WAWANCARA EKSKLUSIF BOS EIJKMAN: Puncak Penularan Corona 2 Pekan Lagi

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengharapkan dalam dua pekan ke depan serangan Covid-19 akan turun.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 20 Maret 2020  |  15:32 WIB
WAWANCARA EKSKLUSIF BOS EIJKMAN: Puncak Penularan Corona 2 Pekan Lagi
Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengharapkan dalam dua pekan ke depan serangan Covid-19 akan turun. - Bisnis/Nyoman Ary Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA - Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengharapkan dalam dua pekan ke depan serangan Covid-19 akan turun.

Amin memberi contoh fenomena di China, saat wabah Corona memuncak lalu berakhir pada pekan kedua. Saat ini lembaga yang ia pimpin masih berupaya mempelajari model dan karakteristik Covid-19.

Berikut kutipan wawacara khusus reporter Bisnis.com Nyoman Ary Wahyudi dengan Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio. 

Pasien positif Covid-19 terus meningkat, apakah pemerintah kecolongan dalam mengantisipasi penyebaran virus ini?

Pada awalnya yang saya pahami Menkes mengikuti pedoman yang dibuat oleh WHO yakni hanya memeriksa mereka yang ada gejala dan yang punya riwayat kontak. Lalu sikap yang diambil adalah menunggu mereka yang ada gejala dan riwayat kontak yang memenuhi kriteria diagnosis untuk diperiksa. Kita bisa melihat jumlah yang diperiksa otomatis sedikit, kebijakan saat itu yang diperiksa mengikuti pedoman WHO. Dengan demikian, pemerintah tidak melakukan survei terbuka, karena saat itu Indonesia dianggap belum terjangkit. Sampai kemudian, akhir Februari kemarin kasus 01 dan 02.  

Etry point-nya adalah mereka ada gejala dan riwayat kontak lalu diadakan penelusuran, ketemulah beberapa kasus. Tetapi orang-orang itu kan sudah keburu menyebarkan ke orang lain dalam beberapa hari, otomatis jumlahnya bertambah.

Pemerintah berupaya melacak riwayat kontak pasien positif Covid-19 dan menerapkan social distancing measure, apakah langkah ini efektif mengatasi penularan virus?

Itu sangat efektif, artinya secepat mungkin kita mendapatkan orang yang membawa virus semakin cepat kita memutus ruang gerak virus. Sebelum orang itu pergi kemana-mana dan kontak dengan orang lain itu bisa segera dibatasi. Hanya saja, saat itu masyarakat belum mengetahui soal itu dan cenderung menghindar ketika ditelusuri. Sekarang masyarakat sudah memiliki pemahaman yang baik untuk melakukan pemeriksan sendiri.

Terkait social distancing, itu salah satu upaya memutus rantai penularan. Virus ini ditularkan oleh droplet sejauh sekitar 2 meteran, untuk mencegah adanya kontak langsung misalkan, ada orang bicara keras, bersin atau batuk jangan sampai droplet itu jatuh ke tubuh orang lain.

Tapi semakin ke belakang, kesadaran masyarakat diharapkan semakin baik, sehingga tidak perlu diawasi, sehingga tidak perlu diatur.

Droplet sebagai pembawa virus itu bisa bertahan berapa lama?

Teragantung dia di permukaan apa, dan tergantung virus itu ada di dalam bahan-bahan apa, semisal virus itu terlontar dan masih dalam partikel cairan tubuh bisa bertahan cukup lama beberapa hari.

Tetapi, jika jatuh di permukaan kering yang tidak mendukung dia, maka virus itu bisa cepat mati, atau jatuh di permukaan zat yang membunuh dia, misalkan. Jatuh ke tangan kita hanya bisa tahan 15 menit karena di tangan kita ada enzim tertentu.

Tapi 15 menit bukan waktu yang sebentar kan, bisa pegang macam-macam.

Kalau kita hirup bisa berapa lama bertahan virus itu?

Virus itu langsung nempel di saluran napas, bisa bertahan lama tergantung kekebalan, daya tahan, tubuh kita. Jika kekebalan tubuh kita baik, sel-sel bisa menolak dia, akhirnya bisa mengeleminasi. Tetapi butuh waktu, selama kekebalan cukup baik, virus tidak masuk sel itu tetap bisa dilemparkan kembali dan tetap menular.

Tetapi jika kekebalan kurang baik dan bisa masuk sel dan berkembang biak di situ, mulai demam, batuk, karena sudah sempat berkembang biak, itu bisa menularkan virus dalam jumlah yang lebih banyak.

Secepat apa dan bagaimana karakteristik penyebaran virus Covid-19 ini?

Virus ini kan sebagian besar virus hewan, ada 200 jenis virus Corona, hanya tujuh jenis yang bisa menginfeksi manusia, sebagian besar adalah virus hewan, yang tujuh itu kan ada Middle East respiratory syndrome (MERS), Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) Coronavirus 1.

Sekarang Sars Coronavirus 2, dan 4 lagi adalah jenis coronavirus manusia yang hanya menyebabkan gejala flu ringan dan itu banyak beredar.

Kenapa virus hewan ini bisa masuk ke manusia? 

Itu melalui proses mutasi dan adaptasi. Virus itu mungkin loncat dari hewan liar ke manusia, awalnya tidak menyebabkan sakit, terus balik lagi ke hewan, bolak-balik, selama bertahun-tahun, akhirnya dia bisa beradaptasi menjadi virus manusia, maka dengan mudah dia bisa menularkan ke orang lain, Karena ia sudah mengenali reseptor di tubuh manusia.

Dibandingkan dengan yang SARS coronavirus pertama, bagaimana perbedaannya?

