Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ada Kasus Ebola Baru di Kongo, Virus Apa dan Bagaimana Gejalanya?

Sepanjang 18 - 30 Mei 2020, terdapat empat kematian akibat virus Ebola di Mbandaka, Kongo yang tersebar di wilayah yang sama.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 04 Juni 2020  |  17:14 WIB
Seorang pekerja kesehatan disemprot klorin setelah mengunjungi pasien ebola di area perawatan isolasi di rumah sakit  Bikoro, Republik Demokratik Kongo, Sabtu (12/5). - Reuters/Jean Robert N\\\'Kengo
Seorang pekerja kesehatan disemprot klorin setelah mengunjungi pasien ebola di area perawatan isolasi di rumah sakit Bikoro, Republik Demokratik Kongo, Sabtu (12/5). - Reuters/Jean Robert N\\\'Kengo

Bisnis.com, JAKARTA - Kasus ebola kembali menghampiri daratan Afrika. Kali ini negara bagian Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo menjadi pusat penyebaran baru.

Seperti dilansir dari WHO, Rabu (3/6/2020), sepanjang 18 - 30 Mei 2020, terdapat empat kematian di Mbandaka, Kongo yang tersebar di wilayah yang sama.

Keempatnya mengalami demam dan pendarahan sebelum kematian. Dua orang di antaranya sempat mendatangi Rumah Sakit Umum Rujukan di Wangata. Namun, hanya satu orang yang sempat melakukan tes swab.

Parahnya, pemakaman keempatnya, tidak dilakukan dengan protokol keamanan.

Hingga 2 Juni 2020, terdapat delapan kasus dugaan ebola, termasuk dua orang positif, dua orang terduga ebola, dan empat orang meninggal. Sejak 1 Juni 2020, Kementerian Kesehatan setempat langsung mendeklarasikan wabah ebola di Provinsi Equateur.

Sejak 8 Mei - 24 Juli 2018, Equateur telah melaporkan kasus positif ebola sebanyak 54 orang dan 33 kematian. Kali ini adalah wabah ke-11 sejak ebola virus disease (EVD) menghinggapi Kongo pertama kalinya pada 1976.

EVD yang sebelumnya dikenal sebagai demam berdarah Ebola, adalah penyakit parah yang seringkali berakibat fatal pada manusia dan primata lainnya.

Virus ini ditularkan ke manusia dari hewan liar (seperti kelelawar buah, landak, dan primata non-manusia) dan kemudian menyebar ke populasi manusia melalui kontak langsung dengan darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lain dari orang yang terinfeksi.

Bahkan benda-benda dengan permukaan (misalnya tempat tidur, pakaian) yang terkontaminasi dengan cairan juga bisa menjadi sumber penularan.

Tingkat kematian rata-rata kasus EVD adalah sekitar 50 persen. Angka fatalitas kasus bervariasi dari 25 - 90 persen pada musim wabah yang lalu.

Masa inkubasi virus berlangsung selama 2 - 21 hari. Seseorang yang terinfeksi ebola tidak dapat menularkan virus sampai mereka mengalami gejala.

Gejala EVD di antaranya demam, kelelahan, otot, sakit, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Hal itu diikuti dengan muntah, diare, ruam, gejala gangguan fungsi ginjal dan hati, dan dalam beberapa kasus perdarahan internal dan eksternal (misal keluar dari gusi atau darah di tinja).

Selain itu, temuan laboratorium juga menunjukkan penderita ebola memiliki jumlah sel darah putih dan trombosit yang rendah dan peningkatan enzim hati.

SUDAH ADA VAKSIN

Vaksin Ebola eksperimental terbukti sangat protektif terhadap EVD dalam percobaan besar di Guinea pada 2015. Percobaan vaksin yang disebut rVSV-ZEBOV melibatkan 11.841 orang.

Di antara 5.837 orang yang menerima vaksin, tidak ada kasus ebola baru yang tercatat 10 hari atau lebih setelah vaksinasi. Sebagai perbandingan, ada 23 kasus pada 10 hari atau lebih stelah vaksinasi di antara mereka yang tidak menerima vaksin.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kongo afrika Virus Ebola
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top