Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tren Rumah Ramah Lingkungan Perlu Dukungan

Konsep green building yang berlaku saat ini belum sepenuhnya memberikan dampak pada lingkungan karena beberapa masih menggunakan air conditioner.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 05 April 2020  |  22:55 WIB
Foto udara perumahan di kawasan Cihanjuang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (5/4/2020). Bisnis - Rachman
Foto udara perumahan di kawasan Cihanjuang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (5/4/2020). Bisnis - Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Tren bangunan rumah ramah lingkungan (green building) masih memerlukan dukungan semua pihak agar menjadi opsi baru bagi pengembang dalam merealisasikan bisnis properti.

Arsitek rumah murah Yu Sing menyatakan konsep green building yang berlaku saat ini belum sepenuhnya memberikan dampak pada lingkungan. Dia mengambil contoh, konsep green building masih menggunakan air conditioner.

Adapun, pembedanya terletak hanya pada kapasitas efisiensi. Misalnya saja untuk bangunan yang mengambil sertifikasi platinum akan mengefisiensi energi listrik sampai 45%. Padahal, menurut dia selain efisiensi harus ada pengendalian penggunaan AC agar tidak mengikis lapisan ozon.

“Paling parah dari AC itu egois dingin di dalam, panas di luar. maka meski di Singapura banyak green building, namun tetap panas. Suhunya tinggi,” terang Yu Sing kepada Bisnis, beberapa waktu yang lalu.

Pendiri perusahaan jasa konsultan arsitektur Akar Anomali (Akanoma) ini menyatakan, belum optimalnya efek green building menyebabkan beralihnya sejumlah tren arsitektur dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

Misalnya, banyak gedung yang kini mulai beralih menggunakan material alami terbarukan sehingga konsumsi energi lebih rendah, hanya perlu peningkatan teknologi untuk membuatnya kokoh.

Berdasarkan presentasinya yang berjudul ‘Peran Arsitektur dalam Kelesterian Bumi’, Yu Sing menyatakan sejumlah dampak perubahan iklim yang ada, arsitektur hijau sulit menjadi tren arus utama. Kondisi ini karena arsitektur hijau belum optimal oleh sebab itu dia mempopulerkan jenis rumah mikro.

Adapun rumah mikro ini memperkecil emisi karbon dengan menghemat lahan dan ruang. Ukuran rumah saja hanya terdiri dari 1 kamar orangtua, 1-2 kamar anak, 1 dapur, dan 1 ruang makan keluarga, dan 1 mesin cuci. Luas denah untuk rumah mikro ini hanya 8,75 meter dengan sistem mezzanine.

“Konsep ini masih belum populer di kalangan developer, namun saya sedang diupayakan dan dikampanyekan,” jelas Yu Sing.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rumah sederhana green building
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top