Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sindrom Patah Hati Meningkat Selama Pandemi Virus Corona

Tekanan finansial, trauma fisik, kekerasan, kesedihan, dan bentuk lain dari tekanan emosional selama pandemi virus corona yang ekstrim dapat memicu stres kardiomiopati.
Krizia Putri Kinanti
Krizia Putri Kinanti - Bisnis.com 13 Juli 2020  |  12:23 WIB
Selama pandemi virus corona, masyarakat rentan terserang rasa gelisah hingga kemarahan dan kesedihan - Verywell
Selama pandemi virus corona, masyarakat rentan terserang rasa gelisah hingga kemarahan dan kesedihan - Verywell

Bisnis.com, JAKARTA -- Ketika orang-orang mengalami tekanan emosional yang hebat selama pandemi, para peneliti mengatakan itu berdampak buruk pada kesehatan jantung mereka.

Dari kegelisahan masalah kesehatan terkait pandemi dan perjuangan ekonomi, hingga kemarahan dan kesedihan atas pembunuhan polisi yang rasis, tingkat stres telah meningkat selama beberapa bulan terakhir. 

Para ahli medis memperhatikan peningkatan sindrom patah hati selama karantina. Sindrom patah hati atau dikenal sebagai kardiomiopati stres atau kardiomiopati Takotsubo, sindrom patah hati bisa terasa seperti serangan jantung.

Ditandai dengan berkeringat, mual, sesak napas, jantung berdebar, dan nyeri dada, sindrom patah hati tidak membunuh sel-sel jantung Anda seperti halnya serangan jantung.

Dikutip dari Bustle, Senin (13/7/2020), menurut Johns Hopkins Medical, lonjakan hormon stres seperti adrenalin sementara membuat hati Anda tersengat. Stress cardiomyopathy jarang berakibat fatal, tetapi ini masih merupakan masalah besar - dan pandemi ini bahkan membuatnya menjadi lebih umum.

Menurut sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Network Open, tingkat sindrom patah hati di antara pasien dengan kondisi jantung yang ada meningkat menjadi 7,8 persen, dibandingkan dengan 1,7 persen dari pasien yang didiagnosis dengan stres kardiomiopati sebelum pandemi. Para peneliti membandingkan jumlah diagnosis hampir 2.000 pasien sebelum dan selama Covid.

Mereka menentukan bahwa di samping meningkatnya insiden jantung itu sendiri, rata-rata orang yang tinggal di rumah sakit untuk stres kardiomiopati lebih lama daripada mereka pra-pandemi. Tingkat kematian akibat sindrom patah hati, belum meningkat selama Covid.

Bila menggunakan obat-obatan, orang-orang bisa pulih dari stres kardiomiopati, tetapi muncul risiko kerusakan pada jantung.

Menurut The American College of Cardiology, tekanan finansial, trauma fisik, kekerasan, kesedihan, dan bentuk lain dari tekanan emosional yang ekstrim dapat memicu stres kardiomiopati. Meskipun ada banyak peristiwa kehidupan yang penuh tekanan yang tidak dapat dikendalikan oleh individu, terutama selama pandemi, mengelola kesehatan mental Anda dapat membantu mencegah kerusakan jantung, menurut American Heart Association.

Jika Anda memiliki kondisi yang mendasari seperti masalah kesehatan jantung sebelumnya atau diabetes, waspada terhadap kesejahteraan emosional Anda dapat menjaga sistem kardiovaskular Anda agar tidak kewalahan.

Berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental dan ahli jantung, serta menyusun rencana perawatan diri yang komprehensif dan berkelanjutan, dapat membantu Anda melewati pandemi dalam kesehatan jantung yang baik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

stres Virus Corona covid-19 pandemi corona
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top