Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Virus Corona Mutasi, Eijkman: Belum Ada Arahan WHO untuk Ubah Vaksin

Semakin virus menyebar, semakin cepat bereplikasi dan bermutasi, sehingga bisa mempengaruhi vaksin atau bias resisten terhadap imun.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 28 April 2021  |  09:57 WIB
Menteri Kesehatan RI Budi Sadikin Gunadi menunjukkan vaksin AstraZeneca di Surabaya, Selasa (23/03/2021). - Antara
Menteri Kesehatan RI Budi Sadikin Gunadi menunjukkan vaksin AstraZeneca di Surabaya, Selasa (23/03/2021). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Mutasi Virus Corona yang menjadi salah satu penyebab lonjakan kasus di India, B117, sudah ada di Indonesia.

Namun, ahli menyebut belum ada perubahan aturan terkait penanganan dan vaksin dari WHO.

Sebelumnya, pada konferensi pers Senin (26/4/2021), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa sudah ada 10 kasus yang terpapar Virus Corona varian B117.

“Mutasi virus yang ada di India sudah masuk di Indonesia, ada 10 orang, 6 di antaranya impor dan 4 di antaranya transmisi lokal. 2 di sumatra, 1 di Jawa barat, 1 di Kalsel. Untuk provinsi-provinsi ini kita harus jadi lebih sangat hati-hati,” kata Budi.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Soebandrio mengatakan bahwa untuk antisipasi masuknya mutasi virus, salah satunya dengan meningkatkan kapasitas Whole Genome Sequencing (WGS).

“Jadi lebih banyak virus yang disequence supaya bisa terdeteksi kalau memang ada varian atau mutant. Karena ketahuannya cuma dari situ,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (27/4/2021).

Pasalnya, semakin virus menyebar, semakin cepat bereplikasi dan bermutasi, sehingga bisa mempengaruhi vaksin atau bias resisten terhadap imun.

“Pada umumnya varian-varian yang ada itu memang ada 3 perubahan, cepat menular, tidak terdeteksi PCR, atau escape dari vaksin. Namun, untuk vaksin, selama efikasi vaksin masih di atas 50 persen sesuai pedoman WHO, vaksin masih bisa dipergunakan,” ujarnya.

Amin mengatakan, terkait banyaknya mutasi yang sudah ditemukan, saat ini belum ada arahan dari WHO untuk mengubah vaksin.

Untuk yang dikembangkan di Indonesia seperti Merah Putih pun belum melakukan uji sampai ke mutasi-mutasi vaksin.

“Kebetulan juga karen uji klinisnya belum mulai,” kata Amin.

Salah satu antisipasinya paling ampuh yang bisa dikerjakan bersama adalah menjaga diri dengan protokol kesehatan, menggiatkan vaksinasi, menggiatkan kontak tracing dan WGS.

Pada awal 2021, kasus di India sempat turun drastis sampai per harinya hanya 5.000 kasus per hari, kemudian naik sampai jadi 350.000 kasus per hari.

Menkes Budi mengatakan hal itu disebabkan mutasi baru yang masuk B117 dan ada mutasi lokal B1617, serta tidak konsisten menjalankan protokol kesehatan.

“Karena sudah merasa kasus turun dan vaksinasi cukup cepat, mereka lengah. Makanya keseimbangan yang sudah ada sekarang sudah paling bagus, dan harus kita jaga, ada PPKM mikro, protokol kesehatan, kecepatan vaksinasi,” ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

eijkman Virus Corona Vaksin Covid-19
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top