Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tips untuk Orangtua yang Mengasuh Anak Autis

Diah mengingatkan orangtua agar mengetahui batas ekspektasi itu, agar tidak menguras energi, salah satunya adalah dengan menjadi realistis.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 09 April 2021  |  11:50 WIB
Ilustrasi- Anak yang mengidap autis. - Antara
Ilustrasi- Anak yang mengidap autis. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Psikolog Diah A. Witasari mengatakan bahwa, orangtua yang merawat anak autisme perlu memperhatikan dan menyayangi diri sendiri. Salah satu caranya adalah dengan "me time" atau meluangkan waktu beristirahat sejenak.

"Kalau bicara tips, carilah cara untuk tetap positif. Mungkin perlu cek apa yang bisa buat kita rileks. Kita perlu me time juga untuk diri kita sendiri," kata Diah melalui siaran Instagram Live bersama Tentang Anak dan Yayasan MPATI dikutip pada Jumat (9/4/2021).

Wanita yang juga merupakan seorang ibu dari putra berkebutuhan khusus itu mengatakan, bahwa pada era dengan teknologi canggih seperti saat ini juga semakin mempermudah akses bagi orangtua untuk berbagi dengan sesamanya.

 Jadi, ketika merasa lelah, bisa mencari dukungan dari orang lain melalui komunitas di media sosial, misalnya.

"Ayah dan bunda tidak sendiri. Zaman sekarang sudah beda dengan zaman saya dulu, pun dengan peran komunitas. Kondisi orang tua akan mempengaruhi anak juga. Jadi, jangan lupa untuk peduli sama diri sendiri juga. Jangan lupa untuk sayangi diri kita sendiri," kata Diah.

Bicara soal hubungan anak dan orangtua, lanjut dia, tidak lepas dengan adanya ekspektasi tertentu terhadap anak. Pun orang tua dengan anak autisme.

Diah mengingatkan orangtua agar mengetahui batas ekspektasi itu, agar tidak menguras energi, salah satunya adalah dengan menjadi realistis.

Diah memaparkan, kebutuhan seorang anak -- terutama anak yang menyandang autisme, berbeda-beda. Begitu pula dengan bagaimana tumbuh kembang buah hati, yang dalam hal ini mungkin tidak bisa diukur dengan batasan umur.

"Bicara soal ekspektasi, kita harus realistis. Kita realistis terhadap tumbuh kembang anak, kebersamaan, fokus, dan risikonya. Itu semua dilakukan sambil jalan. Anak itu unik, dia punya proses berkembang sendiri, dan punya keistimewaan sendiri. Ruang itu perlu diisi dengan ekspektasi yang realistis," jelasnya.

"Itu semua berangkat dari diri kita sendiri, melihat bagaimana anak bertemu potensi, kelebihan dia apa. Yang menjadikan melelahkan adalah kita punya ekspektasi tinggi, dan itu boleh-boleh saja, tapi harusnya disesuaikan dengan keadaan. Wajar kalau orang tua punya rencana tertentu. Boleh sedih, tapi bangkit lagi," imbuhnya.

Menutup diskusi, Diah mengingatkan orangtua untuk terus berpikir positif.

"Stay positive, karena energi itu yang akan membantu kita mikir alternatif lain apa yang bisa kita lakukan selanjutnya," pungkasnya.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

autis autisme anak

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top