Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

7 Tips untuk Atasi Klaster Keluarga Virus Corona

Klaster keluarga virus corona (Covid-19) di Indonesia semakin banyak. Pihak yang paling rentan adalah lansia dan orang dengan penyakit penyerta.
Laurensia Felise
Laurensia Felise - Bisnis.com 18 Februari 2021  |  19:23 WIB
Tata cara memakai masker baik dan benar. Masker harus tetap digunakan saat tamu mengunjungi rumah -  Freepik
Tata cara memakai masker baik dan benar. Masker harus tetap digunakan saat tamu mengunjungi rumah - Freepik

Bisnis.com, JAKARTA – Kasus positif virus corona (Covid-19) klaster keluarga yang meningkat menjadi kekhawatiran masyarakat seiring dengan banyaknya masyarakat yang mulai keluar rumah untuk beraktivitas.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta pada Januari 2021 lalu, setidaknya ada 612 orang yang masuk ke dalam klaster keluarga Covid-19 dari total kasus konfirmasi positif virus corona sebanyak 1.663 orang.

Peningkatan kasus ini sendiri menjadi kekhawatiran masyarakat karena rumah yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan menjadi tempat berlindung justru juga bisa menjadi salah satu sumber penularan.

Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam asal Surabaya, RA Adaninggar, hal ini merupakan hal yang wajar karena berada di dalam rumah memungkinkan orang-orang untuk kurang waspada daripada ketika berada di luar rumah.

Dalam siaran langsung Instagram bersama dengan konselor laktasi Citra Ayu Mustika, Rabu (18/02/2021), dokter yang disapa sebagai Ning itu juga berbagi beberapa tips dan informasi terkait klaster keluarga Covid-19.

1. Jangan merasa aman ketika berada di rumah

Ning menegaskan pentingnya untuk tidak memiliki pemikiran bahwa berada di rumah berarti sudah merasa aman. Ia beralasan bahwa yang penularan yang sering terjadi adalah ketika ada keluarga yang saling mengunjungi satu sama lain.

2. Lebih hati-hati saat di rumah

Ia juga mengimbau untuk berusaha meminimalkan risiko penularan, terutama sehabis bepergian dari luar rumah dan ketika menyambut tamu dari luar rumah. Beberapa upaya minimal yang bisa dilakukan dan dibiasakan misalnya dengan membersihkan diri sesaat setelah sampai di rumah dan memakai masker ketika ada tamu dari luar rumah.

“Salah satu rekomendasi kapan kita masker itu kalau ada tamu di rumah, artinya dia tidak satu rumah dengan kita tapi dia sering di situ atau mengunjungi kita,” jelasnya.

3. Tunggu sampai benar-benar sembuh

Meski panduan resmi terkait rekomendasi ahli untuk hubungan suami istri belum ada, ia tetap menyarankan kepada pasangan suami istri untuk menunda kegiatan tersebut dengan berpegang pada panduan resmi terkait kriteria kesembuhan setelah melewati masa penularan 10-14 hari.

“Bukan [tes] swab harus negatif tapi paling nggak sudah melewati masa penularan karena dia kalau sudah melewati masa penularan, dia sudah sembuh, gejala sudah hilang, dia [sudah bisa] dikatakan sembuh. Kalau sudah sembuh nggak apa-apa,” tambahnya.

4. Jangan anggap sepele isolasi mandiri

Menurutnya, isolasi mandiri bagi kasus terjangkit tanpa gejala atau ringan yang salah merupakan salah satu penyumbang terbesar klaster keluarga. Penyebabnya adalah ketika seseorang tetap melakukan interaksi dengan anggota keluarga yang lain di tengah masa isolasi mandiri. Ia menekankan pentingnya pemusatan aktivitas di suatu tempat yang terpisah dari anggota yang lain terutama untuk kamar tidur.

5. Karantina bagi anggota keluarga dengan kontak erat

Terkait dengan karantina, ia menegaskan perlunya waktu 10-14 hari untuk tidak keluar dari rumah setelah adanya kasus anggota keluarga yang positif Covid-19. Tetapi ia tidak mengharuskan anggota yang melakukan karantina untuk melakukan tes swab jika selama periode itu tidak ada gejala.

“Negatif kalo mau tes gapapa tapi takutnya kalau hasilnya keluar malah bilang nggak apa2 dan malah keluar dari karantina,” ujarnya.

Ia kemudian menerangkan bahwa meski dinyatakan negatif, masa inkubasi Covid-19 masih berjalan sampai dua minggu dan belum tentu selama itu akan terus sama.

6. Utamakan protokol kesehatan

“Jadi intinya protokol kesehatan itu usaha mencegah infeksi, minimal mengurangi jumlah virus yang masuk. pertama masker, 5M itu semuanya tujuannya untuk mengurangi, tapi yang jangan dilupakan adalah aktivitas kita selama ini,” katanya.

RA Adaninggar juga mengimbau perlunya tindakan ekstra bahkan dengan anggota keluarga lain sekalipun dan tidak lupa untuk menjaga kesehatan imun bersamaan dengan protokol kesehatan yang ada misalnya dengan makan-makanan yang bergizi dan tetap berolahraga.

7. Tidak apa-apa kalau tidak minum vitamin

Makanan yang bergizi menjadi poin penting dalam menjaga kesehatan tubuh. Dia beranggapan hal yang terpenting adalah memperbanyak konsumsi sayur dan buah yang tinggi akan kandungan vitamin dan antioksidan.

“Lihatlah di piringnya, kalau mau ngasih anak kita atau suami kita, kalau piring kita warnanya cuma putih sama coklat artinya kan nasi sama lauk ya. Itu berarti belum sehat. Kalau mau yang sehat piringnya harus warna warni, ada sayurnya, ada buahnya. Gitu aja,” tambahnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

keluarga Virus Corona Covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top