Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kenali Postpartum Depression Usai Melahirkan

Riwayat kecemasan dan depresi sebelumnya adalah salah satu faktor utama yang umumnya terkait dengan peningkatan risiko postpartum depression.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 19 Oktober 2020  |  19:05 WIB
Perempuan sedang hamil
Perempuan sedang hamil

Bisnis.com, JAKARTA - Menjadi ibu baru tentunya menjadi tantangan bagi banyak wanita. Tak sedikit pula mereka yang mengalami postpartum depression (PPD) atau depresi pasca persalinan.

Depresi Pascapersalinan, atau lebih dikenal dengan PPD, didefinisikan sebagai suasana hati yang mudah tersinggung dan depresi berat yang dapat terjadi pada ibu baru. Melansir Boldsky, Senin (19/10/2020), studi klinis telah mengungkapkan bahwa PPD mempengaruhi hingga 15 persen ibu.

Penelitian terbaru di lapangan menemukan bahwa ada berbagai faktor biologis dan psikologis yang menempatkan ibu hamil pada risiko lebih tinggi untuk mengembangkan PPD setelah melahirkan. Faktor utama yakni wanita yang tinggal di dalam kota serta ibu dari bayi prematur.

Dari beberapa kasus, depresi pasca melahirkan bisa berlangsung selama 7 bulan. Umumnya ini dikaitkan dengan banyak masalah sosial dan hubungan yang mungkin dihadapi seorang ibu. Beberapa ibu yang menderita PPD bahkan diketahui melakukan penyalahgunaan alkohol atau merokok tembakau.

Skrining universal ditetapkan sebagai pendekatan yang direkomendasikan untuk diadopsi untuk mendeteksi ibu baru yang mengalami PPD. Biasanya, PPD pada wanita kurang dikenali, dan telat ditangani.

PPD, bila tidak terdiagnosis dan tidak diobati, dapat menyebabkan efek merugikan jangka pendek maupun jangka panjang tertentu pada perkembangan anak yang terlibat. Sementara tingkat depresi tertentu setelah melahirkan biasanya lumrah dan umumnya tidak perlu dikhawatirkan, intervensi medis harus dicari ketika keadaan memburuk.

Uji klinis dan studi telah mengungkapkan berbagai faktor yang terkait dengan PPD pada wanita yang dapat diklasifikasikan ke dalam 5 domain faktor risiko. Berikut daftarnya :

1. Faktor psikologis

Riwayat kecemasan dan depresi sebelumnya adalah salah satu faktor utama yang umumnya terkait dengan peningkatan risiko PPD.

Depresi selama kehamilan tidak boleh diabaikan, karena ini bisa menjadi indikator yang kuat dari ibu yang mengalami depresi pascapartum pada akhirnya. Umumnya, wanita dengan depresi lebih rentan terhadap fluktuasi hormonal yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehamilan.

Penelitian telah menemukan bahwa riwayat sindrom pramenstruasi [PMS] mulai dari sedang hingga parah, mungkin menjadi salah satu faktor kunci yang mempengaruhi timbulnya PPD.

Selain itu, sikap negatif terhadap kehamilan atau riwayat pelecehan seksual di masa lalu juga ditemukan sebagai faktor predisposisi depresi pascapersalinan. Selain itu, harga diri yang rendah terkait kemampuan menangani stres dalam pengasuhan juga berkontribusi terhadap PPD.

2. Faktor risiko kebidanan

Secara umum, ditemukan bahwa wanita dengan 2 anak atau lebih memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami depresi, karena beban psikologis yang lebih tinggi.

Kehamilan berisiko juga dapat meningkatkan risiko wanita hamil mengembangkan PPD di kemudian hari. Risiko selama kehamilan seperti rawat inap saat hamil atau kemungkinan operasi caesar darurat juga dapat meningkatkan kecenderungan ibu baru untuk mengembangkan PPD.

Demikian pula, komplikasi pascapartum seperti perdarahan obstetrik, pengeluaran mekonium, berat lahir rendah pada bayi baru lahir, juga dapat menyebabkan PPD dalam beberapa situasi.

3. Faktor biologis

Telah ditemukan adanya hubungan langsung antara usia calon ibu dan risiko depresi. Sementara tingkat depresi tertinggi telah dilaporkan pada ibu dalam kelompok usia 19 tahun atau di bawahnya, tingkat depresi terendah terlihat pada ibu yang relatif lebih tua, yaitu antara usia 31 hingga 35 tahun.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada hampir 2.000 wanita pada 2 hingga 12 minggu setelah melahirkan, ditemukan bahwa semakin usia ibu dan efikasi diri ibu yang lebih baik, semakin rendah risiko pengembangan PPD.

Kadar glukosa yang lebih tinggi pada wanita hamil juga ditemukan memiliki pengaruh pada risiko mengembangkan PPD. Berbagai faktor lain yang mungkin mempengaruhi risiko PPD termasuk kadar triptofan, serotonin, oksitosin, dan estrogen dalam tubuh wanita hamil. Hubungan antara disfungsi tiroid dan PPD belum ditetapkan secara jelas.

4. Faktor Sosial

Dukungan sosial bagi ibu baru adalah dukungan finansial, kecerdasan, emosional, dan hubungan empati. Timbulnya depresi dan berbagai gangguan kecemasan pada ibu baru diketahui memiliki kaitan langsung dengan berkurangnya dukungan sosial bagi mereka.

5. Gaya Hidup

Faktor yang berkaitan dengan gaya hidup ibu seperti pola tidur, aktivitas fisik, olahraga, dan asupan makanan, mungkin berhubungan langsung dengan ibu yang mengalami depresi setelah melahirkan. Risiko PPD dapat dikurangi sebanyak 50 persen melalui konsumsi minyak zaitun, buah-buahan, sayuran, makanan laut, maupun produk susu.

Sebuah studi ekologi yang dilakukan pada peserta dari 23 negara menemukan bahwa peningkatan konsumsi makanan laut dapat menurunkan risiko depresi pascapartum.

PPD juga ditemukan terkait dengan penurunan asupan selenium dan seng oleh ibu selama kehamilannya. Latihan, melalui efek positifnya pada kondisi mental seseorang dengan peningkatan endorfin dan opioid endogen, mengarah pada penghapusan penilaian diri negatif bersamaan dengan meningkatkan kepercayaan diri ibu baru.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hamil melahirkan Depresi
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top