Orang Tua Menjambak Perempuan Muda di KRL, Ini Kata Psikolog

Stres yang menumpuk sama seperti balon yang terus diisi udara dapat menyebabkan individu tertentu meledak emosinya ketika tersentuh.
Yudi Supriyanto
Yudi Supriyanto - Bisnis.com 24 Februari 2020  |  20:46 WIB
Orang Tua Menjambak Perempuan Muda di KRL, Ini Kata Psikolog
Marah - boldsky.com

Bisnis.com, JAKARTA — Beberapa waktu viral video ibu-ibu di dalam kereta rel listrik (KRL) bertikai dengan seorang wanita muda terkait dengan kursi prioritas yang ada di dalam moda transportasi berbasis rel tersebut.

Dari sisi psikologi, psikolog Liza M. Djaprie mengungkapkan terdapat beberapa kemungkinan pertikaian di dalam moda transportasi berbasis rel tersebut dapat terjadi, yakni tekanan akibat lingkungan jaman sekarang yang memang individualis dan kondisi dari individu tersebut.

Menurutnya, kita hidup dalam dunia yang penuh tekanan dari banyak hal, seperti dari sisi kehidupan, keluarga, keuangan, atau sebagainya. Kondisi masyarakat yang individualistis kerap membuat stres yang dialami oleh individu mengalami peningkatan.

Stres yang menumpuk sama seperti balon yang terus diisi udara dapat menyebabkan individu tertentu meledak emosinya ketika tersentuh.

“Kita kan tidak tahu apa yang dialami ibu tersebut di rumah. Siapa tahu, mungkin, sudah sangat menumpuk sampai tidak disadari tiba-tiba terjadi lah ledakan tersebut,” katanya pada Senin (24/2/2020).

Kemungkinan kedua, dia mengungkapkan pertikaian yang terjadi dalam video viral di KRL tersebut juga erat kaitannya dengan kondisi kejiwaan individu. Bisa saja, dia menuturkan individu tertentu mengalami gangguan kejiwaan karena depresi yang erat kaitannya dengan perilaku destruktif. Kemudian, kemungkinan lainnya adalah karakter psikologis dari individu tersebut yang mudah marah-marah.

Dia mengungkapkan beberapa langkah perlu dilakukan individu agar stres yang dialami tidak sampai meledak. Menurutnya, individu harus memiliki kesadaran diri untuk mencari bantuan ketika mengalami stres.

Kemudian, lingkungan juga untuk lebih peduli terhadap kondisi tetangganya atau keluarganya untuk berkomunikasi ketika seseorang mengalami stres. Selain itu, individu juga bisa secara berkala konsultasi dengan psikolog seperti 6 bulan atau 1 tahun sekali.

Saat ini, beberapa pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) memiliki psikolog sehingga masyarakat bisa memanfaatkannya. Dia menambahkan masyarakat perkotaan secara umum memang lebih rentan terhadap tekanan sosial dan psikologis dengan kondisi-kondisi tersebut. Namun, tidak semua masyarakat perkotaan mengeluarkannya dengan marah-marah atau meledak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
orang tua, perempuan, krl

Editor : Novita Sari Simamora
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top