Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pendapat Luhut dan Erick Thohir Soal Vaksin Covid-19 Pfizer

Luhut mengatakan perusahaan vaksin AS, Pfizer, akan bekerja sama dalam pengadaan vaksin dengan Bio Farma.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 25 November 2020  |  12:05 WIB
Vaksin Covid-19 buatan Pfizer. - Antara/Reuters
Vaksin Covid-19 buatan Pfizer. - Antara/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi dan Menteri BUMN Erick Thohir berbeda pendapat soal rencana pembelian vaksin covid-19 buatan Pfizer.

Luhut mengatakan perusahaan vaksin AS, Pfizer, akan bekerja sama dalam pengadaan vaksin dengan Bio Farma.

Dia juga mengatakan jika Amerika Serikat (AS) bersedia untuk membantu Indonesia dalam kerja sama pengadaan vaksin COVID-19.

Hal itu terungkap dalam pertemuan Menko Luhut Pandjaitan dengan Wakil Presiden AS Mike Pence di sela kunjungan kerjanya ke Amerika Serikat pekan lalu.

"Dengan Wakil Presiden Pence, saya berbicara hampir lebih 15 menit. Kami bicara akhirnya menyangkut masalah vaksin. Dan Amerika bersedia membantu vaksin," kata Menko Luhut Pandjaitan saat memberikan sambutan penutup dalam acara CEONetworking 2020 secara virtual, dikutip dari Antara.

Sementara itu, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan penentuan merek vaksin Covid-19 yang bakal dihadirkan di Indonesia adalah wewenang Kementerian Kesehatan. Namun, ia memastikan pilihan itu sesuai dengan daftar yang ada di Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dan sudah melalui uji klinis I dan II.

Selain itu, ketika akan dipergunakan vaksin Covid-19 juga harus seizin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). "Tentu sebagai catatan tambahan, vaksin yang akan dibeli pemerintah adalah vaksin yang bersahabat dengan distribusi kita, yaitu 2-8 derajat Celcius," ujar Erick dalam konferensi video, Selasa, 24 November 2020.

Pertimbangan rantai dingin tersebut pula yang membuat pemerintah mempertimbangkan vaksin yang dikembangkan Sinovac, Novavax, maupun AstraZeneca dan belum bisa memilih vaksin buatan Pfizer dan Moderna. "Itu karena rantai dinginnya minus 75 derajat Celcius, yang satu minus 20 derajat Celcius," tutur Menteri BUMN dikutip dari Tempo.

Erick mengatakan pemerintah harus membongkar sistem distribusi yang selama ini biasa dilakukan, apabila harus memilih vaksin dengan rantai dingin di bawah 2-8 derajat Celcius. Padahal, distribusi vaksin harus segera disiapkan.

"Kalau ini persiapan tiga tahun lagi mungkin berbeda. Ini kan persiapan harus dilakukan dan sistem distribusi kita sudah baik. Makanya vaksin yang dibeli harus yang rantai dinginnya bersahabat dengan Indonesia," ujar Erick.

Oleh karena itu, Erick menegaskan, pemerintah memiliki pertimbangan dalam memilih vaksin Covid-19 yang akan didatangkan ke Tanah Air. Pemerintah akan memilih vaksin yang sesuai dengan kebutuhan di Indonesia. "Jadi jangan berpikir pemerintah beli merek tertentu karena berbisnis, tidak," ujar dia.

Di samping menghadirkan vaksin impor, Erick Thohir memastikan pemerintah juga terus menggarap pengembangan vaksin dari dalam negeri, yaitu Vaksin Merah Putih. Sehingga, ke depannya, Indonesia tidak lagi bergantung kepada produk impor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Vaksin Covid-19

Sumber : Antara, Tempo

Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top