Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Stunting Masih Mengintai, Cukai Rokok Jadi Solusi

Kebiasaan merokok selalu identik dengan dampak negatif pada kesehatan pernapasan, jantung, hingga tingkat kesuburan baik pria maupun wanita. Sayangnya, serangkaian penyakit yang mengintai akibat kebiasaan merokok tidak hanya itu.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 28 Desember 2020  |  21:17 WIB
Ilustrasi stunting
Ilustrasi stunting

Bisnis.com, JAKARTA -- Mewujudkan cita-cita sumber daya manusia Indonesia unggul dan berdaya saing tampaknya masih akan melalui jalan panjang jika tak disertai intervensi yang kuat dalam mengatasi prevalensi kenaikan perokok.

Kebiasaan merokok selalu identik dengan dampak negatif pada kesehatan pernapasan, jantung, hingga tingkat kesuburan baik pria maupun wanita. Sayangnya, serangkaian penyakit yang mengintai akibat kebiasaan merokok tidak hanya itu. Masih ada ancaman yang sangat mempengaruhi kualitas SDM masyarakat yaitu stunting.

Apa hubungan merokok dengan stunting? Berdasarkan data dari Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia pada 2018 dan 2019 kenaikan jumlah perokok di Indonesia berbanding lurus dengan risiko kemiskinan dan stunting.

Pasalnya, jika ditilik dari sisi kesehatan, merokok sangat memberi dampak tidak hanya kepada perokok aktif melainkan juga perokok pasif yang dalam beberapa kasus dialami para ibu hamil

 

Masih dari data Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) yang dikutip Senin (28/12/2020), menemukan pada tahun 2020, tumbuh kembang anak yang memiliki orang tua perokok lebih lambat jika dibandingkan anak yang memiliki orang tua non perokok.

Pertumbuhan berat badan secara rata-rata lebih ringan 1,5 kg dan pertumbuhan tinggi badan (secara rata-rata) lebih rendah 0,34 cm sehingga kemungkinan stunting anak perokok 5,5 persen dibanding anak bukan perokok.

Dalam rangkaian acara Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) ke-6, dr. Tara Singh Bam selaku Deputi Direktur Regional The Union Asia Pacific mengatakan hadirnya pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia adalah momen yang tepat untuk mengatasi tingginya angka perokok dan dampaknya pada kualitas hidup manusia.

Kondisi ini mengingat Indonesia juga masih dihantui beragam penyakit gangguan pernapasan lain dengan prevalensi pasien yang cukup tinggi. Sebut saja misalnya tuberkulosis sebagai salah satu penyakit yang rentan dialami para perokok.

“Kondisi ini cukup banyak dialami di masyarakat Indonesia, karena bagaimanapun Indonesia adalah pasar tembakau yang besar. Harus ada upaya preventif lintas instansi untuk menanggulangi masalah kesehatan ini,” ujar Tara.

Salah satu yang paling menarik perhatian dari dampak kesehatan akibat merokok, Tara juga menyoroti kurangnya intervensi ketat pemerintah Indonesia selama ini dalam mengatur harga jual rokok.

Harga rokok di Indonesia yang terbilang murah membuat orang lebih memilih membeli rokok membuat akses untuk kebutuhan rumah tangga menjadi terhambat. Konsumsi rokok berhubungan secara signifikan dengan kemiskinan.

Oleh sebab itu seiring dengan mulai berlakunya kenaikan cukai rokok, Tara menilai hal ini adalah langkah strategis baru dari pemerintah Indonesia yang patut diacungi jempol.

Menurut Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr. Ede Surya Darmawan, langkah cukai rokok memang bisa menjadi solusi yang efektif. Meski demikian untuk mencegah konflik antar instansi dan sektor, perlu ada policy brief dalam menanggulangi masalah rokok.

Oleh sebab itu, selain upaya menjaga kesehatan masyarakat dengan mendorong kenaikan harga rokok, upaya lain yang tak boleh dilupakan adalah pendampingan masyarakat dan implementasi efektif kawasan tanpa rokok (KTR).

Hal ini penting untuk menjamin tidak hanya orang dewasa alias orangtua saja yang berhenti merokok, tetapi juga menekan potensi perokok anak sedini mungkin.

Menurut Leny N. Rosalin selaku Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, investasi pada kesehatan termasuk penurunan stunting dengan memperketat konsumsi rokok hanya satu dari serangkaian rencana mendorong pembangunan manusia.

“Memang stunting yang mengintai selama ini dari area perokok aktif membuat daya kognitif dan motorik pada anak bisa terganggu. Imbasnya inilah yang nanti saat besar rentan dengan penyakit metabolic, sampai diabetes, stroke, dan jantung,” jelas Leny.

Mengingat tingginya pula kerugian akibat stunting yakni 2 persen sampai 3 persen dalam Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, Leny mengingatkan agar segala upaya lintas instansi dalam skala kecil dan besar harus mampu terintegrasi dengan baik. Dengan begitu, ancaman stunting pada akibat merokok bisa ditekan dengan optimal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

stunting Cukai Rokok
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top