Yang kedua ini lebih cepat penularannya tapi potensi kematinnya tidak setinggi yang pertama, yang pertama itu angka kematiannya sekitar 9 persen sedangkan yang ini 3 persen, dilihat dari angka kematiannya, potensinya tidak setinggi virus pertama tapi lebih cepat menular ada yang bilang 20 kali lebih cepat penularannya.

Apakah Eijkman sudah dapat mempelajari migrasi virus serta data persebaran virus Covid-19 di masyarakat untuk nantinya membuat prediksi (modelling) tentang titik balik lonjakan virus ini?

Itu yang kita harapkan, tapi itu baru bisa dilakukan jika kita sudah memiliki isolat virusnya terlebih dahulu supaya kita bisa mengetahui informasi genetik dari virus Covid-19 secara keseluruhan.

Kita perlu menumbuhkan si virus di medium supaya jumlahnya agak lebih banyak, lalu kita pelajari seluruhnya, RNA-nya (Ribonucleic acid), dari situ kita akan bandingkan virus yang ada di Depok itu sama atau tidak dengan yang Jakarta Utara atau tempat lain.

Dari situ kita bisa memprediksi gerak virusnya bagaimana, sekarang kan sudah ada yang terinfeksi di luar Jawa, kita belum tahu yang di Pontianak itu dari klaster mana, hanya bisa dilihat dari struktur gen-nya, jadi dibandingkan sebenarnya kedekatannya.

Selama ini kan hanya berdasar riwayat kontaknya, lebih cenderung ditularkan dari mana.

Sudah berapa isolat yang dipelajari?

Kami masih memproses, masih butuh waktu beberapa minggu. Harus ditanam di sel, karena virus itu tidak bisa hidup di dalam medium biasa, harus ada sel. Sudah dikirim beberapa sampel pasien yang sempat dirawat di rumah sakit, kami sudah menerima 200-an, yang positif ada 20-an dalam proses berikutnya kita kultur dan isolasi.

Dari pengalaman Eijkman atau lembaga penelitian di Indonesia soal pandemi baru, butuh waktu berapa lama untuk benar-benar memahami model dari virus tersebut? 

Tergantung dari jumlah sampel yang ada, dan juga distribusi sampel yang positif itu artinya kita mesti kerja sama dengan laboratorium lain yang memeriksa mesti disamakan.

Yang pernah itu kan Flu Burung waktu itu ya, tapi belum sampai terlalu jauh, kita juga banyak isolatnya tapi tidak sampai melakukan studi serperti itu, karena pandeminya hilang waktu itu, enggak perlu beberapa tahun.

Ihwal upaya sejumlah lembaga penelitian termasuk Eijkman untuk membuat vaksin Covid-19, sudah sejauh mana upaya itu dikerjakan?

Kita baru di tahap yang sangat awal, baru beberapa kali pertemuan, untuk membahas grand design, roadmap, breakdown structure dan juga anggarannya, secara teknis belum ada kemajuan yang bisa dilaporkan. Kita harapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama akan ada produk awal.

Kendala apa yang ditemui ketika berupaya membuat vaksin Covid-19?

Karena kita belum ada isolatnya, karena bikin vaksin yang mudah adalah - kalo virus - kita isolasi virusnya, kita lemahkan terus diberikan kepada pasien. Tetapi itu mengandung selain ada keuntungan terdapat juga kerugian. Ketika virus tidak banyak dipakai lagi, lebih banyak kita menggunakan bagian-bagian dari virus itu, dan itu biasanya menggunakan teknologi rekayasa genetika, juga protein-protein rekombinan, kita mendesain vaksinnya. Kalau sudah bagus, baru diserahkan ke industri.

Kalau kita menggunakan virus lengkap, sifat antigenisisasinya cukup besar, karena dia virus yang utuh. Tetapi agak riskan karena kita harus membiarkan virus hidup, dibiarkan dan diperbanyak kemudian dilemahkan.

Produksinya juga berisiko lantaran infeksi dan beberapa jenis vaksin lengkap jika diberikan dapat menimbulkan reaksi tubuh yang tidak diinginkan. Jika kita gunakan teknologi rekayasa genetika, kita sudah dapat bibitnya maka dengan mudah untuk diperbanyak dan yang diperbanyak itu bagain lain dari virus itu. Dengan demikian, sangat aman, kita memproduksi dalam jumlah besar, lebih cepat dan murah.

Apakah Eijkman bisa memprediksi kapan virus Covid-19 ini berakhir?

Pada umumnya setiap pandemik dan epidemik itu punya kurva, setiap naik pasti bakal turun lagi ketika di puncak. Jumlah kasus baru di China menurun sejak dua pekan lalu, kita lihat sejumlah rumah sakit sudah ditutup di China. Itu antara lain karena kekebalan kelompok sudah terbentuk, sehingga makin lama penyebaran virus itu bisa dibatasi, sehingga angka penularannya bisa menurun.

Saat ini, di Indonesia berusaha menghentikan laju penularan. Saat ini memang grafiknya naik cukup tajam. Kita harapkan dua minggu ke depan, sampai di puncak, untuk segera turun. Prediksi secara tidak langsung tentu kita harus berkoordinasi dengan ahli pandemiologi tapi pada umumnya di sekitar dua tiga bulan ke depan akan turun.

Bagaimana seharusnya masyarakat menanggapi naiknya grafik penyebaran Covid-19 di tanah air?

Tentu selalu kita bilang ke masyarakat untuk waspada tetapi jangan panik, setelahnya masyarakat harus aktif berpartisipasi untuk menerapkan imbauan pemerintah seperti social distancing untuk menghentikan rantai penularan virus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
eijkman, Virus Corona

Editor : Saeno
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top