Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hati-hati Norovirus di Indonesia, Begini Cara Mengatasinya

Dari 91 sampel feses yang diperiksa ternyata 14 sampel atau 15,4 persen mengandung Norovirus
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 19 Oktober 2020  |  09:20 WIB
Norovirus
Norovirus

Bisnis.com, JAKARTA - Norovirus, salah satu penyebab utama terjadinya infeksi usus akut (gastroenteritis) juga menyerang masyarakat Indonesia.

Dalam laporan yang dipublikasi di Jurnal of Medical Virology pada Mei 2020,  Dr.Juniastuti, dkk dari Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga, melaporkan bahwa dari 91 sampel feses yang diperiksa ternyata 14 sampel atau 15,4 persen mengandung Norovirus. 

Sampel penelitian yang dilakukan di awal 2019 ini diambil dari beberapa RS di kota Jambi. Kasus yang sama juga pernah dilaporkan dari beberapa kota di Indonesia.

Adapun baru-baru ini otoritas kesehatan China menyampaikan kejadian luar biasa (KLB)  yang disebabkan oleh norovirus. 

Berbeda dengan virus SARS-Cov-2, Guru besar pada Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, dr Ari Fahrial Syam mengatakan norovirus ditularkan melalui makanan atau istilah yang digunakan food borne. "Kejadian luar biasa bisa terjadi jika adanya makanan yang tercemar oleh virus ini," ujarnya dalam siaran pers, Senin (19/10/2020).

Secara umum gejala yang timbul ketika seseorang mengalami keracunan makanan antara lain demam, nyeri perut, diare, mual dan muntah. Gejala klinis ini juga muncul pada KLB Norovirus yang terjadi di Tiongkok tersebut tepatnya di  Provinsi Shanxi. 

Gejala klinis muncul akibat virus ini bisa terjadi dalam 24 jam setelah mengonsumsi makanan yang tercemar. Hal yang memang perlu diperhatikan adalah ketika jumlah KLB yang dilaporkan terus meningkat. 

Sampai saat ini dari informasi yang ada  dari Center for Disease Control and Prevention Tiongkok, lebih dari 30 KLB sudah terjadi sejak September 2020, melibatkan 1.500 kasus, terutama dilaporkan ditularkan melalui kantin karena adanya makanan yang tercemar. 

"Norovirus bukan virus baru dan bisa ditemukan di banyak negara, biasanya bermula dari restoran yang makanannya tercemar oleh norovirus ini dan akhirnya terjadi KLB akibat banyak pelanggan restoran tersebut yang terinfeksi," jelas Ari.

Menurutnya keberadaan keracunan makanan karena norovirus harus tetap diwaspadai. Untuk itu jika ada masyarakat mengeluhkan sejumlah gejala sepertk demam, nyeri perut, diare, atau muntah setelah mengonsumsi makanan, perlu dicek apakah norovirus sebagai penyebabnya. 

Ari menuturkan upaya yang dilakukan untuk mencegah agar tidak terjadi KLB akibat virus ini adalah kualitas makanan harus tetap terjaga baik disediakan oleh restoran, kantin, atau di rumah tangga. Selan itu, masyarakat juga harus selalu rajin mencuci tangan pakai sabun. 

Lebih lanjut dia mengatakan sampai saat ini prinsip penanganan kalau terinfeksi oleh norovirus adalah memberikan obat-obatan untuk menghilangkan gejala sakit dan mencegah terjadinya dehidrasi akibat muntah dan diare. 

"Mengganti makanan dengan yang lebih lunak seperti bubur dan menghindari makan pedas dan berlemak," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

makanan virus
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top