Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Konsumen Indonesia Makin Sering Pakai Transaksi Non Tunai

Gaya hidup orang Indonesia saat ini sudah mulai beralih pada metode cashless dan mulai banyak menggunakan aplikasi digital.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 29 Januari 2020  |  08:24 WIB
Transaksi tol non tunai - Istimewa
Transaksi tol non tunai - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Gaya hidup orang Indonesia saat ini sudah mulai beralih ke metode cashless dalam bertransaksi dan mulai banyak menggunakan aplikasi digital.

Kondisi ini menjadi sebuah potensi investasi Indonesia dan upaya pemerintah memprioritaskan digitalisasi untuk perekonomian dalam negeri.

Presiden Direktur Bank Central Asia, Jahja Setiaatmadja, dalam sebuah wawancara video yang dilakukan oleh Oxford Business Group mengatakan mengatakan bahwa saat ini pemerintah terus melakukan persiapan dalam rangka memajukan Indonesia agar mampu merasakan manfaat dari perkembangan fintech dan layanan digital lainnya.

"Indonesia sedang mengejar China dan negara lainnya dalam hal teknologi. Dalam 10 tahun ke depan, Indonesia harus punya teknologi baru karena sudah banyak fintech yang masuk ke dalam negeri." ujarnya dikutip dari siaran pers yang diterima Bisnis.com.

Dia menambahkan bahwa nasabah BCA juga sudah menggunakan berbagai aplikasi digital dan 98% transaksi nasabah dilakukan secara digital tanpa perlu datang ke kantor cabang.

"Perusahaan fintech punya kelebihan karena mampu menyediakan platform. Di sisi lain, nasabah juga ingin menggunakan platform yang menyediakan berbagai layanan. Perusahaan fintech perlu memiliki rekening bank. Kami mencoba menjalin kerja sama dengan banyak fintech dan hal ini menguntungkan bagi fintech dan perbankan.”

Beralih ke topik lain terkait dengan prospek perekonomian Indonesia, Jahja mengatakan bahwa upaya-upaya untuk mengatasi berbagai masalah perekonomian makro, memanfaatkan kelebihan yang dimiliki Indonesia, dan memprioritaskan pembangunan infrastruktur akan mampu menarik lebih banyak investasi dan memastikan pertumbuhan berkelanjutan di masa depan.

 “Indonesia berpotensi memiliki peran yang besar di Asia karena demografinya besar. Pemerintah menargetkan pertumbuhan sebesar 5,3% pada tahun 2020, melebihi tingkat pertumbuhan global sekitar 2,9%. Ritel, fesyen, makanan, dan pariwisata adalah sektor-sektor yang sangat prospektif dan menarik bagi para investor asing, ”ujar Jahja.

Marc-André de Blois, Director of PR and Video Content OBG, mengatakan bahwaberbagai potensi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang signifikan serta semakin banyaknya jumlah konsumen yang semakin paham teknologi.

 “Kemajuan teknologi online akan memberikan dampak yang luas bagi perekonomian dan pengembangan infrastruktur dalam negeri yang mampu mendukung upaya digitalisasi di Indonesia. Saya senang dapat menyampaikan informasi ini kepada para pelanggan. Saya yakin akan banyak yang semakin tertarik untuk mengetahui berbagai peluang investasi di Indonesia." ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

non tunai
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top