Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Studi : Aspirin Tekan Risiko Kematian Pasien Covid-19

Pasien yang mengonsumsi aspirin juga berisiko lebih rendah komplikasi sementara peluang mereka untuk dirawat di unit perawatan intensif (ICU) dan penggunaan alat ventilator rumah sakit juga turun diungkapkan pada rilis berita UMSOM.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 26 Oktober 2020  |  14:17 WIB
Aspirin - Preeclampsia Foundation
Aspirin - Preeclampsia Foundation

Bisnis.com, JAKARTA - Peneliti dari University of Maryland School of Medicine (UMSOM) menemukan bahwa pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit dan mengonsumsi aspirin setiap hari untuk penyakit jantung memiliki risiko kematian yang lebih rendah daripada mereka yang tidak mengonsumsi aspirin.

Pasien yang mengonsumsi aspirin juga berisiko lebih rendah komplikasi sementara peluang mereka untuk dirawat di unit perawatan intensif (ICU) dan penggunaan alat ventilator rumah sakit juga turun diungkapkan pada rilis berita UMSOM.

Peneliti menemukan penggunaan aspirin dikaitkan dengan penurunan 44 persen risiko penggunaan ventilator, penurunan 43 persen dalam risiko masuk ICU dan yang terpenting penurunan risiko kematian di rumah sakit sebesar 47 persen.

Para pasien pada kelompok aspirin tidak mengalami peningkatan efek samping yang signifikan seperti pendarahan besar saat dirawat di rumah sakit hal ini dijelaskan dalam jurnal yang terbit pada 21 Oktober 2020 di Anesthesia & Analgesia.

Pada studi ini asisten profesor anastesiologi UMSOM, Dr. Jonathan Chow dan rekan-rekannya memilih 412 rekam medis pasien Covid-19 yang berusia rata-rata 55 tahun dan dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan terakhir karena komplikasi infeksi. Mereka dirawat di Pusat Medis UMSOM di Baltimore dan tiga rumah sakit lain di sepanjang Pantai Timur.

Sekitar seperempat dari pasien mengonsumsi aspirin dosis rendah setiap hari, biasanya 81 miligram sebelum mereka dirawat atau segera setelah masuk untuk pengobatan jantung.

Para peneliti mengendalikan beberapa faktor yang mungkin berperan dalam prognosis pasien termasuk usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, ras, hipertensi, dan diabetes. Mereka juga memperhitungkan penyakit jantung, penyakit ginjal, penyakit hati, dan penggunaan beta blocker untuk mengontrol tekanan darah.

Infeksi Covid-19 meningkatkan risiko penggumpalan darah berbahaya yanng dapat terbentuk di jantung, paru-paru, pembuluh darah dan organ lain. Komplikasi dari pembekuan darah dalam kasus yang jarang terjadi dapat menyebabkan serangan jantung, stroke, dan kegagalan berbagai organ serta kematian.

Aspirin dosis rendah sering direkomendasikan oleh dokter untuk pasien yang sebelumnya mengalami serangan jantung atau stroke yang disebabkan oleh pembekuan darah. Namun penggunaan aspirin sehari-hati dapat meningkatkan risiko pendaharahan besar atau penyakit tukak lambung.

"Ini adalah temuan kritis yang perlu dikonfirmasi melalui uji klinis acak. Jika temuan kami dikonfirmasi, itu akan membuat aspirin menjadi obat bebas pertama yang tersedia secara luas untuk mengurangi kematian pada pasien Covid-19," ungkap Chow, pemimpin studi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

obat Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top