarang, kami tinggal melakukan pembahasan mendetail dengan Kementerian Kesehatan, untuk menindaklanjuti tawaran dari Unicef tersebut,” katanya.

Adapun, Indonesia menempati peringkat ketujuh dunia, sebagai negara dengan angka kematian bayi berusia di bawah lima tahun tertinggi akibat  pneumonia.

Di Indonesia rata-rata kematian akibat penyakit pneumonia terhadap anak di bawah lima tahun mencapai 25.000 orang per tahunnya. Kematian akibat penyakit pneumonia menyumbang 17% dari total kematian anak di bawah lima tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
vaksin, pneumonia

Editor : Wike Dita Herlinda
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top