Kolaborasi Dengan CTI, Bika Living Rilis Furnitur Berbahan Tenun

Brand furnitur Bika Living melalui inisiatifnya, Bika Kain, berkolaborasi dengan Cinta Tenun Indonesia (CTI) untuk mengaplikasikan kain tenun pada produk interior yang berkualitas.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 18 Desember 2019  |  19:30 WIB
Kolaborasi Dengan CTI, Bika Living Rilis Furnitur Berbahan Tenun
Pemilik Bika Living, Karina L. Cheung di Pacific Place, Jakarta Selatan pada Rabu (18/12/2019) - Bisnis.com - Ria Theresia Situmorang

Bisnis.com, JAKARTA - Brand furnitur Bika Living melalui inisiatifnya, Bika Kain, berkolaborasi dengan Cinta Tenun Indonesia (CTI) untuk mengaplikasikan kain tenun pada produk interior yang berkualitas. 

Pada Rabu (18/12/2019), bertempat di outletnya di Pacific Place, Bika Living mengumumkan kerjasama yang sebenarnya sudah mulai dilakukan pada bulan lalu.

"Sekitar bulan lalu kita ada satu acara dengan Cinta Tenun Indonesia (CTI) untuk inisiatif kita yang namanya Bika Kain untuk men-develop handmade Indonesian textiles untuk menjadi produk interior bisa untuk cushion dan lain-lain," ujar pemilik Bika Living, Karina L. Cheung. 

Didirikan pada tahun 1975, Bika Living mencoba kolaborasi dengan CTI yang didirikan oleh Oktiniwati Ulfa Dariah Rajasa yang pada perilisannya Rabu (18/12/2019) diwakili oleh puterinya Siti Ruby Aliyah Rajasa.  

"10 tahun lalu ibu saya mendirikan Cita Tenun Indonesia atau yang dikenal CTI melalukan pelestarian pada tenun. Alhamdulilah negara kita diberkahi adat istiadat dan juga banyak tenun serta pakaian khas daerah. Salah satunya yang dilestarikan CTI adalah tenun yang kini saya kerjakan dengan kakak saya," ujar Aliyah. 

Menantu dari Susilo Bambang Yudhoyono tersebut menjelaskan awalnya ia sangat kesusahan memperkenalkan tenun sebagai komoditas untuk pakaian apalagi furnitur kepada masyarakat awam.  

"Karena kalau tarik balik ke 10 tahun lalu, agak nggak wajar ketika itu untuk pergi ke mall pakai jaket tenun atau misalnya pakai celana bahan dari tenun. Itu masih nggak wajar. Pertama, tenun itu umumnya dimiliki sama yang ada turunannya kaya saya orang Sumatera, jadi memang sudah dkenal. Dan kemudian harganya agak mahal karena nggak banyak yang jual," jelas Aliyah. 

Siti Ruby Aliyah Rajasa - Bisnis.com/Ria Theresia Situmorang

"Setelah ada CTI dan Bu Ani (Yudhoyono) dulu ada bazaar UMKM, dan pengenalan produk daerah serta desainer mulai memakai untuk ready to wear melalui satu tren untuk publik figur akhirnya terciptalah kebiasaan," sambungnya. 

Untuk produk furnitur sendiri, Karina menyebut jenis tenun yang ia pilih sebagai bahan dasar adalah tenun garut yang memang memiliki kelebihan yakni warnanya menarik dan polanya yang lebih modern. 

"Kita cushion, range harganya Rp1,5 juta sudah termasuk isinya kita ada 2 slices hingga Rp2,1 juta. Iya ini buatan Indonesia tapi bukan berarti harganya harus murah," ujar Karina. 

"Market juga harus tahu kalau kerajinan tangan juga mementingkan quality. Bukan berarti buatan tangan Indonesia harus murah. Idenya menaikkan derajat hidup dari orang yang membuatnya yakni penenun," tutup Karina.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
furnitur

Editor : Andhika Anggoro Wening
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top