Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Obat Antiplatelet dan Statin Bahaya, Cuma Hoax?

Vaksinasi untuk menghentikan penyebaran Covid-19 memicu sentimen dari beberapa masyarakat. Salah satunya kabar untuk tidak mengonsumsi kelompok obat antiplatelet atau obat clopidogrel dan statin. Obat tersebut disinyalir dapat mengganggu efektivitas vaksin.
Janlika Putri Indah Sari
Janlika Putri Indah Sari - Bisnis.com 05 Maret 2021  |  15:12 WIB
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meninjau Vaksinasi tahap II yang dilaksanakan di RST Wiratamtama dan RSUD Tugurejo Semarang, Rabu (3/3/2021). - Istimewa/Dok Pemprov Jateng
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meninjau Vaksinasi tahap II yang dilaksanakan di RST Wiratamtama dan RSUD Tugurejo Semarang, Rabu (3/3/2021). - Istimewa/Dok Pemprov Jateng

Bisnis.com, JAKARTA — Vaksinasi yang sedang dilakukan untuk menghentikan penyebaran Covid-19 memicu sentimen dari beberapa masyarakat. Salah satunya kabar untuk tidak mengonsumsi kelompok obat antiplatelet atau obat clopidogrel dan statin. Obat tersebut disinyalir dapat mengganggu efektivitas vaksin.

Namun hingga kini pernyataan itu tidak berdasar, ya, karena belum ada bukti ilmiahnya.

R.A. Adaninggar, dokter spesialis penyakit dalam, menjelasakan bahwa imbauan untuk menghentikan pengunaan obat tersebut bukan karena kontra indikasi pada vaksin, namun untuk mengurangi risiko pendarahan.

“Pengaruh statin pernah diteliti pada vaksinasi influenza lansia, hasilnya mempengaruhi imun pada vaksin. Namun belum bisa disimpulkan pasti sebab akibatnya karena sebenarnya interaksi antara statin, sistem imun, dan penyakit sangatlah kompleks. Saat ini belum ada penelitian statin pada vaksinasi Covid,” tulisanya di instagram miliknya @ningzsppd.

Antiplatelet dan statin merupakan jenis obat pengencer darah yang biasa digunakan oleh penderita stroke dan penyakit jantung, terutama penyakit jantung koroner. Obat ini digunakan untuk mencegah penggumpalan darah apabila penyempitan pembuluh darah di tungkai.

Dokter muda itu mengimbau selama belum ada bukti ilmiahnya, obat tetap diminum atau tidak dengan mempertimbangkan manfaat dan risikonya.

“Kalau risiko setop obat jauh lebih besar misalnya bisa berbahaya dari segi penyakit jantung atau kolesterolnya maka obat tidak perlu disetop. Boleh konsultasi ke dokter yang memberikan obat tersebut,” tutupnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

penyakit jantung vaksinasi
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top