Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ahli Sebut Manusia Berperan dalam Kemunculan Penyakit Pandemi Corona

Saat manusia merusak keaneka ragaman hayati dan membunuh hewan, maka makhluk hidup bertubuh terkecil menjadi liar.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 22 September 2020  |  07:33 WIB
Rhinolophus sinicus. Spesies kelelawar merupakan pembawa banyak virus yang menyerang saluran pernapasan seperti SARS pada 2003 silam.  - Naturalis Biodiversity Center
Rhinolophus sinicus. Spesies kelelawar merupakan pembawa banyak virus yang menyerang saluran pernapasan seperti SARS pada 2003 silam. - Naturalis Biodiversity Center

Bisnis.com, JAKARTA – Para ilmuwan terus mempelajari virus corona baru dengan harapan dapat menghasilkan vaksin. Di sisi lain, sebagian besar ahli setuju bahwa virus berasal dari kelelawar dan kasus pertamanya dapat dikaitkan dengan pasar makanan laut di Wuhan, China.

Namun demikian, acara BBC baru bertajuk Extinction: The Facts yang dipandu penyiar David Attenborough mengungkap mengapa para ilmuwan percaya bahwa manusia mungkin juga disalahkan atas hubungan mereka dengan alam.

Peter Daszak, seorang ahli ekologi penyakit di EcoHealth Alliance mengatakan bahwa para peneliti telah melihat tingkat kemunculan pandemi yang meningkat dibandingkan dengan  beberapa periode sebelumnya.

“Kita pernah terkena flu babi, SARS, Ebola, dan kita selalu bertanya dari mana asalnya atau apa yang mungkin menyebabkannya? Kita telah menemukan bahwa manusia berada di balik setiap pandemi, dampak manusia terhadap lingkungan mendorong munculnya penyakit,” katanya seperti dikutip Express UK, Selasa (22/9/2020).  

Daszak melanjutkan dengan merinci sejauh mana dampak industri perdagangan di tingkat global berpengaruh terhadap hal ini. Dia menyebut perdagangan satwa liar berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Menurutnya, manusia kini memiliki pasar yang sangat besar dengan puluhan ribu hewan hidup, menyebarkan virusnya melalui kotoran dan air seni. Ini adalh tempat yang sangat mungkin terjadinya penyebaran virus.

“Kita telah melihat peningkatan besar dalam penggunaan trim bulu untuk jaket musim dingin, dan itu berarti ratusan ribu hewan dibesarkan di peternakan,” tandasnya.

Felicia Keesing, ahli ekologi penyakit dari Bard College menjelaskan bagaimana infeksi ini dapat berpindah dari hewan ke manusia. Dia berkata hewan memiliki banyak virus berbeda yang bersirkulasi di dalam tubuhnya, sama seperti manusia.

Selanjutnya, salah satu cara paling jelas agar virus lebih mungkin melompat adalah dengan lebih banyak kontak antara hewan dan manusia. Lebih buruk lagi ketika hewan-hewan tersebut stres sehingga melepaskan virus pada tingkatan yang lebih tinggi.

Daszak percaya campur tangan manusia di habitat alami memainkan peran besar dalam wabah pandemi, termasuk Covid-19. Menurutnya, sekitar 31 persen dari semua penyakit yang muncul berasal dari proses perubahan tata guna lahan, sementara manusia terus merambah habitat satwa liar.

Hutan di seluruh dunia, di mana terdapat banyak keanekaragaman hayati memiliki ribuan virus yang belum diketahui. Maka, begitu manusia mulai membuat koneksi, tak terelakkan virus itu juga mulai terekspos.

“Orang pertama yang masuk ke kamp penerbangan, keluar dan berburu daging hewan liar, lalu terkena virus. Begitulah cara HIV muncul,” kata Daszak.

Dia juga melanjutkan penjelasan bagaimana konsumsi manusia terhadap produk juga meningkatkan risiko. Setelah hewan masuk dalam peternakan, virus berpindah dari satwa liar ke ternak, lalu ke manusia. Setiap langkah ini telah mendekatkan orang dengan satwa liar dan virusnya.

Keesing juga menjelaskan mengapa menghancurkan habitat alami dapat menyebabkan peningkatan jumlah hewan yang lebih kecil seperti kelelawar, yang pada akhirnya dapat membawa dan menyebarkan penyakit.

Menurut penilaiannya, ketika manusia mengubah habitat alami hewan, ada juga hal lain yang berperan. Tidak semua spesies membuat orang jadi sakit. Seringkali, reservoir terbaik untuk patogen adalah spesies bertubuh kecil seperti tikus dan kelelawar.

Ketika manusia memiliki sistem alami yang utuh dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, spesies kecil ini tetap terkendali. Akan tetapi, ketika manusia menghancurkan habitat, predator besar dan herbivora menghilang lebih dahulu.

“Yang berarti spesies bertubuh kecil adalah pemenangnya. Mereka berkembang biak dengan liar. Mereka hidup dengan kepadatan super tinggi dan jauh lebih mungkin membuat manusia menjadi sakit,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manusia virus Virus Corona covid-19 pandemi corona
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top