Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Eijkman: Rekombinasi Varian Corona Pengaruhi Diagnostik dan Pengembangan Vaksin Covid-19

RBD menjadi target utama dalam pencegahan dan pengobatan infeksi virus termasuk virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19 sehingga jika terjadi perubahan signifikan pada RBD, kata dia, maka dapat memengaruhi karakteristik virus, dan berdampak pula pada aspek pengembangan vaksin COVID-19 agar tetap manjur.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 25 Februari 2021  |  10:59 WIB
Petugas medis memasukkan sampel tes usap seorang pasien dalam kunjungan pemeriksaan kesehatan ke rumah-rumah di New York, AS, Selasa (4/8/2020). - Bloomberg/Angus Mordant
Petugas medis memasukkan sampel tes usap seorang pasien dalam kunjungan pemeriksaan kesehatan ke rumah-rumah di New York, AS, Selasa (4/8/2020). - Bloomberg/Angus Mordant

Bisnis.com, JAKARTA - Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan rekombinasi beberapa varian virus corona bisa berpengaruh pada aspek diagnostik dan pengembangan vaksin COVID-19.

"Kalau terjadi perubahan pada RBD (receptor-binding domain) yang menjadi vaksin maka bisa saja vaksinnya tidak efektif. Tidak hanya vaksin ya... diagnostik juga begitu bisa saja memengaruhi," katanya dikutip dari Antara.

Ia mengatakan domain pengikat reseptor (RBD) adalah bagian penting dari virus yang terletak di protein "spike" yang memungkinkan virus melekat pada reseptor tubuh untuk masuk ke dalam sel dan menyebabkan infeksi.

RBD menjadi target utama dalam pencegahan dan pengobatan infeksi virus termasuk virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19 sehingga jika terjadi perubahan signifikan pada RBD, kata dia, maka dapat memengaruhi karakteristik virus, dan berdampak pula pada aspek pengembangan vaksin COVID-19 agar tetap manjur.

Amin mengatakan rekombinasi beberapa varian SARS-CoV-2 membentuk varian baru sangat mungkin terjadi, meskipun saat ini belum ada laporan ilmiah bahwa telah terjadi rekombinasi beberapa varian SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19.

Ia mengatakan apabila dua varian virus hidup berdampingan, sangat dimungkinkan terjadi penggabungan antara materi genetik dari keduanya.

"Saat ini, yang diidentifikasi adalah munculnya varian baru karena mutasi saja," katanya.

Mutasi, kata dia, dapat menyebabkan dampak negatif atau positif pada virus. Dampak negatifnya adalah membuat virus menjadi lemah yang pada akhirnya bisa tereliminasi dari proses seleksi lingkungan karena hanya virus yang kuat yang mampu melewati proses seleksi dan akan tetap bertahan.

Sementara dampak positif bagi virus adalah membuat virus semakin kuat, memungkinkan virus lebih cepat menular dan meningkatkan keparahan penyakit.

Jika virus bisa lolos dari tekanan lingkungan dan seleksi antibodi dari vaksinasi, katanya, maka semakin lama virusnya semakin kuat dan bisa melepaskan diri dari tekanan vaksin. Itu menyebabkan virus bisa resisten tehadap antibodi yang diciptakan dari vaksin, dan ini menjadi tantangan baru.

"Kejadian tersebut terjadi pada virus influenza," katanya.

Oleh karena itu, vaksin untuk mencegah infeksi virus influenza harus disesuaikan secara berkala dan perlu dipastikan setelah dua atau tiga tahun virus yang beredar itu masih sama seperti dulu atau tidak. Jika sudah berubah dan membawa dampak signifikan, maka vaksin yang dipakai harus diubah juga, demikian Amin Soebandrio.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

eijkman Vaksin Covid-19

Sumber : Antara

Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top