Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Anak Balita Resisten Terhadap Covid-19

Menurut hasil studi yang dirilis Rabu (21/10), ada tingkat penularan 6,1 persen di antara anak-anak yang terpapar kasus Covid-19 dari 137 rumah tangga yang disurvei. Tingkat penularan dari orang dewasa ke anak serupa terlepas dari jenis kelamin anak, dan risiko infeksi sekunder pada anak lebih tinggi jika pasien indeks Covid-19 adalah ibu dari anak tersebut.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 22 Oktober 2020  |  16:49 WIB
Ilustrasi - Webmd
Ilustrasi - Webmd

Bisnis.com, JAKARTA - Studi yang dilakukan oleh Rumah Sakit Wanita dan Anak di Singapura menyebut anak-anak di bawah usia lima tahun berada pada risiko terendah tertular Covid-19 dari orang dewasa. Hal ini karena mereka mungkin lebih resisten terhadap virus.

Menurut hasil studi yang dirilis Rabu (21/10), ada tingkat penularan 6,1 persen di antara anak-anak yang terpapar kasus Covid-19 dari 137 rumah tangga yang disurvei. Tingkat penularan dari orang dewasa ke anak serupa terlepas dari jenis kelamin anak, dan risiko infeksi sekunder pada anak lebih tinggi jika pasien indeks Covid-19 adalah ibu dari anak tersebut.

Kelompok termuda dari anak-anak yang terinfeksi, antara usia nol dan empat tahun, memiliki tingkat infeksi terendah yaitu 1,3 persen, dibandingkan dengan 8,1 persen untuk anak-anak yang lebih tua antara lima dan sembilan tahun, dan 9,8 persen untuk mereka yang berusia antara 10 dan 16 tahun, setelah seorang anggota rumah tangga terpapar Covid-19.

Dr Yung Chee Fu, konsultan di KKH's Infectious Disease Service, mengatakan tren ini mungkin disebabkan oleh peningkatan ekspresi reseptor enzim 2 pengubah angiotensin (reseptor yang digunakan Sars-CoV-2 untuk masuknya inang) di epitel hidung.

"Dengan bertambahnya usia, maka kemungkinan anak-anak yang lebih muda lebih resisten terhadap infeksi Sars-CoV-2 pada tingkat sel," ujarnya dilansir dari The Straits Times, Kamis (22/10/2020).

Sebuah studi terpisah terhadap 39 anak yang terinfeksi Covid-19 antara Januari dan Mei menemukan bahwa 38,5 persen anak tetap asimtomatik, sementara mereka yang bergejala tidak memiliki hasil yang lebih buruk dibandingkan dengan kasus asimtomatik.

Terdapat proporsi yang lebih besar dari anak-anak yang lebih muda yang ditemukan bergejala dibandingkan dengan yang lebih tua, dengan 75 persen anak-anak dari usia nol hingga empat tahun menunjukkan gejala dibandingkan dengan 53 persen pada anak-anak dari usia lima hingga sembilan tahun, dan 64 persen pada kelompok usia 10 sampai 16 tahun. Gejala umum termasuk demam ringan, pilek, sakit tenggorokan, diare, dan kehilangan penciuman atau rasa.

Viral load yang lebih tinggi ditemukan di nasofaring anak-anak yang bergejala, yang menunjukkan kemungkinan penularan yang lebih tinggi. Namun, anak-anak tanpa gejala dan gejala telah mengalami puncak viral load yang terjadi sekitar hari kedua hingga ketiga diagnosis mereka, menunjukkan pelepasan dan penularan virus pada fase pra-gejala.

Semua anak yang disurvei tinggal di rumah sakit selama rata-rata 15 hari. Mereka menderita penyakit ringan dan sudah dipulangkan.

Anak kecil mungkin bukan pendorong utama penularan Covid-19 di taman kanak-kanak Skrining anak-anak dari tiga kemungkinan penularan insiden Sars-CoV-2 di lingkungan pendidikan baik sekolah menengah dan pra-sekolah, tidak mendeteksi adanya bukti penularan Sars-CoV-2 di antara anak-anak. Kontak dekat dari dua siswa positif Covid-19 dari prasekolah dan yang lainnya dari sekolah menengah, telah dites negatif untuk Covid-19.

Sebaliknya, 16 anggota staf dewasa dari prasekolah, dan 11 kasus dari kontak rumah tangga mereka dinyatakan positif Covid-19, sementara tidak ada anak yang dites positif Covid-19 setelah skrining ekstensif.

Dr Yung mencatat bahwa manifestasi klinis Covid-19 pada anak-anak telah dilaporkan berkisar dari asimtomatik hingga sedang daripada parah, tetapi beban penyakit dan peran pediatrik dalam penularan komunitas sebagian besar masih belum diketahui.

Sebuah tinjauan yang dilakukan oleh rumah sakit juga menemukan bahwa metode pengujian non-invasif, seperti usap bukal, di mana DNA dikumpulkan dari dalam pipi seseorang, tidak cukup untuk menyaring Sars-CoV-2 pada anak-anak.

Demikian pula, pengujian air liur juga menemukan sensitivitas yang lebih buruk dan viral load yang lebih rendah pada anak-anak, menjadikan penyeka nasofaring (belakang hidung) dan orofaring (belakang tenggorokan) sebagai praktik terbaik untuk menguji Covid-19 pada anak-anak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Anak Balita
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top