Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ada Embargo India, Jadwal Vaksinasi di Indonesia Mundur

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada akhir pekan lalu mengatakan bahwa jumlah vaksin Indonesia pada April menjadi terbatas karena ada embargo dari India, sebagai negara terbesar pembuat vaksin AstraZeneca.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 29 Maret 2021  |  17:40 WIB
Vaksin Covid-19 AstraZeneca.  - Bloomberg
Vaksin Covid-19 AstraZeneca. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada akhir pekan lalu mengatakan jumlah vaksin Indonesia pada April menjadi terbatas karena ada embargo dari India, sebagai negara terbesar pembuat vaksin AstraZeneca.

Dengan tertundanya pengiriman ini, jadwal vaksinasi khususnya kepada masyarakat umum menjadi mundur.

Juru Bicara Vaksinasi dari Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan rencana awal sekitar Mei 2021, pemerintah akan memulai vaksinasi kepada masyarakat umum dalam jumlah terbatas.

"Akan tetapi adanya kondisi ini, paling cepat memulai vaksinasi kepada masyarakat sekitar Juni (2021)," ujarnya saat dihubungi Bisnis, Senin (29/3/2021).

Dia menerangkan rencana awal pada April Indonesia akan memiliki 15 juta dosis vaksin yang disuplai dari AstraZeneca dan PT Bio Farma yang memproduksi bibit vaksin dari Sinovac.

Adapun saat ini Bio Farma sedang memproduksi 27 juta dosis vaksin jadi. Namun karena dalam produksi membutuhkan waktu, akhirnya hanya 7 juta dosis yang siap digelontorkan pada April 2021. "Ternyata di April, rencana 15 juta tidak terpenuhi karena tertunda pengirimannya ke Indonesia," tuturnya.

AstraZeneca pada awalnya berkomitmen mengirim 3 juta vaksin, namun nyatanya hanya 1,1 juta dosis yang didistribusikan pada awal Maret lalu. Sisanya 1,9 juta dosis janji akan dikirim akhir Maret atau April. Sayangnya ini tertunda karena India sebagai negara produsen terbesar vaksin ini menghentikan sementara pengiriman vaksin karena kasus positif Covid-19 di wilayah tersebut meningkat.

Hal ini berdampak terhadap kecepatan vaksinasi yang saat ini sudah berjalan. Dikatakannya, penyuntikan vaksin saat ini telah mencapai 500.000 dosis per hari. Adapun selama Januari hingga Maret ini, pemerintah sudah mendistribusikan 20 juta dosis vaksin.

"Bayangkan nanti di April kalau separuhnya, 7 juta vaksin, kecepatan dosis akan terjadi perlambatan karena jumlah vaksin yang terbatas pada bulan tersebut," bebernya.

Oleh karena itu, pemerintah katanya menetapkan skala prioritas dengan sisa vaksin yang ada. "Kita harus memastikan 7 juta vaksin akan diprioritaskan ke lansia dan guru," tegas Nadia.

Untuk selanjutnya, pemerintah akan menunggu dosis vaksin AstraZeneca yang katanya akan dikirimkan pada Mei dan vaksin lainnya yang akan dikirim dalam jumlah besar sekitar Juli 2021.

"Novovax akan ada di Juni itu hanya 600.000 dosis, sangat kecil. Dengan kecepatan vaksinasi kita, itu hanya 1 hari selesai," imbuhnya.

Di samping itu, Bio Farma akan terus meningkatkan kapasitas produksi vaksin Sinovac. Perusahaan farmasi milik pemerintah itu rencananya akan membuka pabrik baru untuk meningkatkan kapasitas pembuatan vaksin Sinovac tersebut.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vaksinasi AstraZeneca
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top