Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Virus Nipah Pandemi Berikutnya? Begini Kata Dokter

Nipah masuk dalam daftar 10 virus yang menjadi fokus perhatian Badan Kesehatan Dunia (WHO), dengan tingkat kematian penderita sekitar 40-75 persen.
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 28 Januari 2021  |  17:13 WIB
Virus Nipah
Virus Nipah

Bisnis.com, JAKARTA - Belum selesai dengan pandemi Covid-19, dunia perlu waspada dengan adanya potensi penularan virus Nipah.

Associate Professor dari Biotechnology, Department of Biochemistry, Faculty of Biotechnology and Biomolecular Sciences, Universiti Putra Malaysia, Bimo A.Tedjo, Ph.D, menjelaskan sejarah dari wabah virus Nipah itu sendiri.

Melalui akun Instagram miliknya, @ba.tejo, Bimo mengunggah informasi mengenai virus Nipah.

Bimo menjelaskan bahwa virus Nipah atau Nipah henipavirus masuk dalam daftar 10 virus yang menjadi fokus perhatian Badan Kesehatan Dunia (WHO), dengan tingkat kematian penderitanya berkisar antara 40-75 persen. Bahkan, virus Nipah menjadi insipirasi film Contagion (2011) yang berkisah tentang pandemi global.

Dalam unggahannya, Bimo memaparkan gejala virus Nipah muncul 4-14 hari setelah terinfeksi virus. Gejala tersebut diawali dengan demam, sakit kepala, sakit otot, sakit tenggorokan, dan muntah.

Apabila virus Nipah sudah terserang pada sistem saraf, terutama pada gejala berat, maka penderita akan mengalami koma. "Jika sistem saraf sudah terserang, maka muncul rasa pusing, kehilangan kesadaran, dan koma pada gejala berat," tulisnya.

Kasus virus Nipah sudah dilaporkan oleh beberapa negara, seperti Malaysia, India, dan Bangladesh. Malaysia menjadi negara pertama yang melaporkan kasus tersebut pada 1998 dengan jumlah 265 kasus dan 105 kematian.

Pada 1999, lanjutnya, penyakit misterius yang menyerang otak muncul di Kampung Sungai Nipah, Malaysia. "Seseorang bisa kelihatan sehat tetapi esoknya otaknya membengkak, lalu lumpuh atau koma," jelasnya.

Virus Nipah, oleh pemerintah Malaysia, sempat dikira berasal dari nyamuk. Akan tetapi, Kaw Bing Chua, seorang dokter dari Universiti Malaya, tidak percaya dengan teori tersebut.

Chua melihat tidak ada penduduk muslim yang tertular penyakit tersebut. Hanya yang bukan muslim dan tinggal berdekatan dengan peternakan babi.

Kemudian, Chua membawa sampel virus tersebut ke laboratorium Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Colorado, Amerika Serikat.

Virus yang terlihat di mikroskop membuat semua orang terkejut. Pasalnya, yang terlihat adalah virus jenis paramyxovirus, yang biasanya ada di hewan.

Lalu, Chua menelepon pemerintah Malaysia untuk berhenti membasmi nyamuk dan segera membasmi babi.

"Pemerintah Malaysia mengambil tindakan drastis dengan mengirim tentara untuk mengisolasi Kampung Sungai Nipah dan membunuh 1 juta ekor babi," tulisnya dalam unggahan tersebut.

Pembasmian tersebut pun membuat semua peternakan babi di Kampung Sungai Nipah ditutup hingga sekarang. Sebelum wabah virus Nipah, wilayah tersebut adalah pusat peternakan babi terbesar di Malaysia.

"Diduga kuat virus Nipah berasal dari kelelawar dan mampir di babi sebelum menulari manusia," katanya.

Mengutip data dari WHO, Bimo mengatakan bahwa kelelawar buah dari kelompok Pteropodidae adalah pembawa utama virus Nipah. Bimo menambahkan, bahwa virus Nipah dapat langsung menular dari hewan ke manusia. Bahkan, penularan antar manusia juga dilaporkan terjadi.

Tingkat kematian dari virus Nipah sangat tinggi, sebab menyerang bagian otak. Hingga saat ini, virus Nipah belum ditemukan obat atau pun vaksin. "Belum ada obat dan vaksin untuk virus Nipah," pungkasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

virus Covid-19 virus nipah
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top