Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Alasan Ibu Hamil Tidak Boleh Donor Plasma Darah Untuk Pasien Covid-19

Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang sedang hamil atau multipara (kelahiran lebih dari satu anak) dikecualikan dari daftar donor plasma. Hal ini karena adanya risiko tinggi trali yang disebabkan oleh antibodi terhadap human leucocyte antigen (HLA).
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 28 April 2021  |  16:13 WIB
Ilustrasi ibu hamil
Ilustrasi ibu hamil

Bisnis.com, JAKARTA - Terapi plasma darah dianggap efektif untuk mengatasi pasien Covid-19 dengan gejala berat atau dalam masa kritis. Namun, tidak sembarang orang bisa melakukan donor plasma, termasuk ibu hamil.

Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang sedang hamil atau multipara (kelahiran lebih dari satu anak) dikecualikan dari daftar donor plasma. Hal ini karena adanya risiko tinggi trali yang disebabkan oleh antibodi terhadap human leucocyte antigen (HLA).

Sindrom fatal ini meningkatkan gejala seperti hipoksia (rendahnya kadar oksigen), sesak napas, hingga menghasilkan trauma paru-paru, dan bentuk cedera paru-paru lainnya.

"Secara teoritis, disimpulkan bahwa antibodi HLA dan leukosit yang dihasilkan selama kehamilan dapat bertanggung jawab atas pengembangan kondisi paru-paru," tulis situs kesehatan Boldsky, dilansir Bisnis, Rabu (28/4/2021).

Trali adalah singkatan dari cedera paru akut terkait transfusi dan disebabkan oleh antibodi anti-leukosit. Ini adalah kondisi yang tidak biasa yang memicu kegagalan pernapasan dalam beberapa jam setelah mendapatkan plasma darah yang ditransfusikan. Dalam beberapa kasus, pengembangan kegagalan pernapasan juga dapat ditunda.

Untuk mendiagnosis Trali, seharusnya tidak ada cedera paru akut penerima sebelum transfusi. Adapun gejalanya seperti dispnea (sesak napas) dan tachypnea (napas tersengal) terjadi dalam waktu enam jam dari transfusi plasma. Namun terkadang gejalanya dapat terjadi dalam waktu 6-72 jam.

Jika kegagalan pernapasan terjadi selama terapi plasma, transfusi harus segera dihentikan dan bank darah harus diperingati untuk menyaring antibodi HLA dalam donor.

Metode ventilasi harus diimplementasikan untuk meningkatkan oksigenasi penerima. Pemberian obat lain untuk mencegah komplikasi terkait dengan infeksi paru-paru juga diperlukan. Setelah menghentikan transfusi, pemulihan dapat terjadi dalam 2-4 hari.

Sementara itu, walaupun tidak bisa melakukan donor, wanita hamil yang terinfeksi Covid-19 dapat menerima terapi plasma darah.

Terapi plasma konvalesen tersebut dapat meningkatkan kondisi ibu dan mengurangi kemungkinan risiko persalinan caesar prematur dan gejala covid-19 lainnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

darah hamil Covid-19
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top