Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Remaja Puber Dini Berisiko Kecenderungan Depresi dan Bunuh Diri

Studi ini dilakukan Institusi Nasional untuk Penelitian Kesehatan, Pusat Penelitian Bristol Biomedical (NIHR Bristol BRC) dan dipublikasikan melalui jurnal Epidemiologi dan Ilmu Psikiatrik dilansir Medical Xpress.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 07 Oktober 2020  |  17:54 WIB
Depresi - cadasorg
Depresi - cadasorg

Bisnis.com, JAKARTA - Studi menyebutkan remaja yang mengalami pubertas lebih dahulu dibandingkan dengan teman seumurannya, meningkatkan risiko untuk melukai diri sendiri atau punya risiko bunuh diri pada masa remajanya.

Studi ini dilakukan Institusi Nasional untuk Penelitian Kesehatan, Pusat Penelitian Bristol Biomedical (NIHR Bristol BRC) dan dipublikasikan melalui jurnal Epidemiologi dan Ilmu Psikiatrik dilansir Medical Xpress.

Melalui lebih dari 5000 partisipan, peneliti menemukan remaja yang mengalami pubertas lebih awal baik laki-laki maupun perempuan yang diukur dari perkembangan tinggi badan, diasosiasikan dengan risiko lebih tinggi untuk melukai diri pada usia 16 tahun. Mereka juga menemukan bukti, untuk perempuan perasaan ini masih dirasakan hingga masa awal kedewasaan.

Selain juga beresiko lebih tinggi risiko melukai diri, remaja ini juga beresiko lebih tinggi mengalami gangguan mental seperti depresi.

Saat remaja baik laki-laki maupun perempuan mengalami perubahan dan pertumbuhan bentuk tubuh mereka secara signifikan. Penelitian kemudian menggunakan cara membandingkan tinggi remaja lalu menemukan bahwa remaja perempuan berada di puncak pertumbuhannya pada usia 11,8 tahun dan remaja laki-laki diusia 13,5 tahun.

Penelitian juga ditambah dengan laporan quisioner yang diikuti remaja usia 16 dan 21 tahun untuk mengukur apakah mereka pernah melukai diri sendiri. Satu dari sepuluh laki-laki dan 25 persen perempuan ditemukan pernah melukai diri sendiri saat berusia 16 tahun. Saat berusia 21 tahun, proporsi laki-laki yang pernah melukai diri sendiri menjadi 28 persen dan untuk perempuan menjadi 35 persen.

"Studi kami merupakan yang pertama menginvestigasi hubungan antara waktu puber dan tindakan melukai diri sendiri (self-harm) menggunakan pengukuran yang objektif dari waktu pubertas pada remaja laki-laki," ungkap Elystan Roberts, Universitas Bristol dan NIHR Bristol BRC.

Diketahui bahwa sebelumnya penelitian pada remaja laki-laki memang langka dilakukan karena selama ini yang biasa dijadikan sebagai subjek penelitian pada remaja adalah wanita.

"Terdapat bukti melukai diri sendiri menjadi tindakan lebih umum pada remaja, maka penting untuk mengidentifikasi faktor yang menyebabkan self-harm sehingga kita bisa menyediakan bantuan lebih awal untuk mereka yang mungkin berisiko lebih tinggi. Kami masih belum tahu banyak efek psikologis dari puber bagi remaja laki-laki karna waktu pubertas mereka sulit untuk dihitung, jadi hasil penelitian kami penting untuk membantu mengurangi risiko self-harm untuk remaja laki-laki maupun perempuan," terang Elystan.

"Tahapan selanjutnya adalah untuk mengidentifikasi mekanisme yang menjelaskan asosiasi ini. Mungkin terdapat hubungan faktor biologis seperti perkembangan syaraf atau perubahan hormon, atau bisa juga faktor psikologis. Ketika bisa memahami lebih baik alasan mengapa remaja lebih berisiko melukai diri sendiri, intervensi bisa dirancang dan diberikan untuk menolong risiko self-harm," tambah Dr. Becky Mars, rekan Elystan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

remaja Depresi
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top