KLB Antraks Gunungkidul Dicabut, tak Ada Peringatan untuk Kunjungan Turis

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyebutkan sudah menghapus status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk kasus penyebaran penyakit antraks di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 20 Januari 2020  |  16:19 WIB
KLB Antraks Gunungkidul Dicabut, tak Ada Peringatan untuk Kunjungan Turis
Petugas menyiapkan vaksin antraks di kantor Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Wonosari, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Jumat 17 Januari 2020. - Antara/Hendra Nurdiyansyah

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyebutkan sudah menghapus status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk kasus penyebaran penyakit antraks di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam kronologinya yang dijelaskan Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Kemenkes Anung Sugihantono, disebutkan status KLB ditetapkan pada wilayah tersebut saat terdapat 21 korban diketahui terinfeksi penyakit antraks dengan 1 korban meninggal dunia dengan diagnosa meningitis pada minggu ke-52 tahun 2019.

“Sekarang tidak (KLB) dalam konteks kasus, karena pada tahun 2020 ini minggu pertama dan kedua ini sudah tidak ada kasus tentang antraks,” ungkap Anung saat ditemui di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan pada Senin (20/1/2020).

Hasil laboratorium Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor secara utuh pada tanggal 13 Januari lalu merincikan terdapat 54 sampel yang diperiksa dengan 27 sampel yang positif maupun negatif.

Penanganan untuk kasus ini selanjutnya dijelaskan adalah dengan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan di daerah Gunungkidul baik di puskesmas maupun klinik milik swasta agar lebih cepat menemukenali persoalan ini.

“Intinya kita ingin meningkatkan kewaspadaan tanpa membuat kepanikan. Bupati, Gubernur dan Kementerian Kesehatan sepakat tidak ada larangan berkunjung ke Gunungkidul. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tapi kewaspadaan perlu ditingkatkan,” tutur Anung.

Laporan terakhir yang diterima Kementerian Kesehatan akibat kematian hewan di wilayah tersebut  terjadi pada tanggal 6 Januari 2020. Hal itu pun tidak didukung oleh hasil laboratorium yang menyebutkan kalau kematian tersebut disebabkan oleh penyakit antraks.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Ditjen P2P, Siti Nadia Tarmizi melanjutkan salah satu cara agar kejadian ini tidak terulang kembali selain dari menetapkan cara hidup sehat adalah dengan menjaga kebersihan hewan yang diperlihara maupun dikonsumsi.

“Pencegahan antraks untuk kasus yang di Gunungkidul, hewan yang sakit tidak dibagikan dan dipastikan hewan yang sehat lah yang dibagikan pada masyarakat. Kita juga memastikan hewan ternak sehat jadi vaksinasi pada hewan karena vaksin antraks ada pada hewan bukan pada manusia,” pungkas Nadia.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gunungkidul, antraks

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top