Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Distribusi Vaksin Virus Corona Tidak Merata, Bisa Sebabkan Kemunduran Hak Perempuan

Distribusi vaksin virus corona harus dilakukan secara merata untuk mencegah kecemasan dan kemunduran terhadap hak perempuan.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 22 Desember 2020  |  10:27 WIB
Penyebaran vaksin virus corona (Covid-19) yang melambat bisa sebabkan kemunduran hak perempuan - boldsky.com
Penyebaran vaksin virus corona (Covid-19) yang melambat bisa sebabkan kemunduran hak perempuan - boldsky.com

Bisnis.com, JAKARTA – Kegagalan mendistribusikan vaksin virus corona (Covid-19) yang aman dan efektif ke negara berpenghasilan rendah dan menengah dapat menyebabkan kemunduran yang mendalam terhadap hak-hak perempuan di negara-negara tersebut.

Dilansir dari Reliefweb, Selasa  (22/12/2020) penelitian oleh Plan International menemukan bahwa anak perempuan dan perempuan muda sangat rentan terhadap dampak sekunder Covid-19 yakni penurunan ekonomi, kehilangan pekerjaan, dan penutupan sekolah yang telah memperburuk ketidaksetaraan gender yang ada.

Damien Queally, direktur eksekutif program global untuk Plan International mengatakan pandemi telah mendorong negara miskin ke ambang bencana dengan perempuan yang menderita akibat dampak yang dihasilkan.

Mulai dari putus sekolah hingga pernikahan anak dan kekerasan seksual yang terjadi. Menurut Queally, tanpa distribusi vaksin virus corona baru yang adil, anak perempuan dan perempuan muda akan terus mengalami kerugian besar.

“Jika negara berkembang tidak dapat meluncurkan program vaksinasi Covid-19 dalam skala besar, banyak gadis dan wanita muda yang akan terus menghadapi bahaya yang terkait dengan penguncian. Ini akan menjadi langkah mundur yang besar untuk kesetaraan, dan oleh karena itu kami mendesak pemegang kekuasaan di seluruh dunia untuk memastikan akses yang adil ke vaksin,” katanya.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kekerasan berbasis gender telah melonjak selama pandemi dan dikhawatirkan ada tambahan 2 juta anak perempuan yang menjadi sasaran mutilasi tahun ini sebagai akibat dari putus sekolah dan gangguan program pencegahan.

Selain itu, juga dikhawatirkan kesulitan dalam mengakses alat kontrasepsi modern dapat mengakibatkan hingga 7 juta kehamilan yang tidak diinginkan selama enam bulan penguncian di berbagai negara, ditambah perkiraan 13 juta pernikahan anak.

Dalam survei terhadap 7.000 perempuan di 14 negara awal tahun ini, Plan International menemukan bahwa 9 dari 10 atau 88 persen perempuan pernah mengalami kecemasan selama pandemi, dengan angka yang lebih tinggi dari mereka yang ada di negara berpenghasilan rendah.

Untuk itu, Plan International mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk memastikan bahwa negara-negara berpenghasilan rendah menengah menerima pasokan vaksin Covid-19 yang memadai dan memasukkan kelompok rentan serta tersisih dalam kampanye vaksinasi.

Organisasi itu juga siap mendukung kampanye imunisasi dengan menggunakan jaringannya yang ada di sejumlah negara di Amerika Latin, Afrika, dan Asia untuk meningkatkan kesadaran dan mendukung fasilitas kesehatan dengan perlengkapan alat pelindung diri.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perempuan Virus Corona pandemi corona Adaptasi Kebiasaan Baru
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top