Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Asap Kebakaran Hutan Dapat Tingkatkan Risiko Covid-19

Luke Monstrose, ahli toksikologi lingkungan dari Boise State University menjelaskan dampak merugikan dari polusi udara, terutama asap dari kebakaran hutan terhadap kesehatan di tengah pandemi virus corona baru.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 15 September 2020  |  18:35 WIB
Pengendara sepeda motor melintasi jalan yang dipenuhi kabut asap kebakaran hutan dan lahan, di Pekanbaru, Riau, Senin (14/9). Akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan, jarak pandang di Pekanbaru tidak lebih dari 100 meter pada pagi hari. - Antara/Rony Muharrman
Pengendara sepeda motor melintasi jalan yang dipenuhi kabut asap kebakaran hutan dan lahan, di Pekanbaru, Riau, Senin (14/9). Akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan, jarak pandang di Pekanbaru tidak lebih dari 100 meter pada pagi hari. - Antara/Rony Muharrman

Bisnis.com, JAKARTA – Pakar kesehatan mengkhawatirkan penurunan kualitas udara dan asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit virus corona Covid-19, terutama bagi kalangan petugas pemadam yang sedang berupaya memadamkan api.

Luke Monstrose, ahli toksikologi lingkungan dari Boise State University menjelaskan dampak merugikan dari polusi udara, terutama asap dari kebakaran hutan terhadap kesehatan di tengah pandemi virus corona baru.

Dia mencatat bahwa kombinasi suhu tinggi dan peningkatan kadar partikel dari api dapat berdampak negatif pada kesehatan paru-paru. Jika orang mengalami kerusakan pada organ itu, bahkan partikel asap dalam kadar sedang dapat memperburuk masalah pernapasan.

“Itu hanya awal dari cerita tentang bagaimana asap api memengaruhi manusia yang menghirupnya. Selebihnya adalah bagaimana agar tetap sehat, penting untuk dipahami saat musim api di wilayah barat tiba,” katanya dalam publikasi di The Conversation, seperti dikutip Selasa (15/9).

Isi asap api bergantung pada beberapa faktor seperti bahan apa yang terbakar dan jarak antara asap dengan orang yang menghirupnya. Makin jauh jarak perjalanan asap, makin beracun di mana matahari dan bahan kimia lain dapat memengaruhi isi asap saat bergerak.

Asap dari kebakaran hutan mengandung ribuan senyawa, termasuk bahan kimia beracun seperti karbon monoksida, senyawa organik yang mudah menguap, nitrogen oksida, hidrokarbon, dan juga karbon dioksida.

Selain itu, partikel yang berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer (PM2.5) juga sangat berbahaya karena dapat dengan mudah masuk ke paru-paru dan menembus alveoli, yang bertanggung jawab atas pertukaran gas dalam tubuh.

Menurut Montrose, tubuh manusia memiliki mekanisme pertahanan terhadap partikel yang lebih besar dari PM2,5. Tubuh batuk atau bersin ketika partikel ini mencoba masuk ke dalam saluran udara. Namun, partikel yang lebih kecil dapat melewati mekanisme ini dan masuk lebih dalam hingga ke paru-paru.

Ketika partikel asing masuk ke paru-paru, sistem kekebalan mengirimkan makrofag untuk mengeluarkannya. Penelitian sebelumnya menunjukkan paparan terus menerus terhadap peningkatan kadar asap kayu dapat menekan fungsi makrofag, meningkatkan risiko radang paru.

Peradangan paru dapat memengaruhi orang terhadap infeksi, termasuk infeksi virus corona baru atau Covid-19. Dia menambahkan papara asap api dalam waktu lama juga dapat meningkatkan risiko kerusakan paru-paru yang berpotensi menyebabkan masalah kardiovaskular.

Adapun, dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat yang diterbitkan di medRxiv pada April lalu, ilmuwan juga menemukan bahwa paparan jangka panjang terhadap PM2,5 dapat membuat Covid-19 lebih mematikan.

Oleh sebab itu, para peneliti menganjurkan untuk tidak keluar rumah karena dapat mengurangi risiko paparan asap yang dapat memengaruhi kualitas udara di luar ruangan. Montrose juga merekomendasikan orang harus tahu tentang kualitas udara.

Lebih lanjut, dia menyebut tidak semua masker wajah dapat melindungi orang dari PM2.5 dan partikel asap lainnya. Dalam pandemi virus corona, lembaga kesehatan menyatakan bahwa masker kain cukup untuk melindungi virus.

Akan tetapi, masker kain tidak dapat menyaring partikel asap kayu. Oleh sebab itu dalam kasus ini disarankan untuk menggunakan masker N95 dengan cara yang tepat. Pasalnya, jika masker itu tidak dipakai dengan cara yang benar maka akan mengurangi kinerja yang seharusnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asap kebakaran hutan Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top