Studi: Anak Muda Panik saat Tak Diberi Akses Smartphone

Hampir seperempat anak muda sangat tergantung pada smartphone mereka hingga hal ini menjadi seperti kecanduan.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 02 Desember 2019  |  07:28 WIB
Studi: Anak Muda Panik saat Tak Diberi Akses Smartphone
Dua orang membuka laman Google dan aplikasi Facebook melalui gawainya di Jakarta, Jumat (12/4/2019). Pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Badan Usaha Tetap (BUT) untuk mengejar pemasukan pajak dari perusahaan asing yang berbasis di luar negeri namun bertransaksi dan memperoleh penghasilan di Indonesia termasuk perusahaan-perusahaan besar 'Over The Top' (OTT) atau daring seperti Google, Facebook, Youtube dan lain-lain. - ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Bisnis.com, JAKARTA - Hampir seperempat anak muda sangat tergantung pada smartphone mereka hingga hal ini menjadi seperti kecanduan.
 
Pernyataan tersebut adalah hasil dari penelitian psikiatris dari King's College London, yang menerangkan perilaku adiktif ini membuat anak muda menjadi 'panik' atau 'kesal' jika mereka tidak dapat mengakses smartphonenya. 
 
Millenial dan gen Z terutama juga tidak dapat mengontrol waktu yang mereka habiskan untuk mengakses smartphonenya. Dikutip dari BBC, studi ini seperti sebuah peringatan bahwa kecanduan smartphone memiliki 'dampak serius' bagi kesehatan mental.
 
Penelitian yang diterbitkan dalam BMC Psychiatry tersebut menganalisis 41 studi yang melibatkan 42.000 anak muda dalam investigasi terhadap 'penggunaan smartphone yang bermasalah'.
 
Studi ini menemukan 23 persen millenial dan gen z memiliki perilaku yang konsisten dengan kecanduan smartphone seperti kegelisahan jika tidak dapat menggunakan smartphone, tidak mampu memoderasi waktu yang dihabiskan dan menggunakan ponsel hingga melupakan aktivitas lain. 
 
Perilaku adiktif seperti itu dapat dikaitkan dengan masalah kesehatan mental seperti stres, suasana hati yang tertekan, kurang tidur dan menurunnya prestasi akademik.
 
"Smartphone perlu dikontrol penggunaan dan kebutuhannya karena adanya prevalensi penggunaan smartphone yang bermasalah," kata salah satu penulis laporan, Nicola Kalk, dari Institute of Psychiatry, Psychology and Neuroscience di King's College London.
 
"Kami tidak tahu apakah smartphone itu sendiri yang dapat membuat ketagihan atau aplikasinya yang membuat ketagihan," sambungnya. 
 
Namun demikian, lanjutnya, kesadaran publik tentang penggunaan smartphone pada anak-anak dan remaja, dan orang tua harus mulai meningkat terutama daei segi durasi yang dihabiskan anak muda mengakses ponsel mereka.
 
Meski begitu, Amy Orben, peneliti di MRC Cognition and Brain Sciences Unit di University of Cambridge, mengingatkan hubungan sebab akibat antara penggunaan smartphone dan gejala depresi masih memerlukan studi lebih lanjut.
 
"Telah ditunjukkan sebelumnya bahwa efek smartphone bukan satu arah, tetapi suasana hati itu dapat memengaruhi durasi penggunaan smartphone juga," kata Dr Orben.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
smartphone, adiktif

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top