Kelly Tandiono Mulai Plogging dari Hobi Beres-beres dan Lari

Peraih juara kedua, Bali Marathon 2015 ini memulai plogging pada 2015 ini berawal dari hobi lari bersama teman-temannya saat car free day.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 17 Maret 2020  |  10:36 WIB
Kelly Tandiono Mulai Plogging dari Hobi Beres-beres dan Lari
Kelly Tandiono - Gloria Francisca

Bisnis.com, JAKARTA -Minimnya kesadaran dan edukasi dalam mengelola sampah mendorong model Indonesia, Kelly Tandiono memulai gerakan plogging, hobi lari sambil memungut sampah.

Peraih juara kedua, Bali Marathon 2015 ini memulai plogging pada 2015 ini berawal dari hobi lari bersama teman-temannya saat car free day. Dia mengaku pengajaran sedari kecil dalam keluarga membuat Kelly kerap risih ketika melihat rumah yang berantakan, dan sampah yang berserakan. Dia sudah terbiasa memilah-milah sampah ataupun barang tak terpakai dalam rumahnya.

 “Aku biasa lakukan sendiri kalau lihat sampah ya aku ambil buang,” ujar Kelly kepada Bisnis saat dijumpai di EMJI Space Bellagio Mansion.

Plogging sendiri adalah kegiatan lari sambil memungut sampah yang sudah lebih dahulu populer di Swedia. Plogging berasal dari kata jogging dan ‘plocka-upp’ yang dalam bahasa Swedia artinya mengambil atau memungut. Olahraga ini dipopulerkan pertama kali oleh ahli lingkungan, Erik Ahlstorm yang berinisiatif untuk membersihkan kota Stockholm, Swedia, yang saat itu tidak bersih karena banyak timbunan sampah.

Kelly menilai, gerakan ini belum tumbuh sebagai komunitas yang rutin melakukan lari sambil memungut sampah. Alhasil, belum ada pula komunitas di setiap daerah yang gencar melakukan kampanye ini.

Perempuan yang hobi lari, diving, dan yoga ini mengaku gerakan plogging ini akhirnya malah menarik perhatian pihak swasta sebagai program CSR. Tak heran, brand ambassador Aqua ini akhirnya digandeng untuk mempopulerkan plogging saat CFD pada 2018 lalu. Dia pun menilai, di tengah keterbatasan edukasi, kesadaran, dan timpang tindihnya regulasi, langkah terdekat yang bisa ditempuh dalam menjaga lingkungan adalah menggandeng sektor swasta dan memanfaatkan hobi masyarakat, misalnya lari.

“Menurut aku, aktivitas plogging ini memang belum begitu populer, harusnya dimulai dari rumah dulu,” tuturnya.

Kelly menilai kegiatan plogging sangat potensial berkembang menjaid komunitas di seluruh Indonesia. Kuncinya, adalah mengajak para pelari terutama komunitas lari yang mau melakukan edukasi, dan punya kesadaran menyehatkan tubuh dan menyehatkan lingkungan. Selain itu, kegiatan plogging tak terbatas di ibu kota. Kelly menyatakan, dia terbiasa memungut sampah ketika melakukan pendakian gunung ataupun diving di laut.

Bisnis mencatat, tren olahraga eco-friendly ini sudah pernah terjadi pula di Maros Runners, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang berhasil mengumpulkan sampah hingga 50 kilogram. Hal yang sama terjadi pula saat Solo Runners melakukan aksi plogging di Surakarta, Jawa Tengah, pada Maret 2018 dan berhasil mengumpulkan sampah sampai 90 kilogram.

Salah satu mentor Asian Next Top Model ini berharap, lebih banyak lagi komunitas dan relawan yang mau mempopulerkan gerakan ini sembari melakukan hobi masing-masing, lari ataupun diving sambil mengumpulkan sampah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
olahraga

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top